Abdullah bin Zubair, Khalifah yang Terbunuh dan Terlupakan

Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com


ABDULLAH BIN ZUBAIR: KHALIFAH YANG GUGUR SYAHID

Latar Belakang dan Keluarga

Abdullah bin Zubair bin al-Awwam (624–692 M) adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang terkemuka.

Ia adalah putra dari Zubair bin al-Awwam (salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga) dan Asma’ binti Abu Bakar (putri Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq).

Dengan demikian, ia memiliki nasab yang mulia dari kedua orang tuanya yang termasuk Ahlul Bait dan Assabiqunal Awwalun.

Perjuangan di Masa Awal Islam

Abdullah bin Zubair dikenal sebagai bayi pertama yang lahir dalam Islam setelah hijrah, sehingga dianggap sebagai simbol kebangkitan umat Islam di Madinah.

Ia tumbuh dalam lingkungan keilmuan dan jihad, ikut serta dalam berbagai pertempuran seperti Penaklukan Afrika Utara dan Perang Shiffin di pihak Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Penolakan terhadap Dinasti Umayyah

Setelah kematian Yazid bin Muawiyah (683 M), kekhalifahan Umayyah melemah, dan Abdullah bin Zubair memproklamirkan diri sebagai khalifah di Makkah.

Ia mendapat baiat dari banyak wilayah, termasuk Hijaz, Yaman, Mesir, dan sebagian Irak. Namun, Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Umayyah mengirim Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dengan pasukan besar untuk menumpas pemberontakan ini.

Pengepungan Makkah dan Syahidnya Abdullah bin Zubair

Hajjaj mengepung Makkah selama 6 bulan (Maret–Oktober 692 M) dengan menggunakan manjaniq’l (pelontar batu) yang merusak Ka’bah.

Abdullah bin Zubair, yang saat itu berusia sekitar 70 tahun, bertahan dengan gigih bersama pengikut setianya.

Akhirnya, setelah pengikutnya banyak yang gugur, ibunya (Asma’ binti Abu Bakar) menasihatinya:

“Wahai anakku, lebih baik mati terhormat daripada hidup dalam kehinaan.” (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayahl, 8/339).

Abdullah bin Zubair kemudian keluar berperang dan gugur sebagai syahid pada 17 Jumadil Awal 73 H (Oktober 692 M).

Hajjaj memerintahkan untuk menyalib jasadnya, tetapi Khalifah Abdul Malik memerintahkan untuk menguburkannya setelah beberapa hari.

Warisan dan Penilaian Sejarawan

Keberanian dan Keteguhan: Ia dikenal sebagai ahli ibadah dan pemberani. Imam adz-Dzahabi menyebutnya: “Seorang yang zuhud, wara’, dan ahli ibadah.” (Siyar A’lam an-Nubala’, 3/363).

Pembela Syariah: Ia menolak kebijakan Umayyah yang dianggap otoriter dan berusaha mempertahankan kemurnian Islam.

Tragedi Pengepungan Ka’bah

Peristiwa ini menjadi catatan kelam dalam sejarah Islam karena Ka’bah rusak akibat serangan Hajjaj.

Abdullah bin Zubair tetap dikenang sebagai Khalifah yang sah menurut sebagian ulama Ahlus Sunnah, meskipun kekuasaannya tidak bertahan lama. Kisahnya menjadi pelajaran tentang keteguhan di atas kebenaran, sekalipun harus berakhir dengan syahid.

Referensi

  1. Ibnu Katsir, “Al-Bidayah wan Nihayah” (8/330–340).
  2. At-Thabari, “Tarikh al-Umam wal Muluk” (5/340–360).
  3. Adz-Dzahabi, “Siyar A’lam an-Nubala’” (3/350–370).
  4. Ibnu Atsir, “Al-Kamil fi at-Tarikh” (4/180–200).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *