Caesar Valerianus Agustus, The Fallen Emperor of Rome – Episode Akhir

EPISODE: BUDAK DI BAWAH LANGIT ASING – SURAT TERAKHIR VALERIANUS 

Ctesiphon – Musim Panas yang Tak Berujung

Di bawah terik matahari Mesopotamia yang menyengat seperti pedang, kota Ctesiphon berdiri megah dengan istana marmer, taman-taman air mancur, dan menara-menara yang menjulang ke langit.

Di tengah kemewahan itu, di balik dinding batu tebal yang tak pernah mendengar suara laut, hidup seorang pria tua yang dahulu memerintah separuh dunia: Valerianus Agustus.

Kini, ia bukan lagi kaisar. Ia bukan lagi anak Jupiter. Ia hanyalah seorang budak yang diberi nama “Rumayan” oleh para penjaganya, sebuah ejekan yang menghina: “the fallen Roman.”

Ia tinggal di ruang bawah tanah di bawah istana Shapur I, tempat yang lembap dan gelap, hanya diterangi oleh celah sempit di atas.

Dindingnya basah oleh embun gurun, dan tanahnya berlumpur saat hujan datang yang jarang terjadi. Di sana, ia duduk di atas balok kayu tua, kakinya terbelenggu rantai besi yang sudah menggerus dagingnya hingga tulang terlihat.

Namun, matanya masih hidup. Masih memandang jauh ke arah barat, ke tempat yang tak pernah bisa ia sentuh lagi: Roma.

Rantai dan Kenangan

Setiap pagi, ia dipanggil ke halaman istana. Bukan untuk bekerja, tapi untuk dipertontonkan.

Shapur I, sang “Raja Para Raja”, sering datang dengan para bangsawan, duta-duta dari India dan Babilonia, lalu memanggil Valerian.

“Lihatlah!” seru Shapur, sambil menunjuk ke arahnya. “Inilah pemimpin dari bangsa yang menganggap dirinya tuan dunia. Kini, ia adalah pijakan kakiku.”

Dan di depan semua orang, Valerian dipaksa berlutut. Shapur menaruh kakinya di punggungnya, lalu naik ke atas kuda emasnya – Valerian seperti patung yang hidup dari kehinaan.

Tapi Valerian tidak menangis. Ia menutup mata. Dan dalam gelap itu, ia bisa melihat:

Gallienus, putranya, masih muda, berdiri di Forum, mengangkat pedangnya ke langit.

Istri lamanya, Fabia, yang telah mati sebelum perang, sedang menyisir rambutnya di bawah pohon lemon di villa mereka di Campania.

Angin di tepi Tiber, yang membawa suara anak-anak bermain, pasar yang ramai, dan nyanyian para penyair di malam hari.

Di dalam hatinya, ia masih berjalan di jalan-paving Roma. Ia masih merasakan dingin marmer di bawah sandalnya. Ia masih mencium bau anggur dan garam dari Laut Tengah.

“Aku masih di sana,” bisiknya dalam hati. “Aku tidak pernah benar-benar pergi.”

Surat yang Tak Pernah Dikirim

Pada suatu malam, ketika penjaga tertidur, seorang budak Yahudi yang bertugas membersihkan selnya menyelinap masuk. Ia membawa sepotong kulit domba tua, sebatang arang, dan sepercik belas kasihan.

“Tuan,” bisiknya, “jika kau ingin menulis sesuatu untuk keluarga, untuk Roma, aku akan menyimpannya.”

Valerian menatapnya lama. Lalu, dengan tangan yang gemetar karena usia dan luka, ia mulai menulis. Tulisannya patah-patah, tapi jiwanya mengalir di setiap goresan:

“Kepada Gallienus, putraku yang tercinta. Aku menulis ini bukan dengan tinta, tapi dengan darah hatiku. Aku tidak tahu apakah kau akan pernah membaca ini. Aku tidak tahu apakah Roma masih mengingatku. Tapi aku ingin kau tahu: aku tidak menyerah. Aku tidak memohon. Aku tetap Kaisar, meski dunia telah mencabut mahkotaku.

Aku rindu angin Roma. Aku rindu suara ombak di Ostia. Aku rindu taman di mana kau dulu belajar berjalan. Aku rindu cahaya pagi yang masuk melalui jendela perpustakaanku, saat kita membaca Seneca bersama.

Jika suatu hari nanti kau menang, jangan balas dendam. Jangan jadikan orang lain seperti aku. Karena penghinaan tidak memperbaiki martabat, ia hanya menyebar luka.

Aku tidak takut mati. Aku hanya takut dilupakan. Tapi jika kau membaca ini, maka aku masih hidup. Di dalam hatimu. Di dalam namamu.

Dengan cinta yang tak pernah padam,

Valerianus, Ayahmu.”

Budak itu menyembunyikan gulungan itu di dalam alas kakinya, berjanji akan membawanya ke timur, ke tempat orang-orang Yudea yang bisa menyampaikannya ke Roma jika suatu hari ia bebas.

Tapi gulungan itu tak pernah sampai. Dan Valerian tak pernah tahu.

Hari Terakhir

Musim dingin datang, meski di gurun pun udara bisa membeku. Valerian sakit. Batuknya menggema di dinding sel seperti duka yang tak berujung.

Demam membakar tubuhnya yang kurus. Rantainya tidak dilepas bahkan ketika ia tidak bisa berdiri.

Pada malam terakhir, penjaga melihatnya duduk di sudut, memandang celah di atas. Di langit, bintang-bintang bersinar terang sama seperti di Roma.

“Dia melihat apa?” tanya seorang penjaga muda.

“Bintang,” jawab yang tua. “Tapi mungkin dia melihat rumah.”

Valerian tersenyum. Lemah. Tapi tulus.

Ia merasakan sesuatu: angin lembut menyentuh wajahnya. Bukan angin gurun. Angin ini hangat, membawa aroma mawar dan laut. Ia mendengar suara – suara anak-anak tertawa, suara iringan harpa, suara Gallienus memanggilnya “Pater…”

“Aku pulang,”* bisiknya. Dan perlahan, matanya tertutup. Tidak ada tangisan. Tidak ada upacara. Pagi harinya, penjaga menemukan tubuhnya dingin, tangan masih memegang sepotong marmer kecil bekas dari cincin kekaisarannya yang patah.

Shapur I mendengar kabar itu sambil minum anggur Persia.

“Buang saja,” katanya. “Atau biarkan tergantung di gerbang, sebagai peringatan.”

Tubuh Valerian tidak dikremasi. Tidak dikubur. Konon, kulitnya diawetkan dengan rempah dan digantung di gerbang istana – simbol kemenangan abadi Persia.

Tapi yang tidak bisa mereka ambil adalah the dream from the old fallen Caesar.

Epilog: Bintang di Langit Roma

Di Roma, pada malam-malam tanpa bulan, para penyair tua masih bercerita tentang Valerian. Mereka bilang, jika kau berdiri di Colosseum saat angin timur bertiup, kau bisa mendengar bisikan:

“Aku tetap berdiri.”

Dan di antara bintang-bintang, konon, ada satu yang tidak bergerak – yang selalu menghadap timur. Para filsuf menyebutnya “Stella Romae Mortuae”, Bintang Roma yang Mati, tapi tak pernah padam.

Beberapa mengatakan itu adalah jiwanya, yang akhirnya pulang. Karena meski tubuhnya menjadi tontonan, meski martabatnya diinjak, meski ia mati sebagai budak di tanah asing, hatinya tak pernah ditawan.

Dan dalam kerinduan yang tak terobati, dalam penderitaan yang tak terlupakan, dalam kesedihan yang membeku seperti es di gurun – Valerianus tetap seorang Kaisar Roma.

Bukan karena mahkota atau kekuasaan, tapi karena cinta.

Cinta kepada Roma.  Cinta kepada putranya. Cinta kepada kehormatan yang tak bisa dibeli, tak bisa dicuri, tak bisa dihancurkan.

Ada yang mati dan tetap hidup. Ada yang dikubur, tapi tak pernah hilang.

Valerian bukan pahlawan yang menang. Ia adalah pahlawan yang tetap setia hingga napas terakhir, hingga bayang terakhir, hingga rindu terakhir.

Dari sebuah puisi tak bertanda, ditemukan di reruntuhan kuil Mithra di Dura-Europos, abad ke-4.

Bagian terburuk dari menggenggam kenangan bukanlah rasa sakitnya.

Tapi rasa kesepian yang sangat dalam saat mengenangnya.

THE END

 

Catatan Tambahan 

Cerita ini menggabungkan fakta historis dari sumber-sumber klasik seperti Lactantius, Zosimus, dan inskripsi Shapur I, dengan imajinasi sastra untuk mengeksplorasi dimensi kemanusiaan di balik tokoh sejarah.

Valerian bukan pahlawan konvensional, tapi dalam keputusasaannya, ia menjadi cermin dari kehormatan yang tak bisa dihancurkan oleh rantai atau ejekan.

Referensi Historis

  1. Lactantius, “De Mortibus Persecutorum” – Menggambarkan trauma Roma atas penangkapan Valerian.
  2. Zosimus, “Historia Nova” – Menyebutkan reaksi Gallienus dan upaya menyembunyikan kabar.
  3. Inskripsi Shapur I di Naqsh-e Rustam – Bukti visual penangkapan Valerian.
  4. Eutropius, “Breviarium” – Ringkasan sejarah yang mencatat kejatuhan Valerian sebagai titik balik kehancuran Roma.
  5. Peter Brown, “The World of Late Antiquity” – Konteks sosial dan spiritual masyarakat Roma pasca-

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *