Di Bawah Langit Bandung, Cinta dan Janji yang Retak – 3

EPISODE: LANGKAH MENUJU KURSI KEKUASAAN

Tiga tahun setelah kelahiran Raya, ketika Arman mulai memiliki hobi dan Zahra mulai memahami isi sebuah cerita, sebuah perubahan besar menghampiri rumah Rahadian dan Andini.

Bukan karena pindah kota, bukan karena naik jabatan di perusahaan, tapi karena sebuah panggilan yang lebih besar: pelayanan publik.

Rahadian tidak lagi hanya membangun jembatan dari beton dan baja. Ia mulai membangun jembatan antara kebijakan dan rakyat.

Awalnya, itu hanya ide kecil. Saat ia menjadi anggota tim teknis dalam proyek pengembangan infrastruktur ramah lingkungan di Kota berpelat D, ia menyadari masih banyak warga yang hidup di bawah garis kemiskinan meski kota ini tergolong maju.

Anak-anak banyak yang putus sekolah serta akses kesehatan yang belum optimal dan sederet masalah lainnya.

Suatu malam, di atas meja makan, sambil menunggu Andini selesai rapat virtual bersama para ibu peserta program Rumah Ekonomi Ibu, Rahadian berkata pelan: “Dini… aku ingin mencalonkan diri sebagai walikota.”

Andini menatapnya. Tidak terkejut. Tidak menolak. Hanya diam sejenak, lalu bertanya, “Kenapa sekarang?”

“Karena aku sudah lelah melihat orang-orang baik yang bekerja keras… tapi sistemnya tidak mendukung mereka.” Rahadian menjawab tegas.

Andini tersenyum tipis. Ia meletakkan laptopnya – berdiri lalu berjalan ke sudut ruang tamu, mengambil sebuah amplop kertas cokelat tua yang selama bertahun-tahun ia simpan tanpa dibuka.

Ia membukanya. Di dalamnya ada secarik surat dari seorang ibu di Cikapundung yang dulu ikut pelatihan ekonomi syariah miliknya.

Surat itu berbunyi:

“Bu Dini, saya tidak punya uang untuk bayar sekolah anak saya. Tapi saya punya semangat. Dan saya punya suami yang mau bangun jembatan kecil di belakang rumah kami agar anak-anak bisa lewat dengan aman. Saya tahu, suami ibu bukan politisi. Tapi jika dia mau jadi pemimpin, saya akan ikut mendukung. Karena dia tahu cara membangun – bukan hanya jalan tapi juga harapan.”

Andini menyerahkan surat itu ke tangan Rahadian, “Ini adalah suara dari ribuan orang lain yang belum berani bicara,” katanya. “Kalau kamu mau jadi suara mereka… aku akan jadi pendengar pertamamu. Dan istri yang tak akan pernah ragu memegang tangan mu, bahkan saat dunia menuduh mu terlalu idealis.”

Kampanye yang Tak Biasa

Kampanye Rahadian tidak seperti kampanye politik pada umumnya. Tidak ada iklan megah, tidak ada mobil mewah berkeliling dengan sound system, tidak ada janji-janji kosong tentang kota modern. Yang ada hanyalah sebuah truk kecil berwarna hijau, dengan tulisan besar:

“PENDIDIKAN DAN KESEHATAN UNTUK SEMUA – BUKAN JANJI TAPI BUKTI.”

Rahadian datang ke pasar tradisional, duduk di warung kopi, membantu ibu-ibu membongkar barang dagangan, dan mendengarkan keluhan mereka.

Ia mengajak warga membuat peta masalah kota secara partisipatif: di mana jalan rusak? Di mana sampah menumpuk? Di mana anak-anak tidak bisa sekolah karena tak punya transportasi dan biaya?

Dan di setiap pertemuan, Andini selalu hadir, bukan sebagai istri calon walikota, tapi sebagai kader pemberdayaan dan juga sebagai seorang… wanita yang kuat dan tegar.

Ia mengorganisir ibu-ibu untuk menyediakan posko bantuan: makanan gratis untuk balita, kursus literasi digital untuk ibu-ibu, dan even Sekolah Ibu yang mengajarkan manajemen keuangan rumah tangga dan pengelolaan usaha mikro.

“Kita tidak memilih pemimpin karena dia pandai bicara,” kata Andini di salah satu acara kampanye. “Kita memilih pemimpin karena ia tahu bagaimana merasa lapar, basah, lelah dan masih berani bangkit untuk memperbaiki.”

Kampanye mereka menyebar seperti api kecil. Viral di media sosial bukan karena efek visual, tapi karena kejujuran.

Sebuah video viral: Rahadian sedang membersihkan selokan bersama warga, sambil berbicara tentang biaya pemeliharaan drainase.

Di sampingnya, Andini menulis catatan, lalu memberi minuman hangat kepada para pekerja dengan gaya khas seorang ibu kepada anaknya.

Mereka akhirnya menang dengan suara mayoritas. Pada 2034, Rahadian Kumbara resmi dilantik sebagai Walikota Kota D. Usianya 36 tahun. Termuda dalam sejarah kota itu.

Ketika Kursi Kepala Daerah Menjadi Tempat Pelayanan

Sebagai walikota, Rahadian tak berubah. Ia tetap bangun jam 4 pagi, mandi di kantor, dan langsung keliling ke lokasi proyek, tanpa rombongan mewah, hanya dengan seorang asisten dan tas berisi makanan kecil untuk anak-anak jalanan.

Ia mencoret anggaran-anggaran yang tidak perlu. Dialihkan untuk membangun puluhan toilet umum ramah disabilitas, beberapa puskesmas keliling, dan membangun banyak jalur sepeda yang menghubungkan permukiman padat dengan sekolah dan pasar.

Ia juga menghidupkan kembali program “Satu Rumah, Satu Kebun” mendorong setiap keluarga untuk menanam sayuran di halaman rumah dengan teknik dan metode modern hidroponik serta dukungan teknis dari universitas dan pelatihan dari Dharma Wanita.

Dan di balik layar, Andini bukan hanya istri walikota. Ia menjadi Ketua Dharma Wanita Kota D, dan mengubahnya menjadi mesin pemberdayaan nyata.

Di bawah kepemimpinannya:

Ribuan ibu rumah tangga dilatih menjadi digital entrepreneur lewat program “Kota Bijak”.

Program “Ibu Guru Keliling” telah melahirkan ibu-ibu yang dulunya hanya di rumah, kini mengajar literasi dan numerasi dasar bagi anak-anak pra-sekolah di wilayah kumuh.

Ia membangun “Rumah Perlindungan Ibu dan Anak”, tempat perlindungan bagi korban kekerasan domestik didukung oleh relawan dari kalangan mahasiswa dan organisasi wanita.

Suatu malam, setelah rapat panjang di Balai Kota, Rahadian pulang dalam keadaan letih. Ia menemukan Andini duduk di balkon, memeluk Raya yang tertidur di pangkuannya. Cahaya lampu jalan menerangi wajah mereka berdua.

“Kau capek?” tanya Andini pelan.

“Ya. Tapi… rasanya ini benar-benar luarbiasa. Aku merasa seperti sedang membangun jembatan lagi. Hanya saja kali ini, jembatannya adalah kebijakan.”

Andini tersenyum, lalu berbisik, “Aku ingat dulu kau bilang, infrastruktur itu bukan cuma beton. Sekarang, kau sedang membangun infrastruktur sosial. Dan aku… aku bangga jadi istri yang bisa membawa mu melangkah lebih jauh dari sekadar teknik sipil.”

Rahadian memeluk mereka berdua erat. “Kau tahu, Dini? Aku dulu pikir, cinta itu soal dua hati yang saling memahami. Ternyata… cinta yang sejati adalah ketika dua hati bersatu untuk membangun dunia yang lebih adil bersama orang-orang yang tak pernah kita kenal sebelumnya.”

Anak-Anak Mereka, Generasi Baru

Arman, kini remaja yang aktif di organisasi lingkungan sekolah. Ia membuat aplikasi mobile yang memetakan titik sampah di kota, dan mengirim notifikasi ke dinas kebersihan. “Aku ingin jadi walikota seperti ayah,” katanya suatu hari, “tapi lebih gencar, lebih digital.”

Zahra, sudah menjadi duta kesehatan hewan kota. Ia mengajak teman-temannya membuat kampanye “Adopsi, Jangan Beli!” dan berhasil mengurangi jumlah kucing liar yang ditangkap petugas sebesar 27% dalam setahun.

Raya, yang baru berusia 5 tahun, suatu hari bertanya kepada ibunya, “Mama, kenapa banyak orang datang ke rumah kita dan bilang ‘Terima kasih, Bu Dini’?”

Andini menjawab, “Karena Mama dan Papa percaya bahwa semua orang pantas punya kesempatan, Nak. Dan kita berusaha membuatnya terjadi.”

Raya mengangguk serius, lalu berkata, “Kalau nanti aku jadi walikota… aku mau bikin taman main untuk semua anak, termasuk yang nggak punya sepatu.”

Andini menangis. Tapi senyumnya tak pernah pudar.

Epilog: Catatan Terakhir di Buku Harian Rahadian – Akhir Tahun 2037

“Hari ini, setelah 3 tahun menjabat, aku diberi penghargaan nasional untuk Inovasi Pemerintahan Berbasis Partisipasi. Aku tidak menerima medali sendirian. Aku membawa serta 3 orang: Istriku Andini Prameswari, Tatang si akang penjual baslub yang kini punya toko baslub online dan Arman, putraku, yang membuat aplikasi pemetaan sampah. Aku tak pernah bermimpi jadi walikota. Tapi aku yakin, aku dipanggil untuk ini bukan karena ambisi, tapi karena cinta. Cinta yang dimulai di Masjid Salman, di antara buku ekonomi, puisi Rumi dan romatisme Kahlil Gibran. Cinta yang tumbuh di tengah kopi pagi dan tawa anak-anak. Cinta yang kini berbuah menjadi jembatan, sekolah, rumah layak huni dan harapan bagi ribuan orang. Aku bukan pahlawan. Aku hanya seorang suami yang beruntung punya istri yang tak pernah mengatakan tidak ketika aku bilang aku ingin berbuat lebih. Dan aku tahu…Ketika aku tiada nanti namaku mungkin akan hilang dari buku sejarah. Tapi nama Andini, dan ketiga anak kami, akan tetap hidup di setiap jalan yang sekarang aman, di setiap ibu yang sekarang mandiri, di setiap anak yang sekarang punya mimpi. Itu cukup. Lebih dari cukup.

Rahadian Kumbara, Walikota, Suami dari Andini Prameswari, Ayah dari Arman, Zahra dan Raya.”

Di depan Balaikota, kini berdiri sebuah monumen kecil:

Sebuah jembatan mini dari kayu daur ulang, dengan tulisan di dasarnya: “Dibangun oleh cinta. Dirawat oleh rakyat. Dipimpin oleh mereka yang tidak lupa dari mana mereka berasal.”

Dan di bawahnya, tertulis nama: Rahadian Kumbara & Andini Prameswari

Bukan sebagai pasangan politik. Tapi sebagai pasangan yang memilih untuk mencintai lebih dari diri mereka sendiri.

Cinta tidak memberi apa yang kamu inginkan, tapi apa yang kamu butuhkan. Jika engkau menginginkan rasa aman, maka janganlah mencintai. Karena cinta tidak pernah meminta izin untuk menyakitimu – Ia datang tiba-tiba, dan ketika ia pergi… Kau baru sadar bahwa ia telah mengubah segalanya dalam hidupmu.

If u fall in love u must prepare to accept a pain!

Writer: Haris MaungEditor: Haris Maung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *