The 13th Warrior, Kisah Utusan Khalifah di Tanah Viking

Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com


Dari Baghdad ke Tanah Viking: Kisah Tak Terduga Utusan Khalifah yang Menguak Misteri Utara

Bayangkan perjalanan darat dan sungai sejauh ribuan kilometer pada abad ke-10, melintasi padang pasir yang membakar, stepa yang luas, hingga tiba di tanah asing yang dihuni bangsa berkulit putih dengan rambut pirang dan adat yang menggetarkan.

Inilah petualangan nyata Ahmad bin Fadhlan, duta Khalifah Abbasiyah, yang laporannya menjadi jendela langka dunia Viking Timur (Rus) dan menjadi inspirasi sastra hingga Hollywood.

Nama Ahmad bin Fadhlan mungkin tidak setenar Ibnu Batutah, namun catatan perjalanannya yang singkat dan spesifik menyimpan gambaran luar biasa tentang salah satu bangsa paling misterius dan memikat dalam sejarah Eropa yaitu Viking.

Diutus oleh Khalifah al-Muqtadir Billah pada tahun 921 M, misi resminya adalah menemui penguasa Volga Bulgaria, tetapi takdir membawanya lebih jauh, bertemu dengan para pedagang-prajurit dari Utara yang dikenal sebagai Rus.

Sang Utusan: Siapakah Ahmad bin Fadhlan?

Asal dan Peran

Ahmad bin Fadhlan bin al-Abbas bin Rasyid bin Hammad adalah seorang pejabat istana Abbasiyah di Baghdad.

Ia dikenal sebagai seorang faqih (ahli hukum Islam) dan kâtib (sekretaris/penulis).

Keahliannya dalam tulis-menulis dan pemahaman agamanya membuatnya cocok untuk misi diplomatik yang kompleks.

Misi Resmi

Khalifah al-Muqtadir mengutusnya memimpin delegasi sebagai tanggapan atas permintaan Raja Volga Bulgaria, Almış (atau Ilteber), yang telah memeluk Islam.

Raja meminta bantuan keuangan untuk membangun benteng dan mengirim ulama untuk mengajarkan hukum Islam kepada rakyatnya yang baru memeluk Islam.

Perjalanan Berliku

Delegasi berangkat dari Baghdad pada 21 Juni 921 M. Rute mereka melelahkan melintasi Iran (Rayy, Nishapur), Asia Tengah (Bukhara, Khwarazm), menyusuri Sungai Oxus (Amu Darya), menyeberangi Laut Kaspia, dan akhirnya menyusuri Sungai Volga. Mereka tiba di Volga Bulgaria pada 12 Mei 922 M.

Pertemuan dengan Bangsa Rus: Gambaran Mata Pertama yang Menggetarkan

Selama berminggu-minggu tinggal di tepi Sungai Volga, khususnya di dekat kota Bulgar (ibu kota Volga Bulgaria),

Ibn Fadhlan berkesempatan untuk berinteraksi dan mengamati secara langsung kelompok bangsa Rus yang datang untuk berdagang.

Catatannya (dikenal sebagai “Risālah” atau “Laporan”) memberikan deskripsi etnografis yang sangat detail dan hidup tentang:

Penampilan Fisik yang Mengagumkan:

“Mereka setinggi pohon kurma, pirang, kemerah-merahan.” (Menggambarkan postur tinggi tegap, rambut pirang, dan kulit kemerahan yang khas).

“Setiap orang laki-laki memakai jubah yang disematkan pada satu bahu, sehingga satu tangan bebas.” (Menggambarkan gaya berpakaian praktis mereka, mungkin seperti jubah atau mantel yang disematkan dengan bros).

“Mereka bertato dari ujung kuku hingga ke leher; (bertato) pohon, gambar, dan lain-lain.” (Menggambarkan praktik tato yang luas dan rumit, ciri budaya Norse).

“Setiap orang wanita mengenakan di dadanya sebuah kotak yang terbuat dari besi, perak, tembaga, atau emas… yang nilainya sesuai dengan kekayaan suaminya.” (Menggambarkan bros hiasan dada yang khas wanita Viking).

Kebersihan dan Ritual yang Tak Lazim:

Ibn Fadhlan sangat terkejut dengan kebiasaan mandi pagi harian mereka di sungai yang dingin membeku.

Ia menyebut mereka sebagai “makhluk kotor yang tidak pernah bersuci setelah buang air besar atau kecil, juga tidak mandi setelah junub (berhubungan seksual)… namun mereka mencuci wajah dan kepala mereka setiap hari dengan cara yang paling kotor dan tidak bersih yang bisa dibayangkan.”

Ini menunjukkan perbedaan budaya yang ekstrem dalam konsep kebersihan; mandi rutin dianggap penting oleh Rus, tetapi ritual bersuci Islam tidak mereka kenal.

Pemujaan

Ia menggambarkan bagaimana mereka menyembah berhala dan mempersembahkan kurban, termasuk kepada dewa tertinggi yang dia sebut “Allah yang Agung”. (Mungkin merujuk pada dewa Odin atau Thor).

Ritual Penguburan Kapal yang Mencekam

Deskripsi Ibn Fadhlan tentang penguburan seorang pemimpin Rus (bangsawan) adalah salah satu bagian paling terkenal dan dramatis dalam laporannya.

Ia menceritakan secara rinci prosesi selama 10 hari, pengorbanan hewan, pembunuhan seorang budak wanita secara ritual untuk menemani tuannya di alam baka, dan akhirnya pembakaran jenazah bersama kapal di atas tumpukan kayu.

Deskripsi grafis tentang perbudakan dan pengorbanan manusia ini memberikan bukti langsung tentang praktik yang diduga kuat ada dalam budaya Viking. (Catatan: Ritual ini diamati di antara bangsa Rus di Volga, bukan di Skandinavia asal mereka)*.

Karakter dan Hukum:

Ibn Fadhlan mengagumi fisik dan ketangguhan mereka, tetapi juga mengkritik kebiasaan seksual mereka (seperti hubungan di depan umum) dan ketidaktahuan mereka akan konsep halal-haram.

Ia mencatat sistem hukum mereka yang keras dan langsung, termasuk hukum waris.

Signifikansi dan Warisan Risālah Ibn Fadhlan

Sumber Primer yang Tak Ternilai:

“Risālah” Ibn Fadhlan adalah salah satu sumber tertua dan paling rinci yang ditulis oleh pengamat luar tentang bangsa Rus (Viking Timur).

Ia memberikan snapshot unik tentang budaya, penampilan, ritual, dan interaksi mereka di wilayah Volga pada awal abad ke-10.

Jendela ke Dunia Viking Timur

Catatannya sangat penting untuk memahami ekspansi Viking ke timur, perdagangan mereka di jalur sungai Rusia, serta interaksi mereka dengan dunia Islam dan Turkik.

Inspirasi Budaya Populer

Kisah Ibn Fadhlan menjadi dasar novel “Eaters of the Dead” (1976) karya Michael Crichton, yang kemudian diadaptasi menjadi film blockbuster “The 13th Warrior” (1999) yang dibintangi Antonio Banderas.

Meskipun banyak unsur fiksi ditambahkan, inti pertemuannya dengan bangsa Utara berasal dari “Risālah”-nya.

Jejak yang Abadi

Perjalanan Ahmad bin Fadhlan lebih dari sekadar misi diplomatik. Ia adalah seorang pengamat yang cermat dan penulis yang piawai, yang secara tidak sengaja menjadi salah satu sejarawan etnografi pertama yang mendokumentasikan bangsa Viking.

Risālah-nya, meskipun hanya berupa fragmen yang selamat, tetap berdiri sebagai monumen literer.

Ia mengingatkan kita bahwa bahkan dalam dunia yang terasa terpisah jauh, manusia selalu menemukan cara untuk terhubung, berdagang, bertikai, dan saling mengamati dengan rasa ingin tahu yang sama.

Dari istana megah Khalifah di Baghdad hingga tepian Sungai Volga yang dingin di tengah ritual api bangsa Rus, petualangan Ibn Fadhlan terus memikat dan mengajari kita tentang keberagaman dan kekayaan peradaban manusia di masa silam.

Referensi

  1. Lunde, Paul, and Caroline Stone. “Ibn Fadlān and the Land of Darkness: Arab Travellers in the Far North”. Penguin Classics, 2012.
  2. Frye, Richard N. “Ibn Fadlan’s Journey to Russia: A Tenth-Century Traveler from Baghdad to the Volga River”. Markus Wiener Publishers, 2005.
  3. Montgomery, James E. “Ibn Faḍlān and the Rūsiyyah.” Journal of Arabic and Islamic Studies, vol. 3, 2000, pp. 1–25.
  4. Wikin, Gabriel. “Ibn Fadlan and the Rusiyyah”. Brill, 2017.
  5. Encyclopædia Britannica: Artikel tentang “Aḥmad ibn Faḍlān” dan “Rus”.
  6. National Geographic, History Channel, BBC History.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *