Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com
Laksamana Keumalahayati, lebih dikenal sebagai Laksamana Malahayati, adalah seorang tokoh perempuan legendaris dari Kesultanan Aceh Darussalam pada akhir abad ke-16.
Ia dikenal sebagai laksamana wanita pertama di dunia, yang memimpin armada laut dan pasukan wanita yang dikenal sebagai Inong Balee dalam berbagai pertempuran melawan penjajah asing, khususnya bangsa Portugis dan Belanda.
Latar Belakang
Malahayati dilahirkan di lingkungan bangsawan Aceh. Ia adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah dan cucu dari Sultan Salahuddin.
Sebagai putri kerajaan, ia mendapat pendidikan tinggi pada zamannya, termasuk di Meunasah dan Mahad Baitul Maqdis, semacam akademi militer laut Aceh.
Ia tumbuh dalam tradisi maritim Aceh yang kuat dan penuh dengan semangat jihad.
Pasukan Inong Balee
Setelah suaminya gugur dalam pertempuran melawan Portugis, Malahayati membentuk pasukan yang terdiri dari para janda syuhada, yang dinamakan Pasukan Inong Balee.
Jumlah mereka mencapai 2.000 orang, dan mereka dilatih menjadi prajurit tangguh. Markas besar mereka terletak di Benteng Inong Balee, di dekat pelabuhan Teluk Krueng Raya, Aceh Besar.
Pertempuran Laut dan Melawan Penjajah
Malahayati dikenal dalam sejumlah pertempuran besar:
- Melawan Portugis dan Belanda
Ia memimpin armada laut Aceh melawan penjajah Portugis yang berusaha menguasai jalur perdagangan rempah-rempah di Selat Malaka. Pada tahun 1599, ia memimpin pertempuran melawan Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman. Dalam pertempuran itu, Cornelis tewas di tangan pasukan Malahayati. - Diplomasi dengan Belanda
Setelah kejadian tewasnya Cornelis, adiknya Frederick de Houtman datang untuk berdamai. Ia ditangkap dan dipenjara oleh Kesultanan Aceh. Namun, melalui diplomasi yang dipimpin Malahayati, Aceh akhirnya membebaskan Frederick setelah menerima kompensasi dari Belanda.
Jabatan dan Pengaruh
Atas keberaniannya, Malahayati diangkat menjadi Laksamana Laut Aceh oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil.
Ia adalah satu-satunya perempuan yang pernah memegang jabatan ini, dan memimpin armada laut terbesar di Nusantara saat itu.
Ia juga dikenal menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Ottoman (Turki Utsmani), serta memperkuat kedudukan Aceh sebagai kekuatan maritim penting di Asia Tenggara.
Wafat dan Warisan
Malahayati diperkirakan wafat sekitar tahun 1615. Ia dimakamkan di Lamreh, Aceh Besar, dan makamnya kini menjadi situs sejarah.
Namanya diabadikan di berbagai tempat dan institusi, seperti KRI Malahayati, Bandara Malahayati di Aceh, dan Universitas Malahayati di Lampung.
Penutup
Laksamana Malahayati bukan hanya simbol keberanian perempuan Aceh, tapi juga simbol perlawanan bangsa Aceh terhadap kolonialisme.
Kepemimpinannya menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki peran strategis dalam sejarah militer dan diplomasi nusantara.
Referensi
- Dokumen kolonial Belanda (VOC Archives) menyebutkan kejadian terbunuhnya Cornelis de Houtman oleh pasukan Aceh.
- “Sejarah Melayu” dan beberapa naskah lokal Aceh menyinggung keberadaan pasukan wanita dan pemimpin perempuan dalam perang laut.
- Laporan ekspedisi Portugis dan Belanda menyebutkan adanya perlawanan kuat dari pasukan laut Aceh, dipimpin seorang wanita janda panglima.
- Tulisan modern:
- M. Junus Djamil, “Malahayati: Laksamana Perempuan dari Aceh” (1977)
- T.A. Amir Hamzah, “Kesultanan Aceh: Sebuah Studi Sejarah Politik” (1981)
- BPS Aceh, Ensiklopedi Tokoh Aceh (2005)












