Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com
KESULTANAN ACEH: SEJARAH, KEJAYAAN DAN WARISAN BUDAYA
1. Pendahuluan
Kesultanan Aceh (Aceh Darussalam) merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar di Nusantara yang berdiri pada abad ke-16 dan mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-17.
Kesultanan ini terkenal sebagai pusat perdagangan, pendidikan Islam, dan kekuatan militer yang tangguh dalam melawan kolonialisme Eropa, terutama Portugis dan Belanda.
2. Asal-Usul dan Berdirinya Kesultanan Aceh
Kesultanan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496 setelah berhasil menyatukan beberapa kerajaan kecil di wilayah Aceh, seperti Lamuri dan Daya.
Kesultanan ini berkembang pesat berkat letaknya yang strategis di ujung utara Pulau Sumatra, menjadikannya pusat perdagangan rempah-rempah dan jalur pelayaran internasional.
3. Masa Kejayaan Kesultanan Aceh
Kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan:
a. Sultan Iskandar Muda (1607–1636)
Memperluas wilayah kekuasaan hingga mencakup Sumatra Barat, Pahang, Kedah, dan Perak.
Membangun angkatan laut yang kuat untuk mengontrol Selat Malaka.
Menjadikan Aceh sebagai pusat pendidikan Islam dengan mendirikan masjid dan dayah (pesantren).
Menerapkan sistem pemerintahan yang terstruktur dengan hukum syariat Islam.
b. Sultanah Safiatuddin Syah (1641–1675)
- Salah satu pemimpin perempuan terkemuka dalam sejarah Islam Nusantara.
- Mempertahankan kedaulatan Aceh dari ancaman Belanda dan Portugis.
- Mendorong perkembangan sastra dan ilmu pengetahuan, termasuk karya-karya ulama seperti Syekh Nuruddin ar-Raniri.
4. Struktur Pemerintahan dan Sosial Budaya
Kesultanan Aceh memiliki sistem pemerintahan yang terorganisir dengan:
- Sultan sebagai pemimpin tertinggi.
- Uleebalang (bangsawan lokal) yang mengurus wilayah administratif.
- Ulama sebagai penasihat spiritual dan hukum.
Masyarakat Aceh menganut Islam secara kuat, dengan budaya yang kaya akan sastra, seni, dan arsitektur, seperti Masjid Baiturrahman yang menjadi simbol kejayaan Aceh.
5. Hubungan dengan Bangsa Asing dan Perlawanan terhadap Kolonialisme
Portugis
Aceh sering berkonflik dengan Portugis yang menguasai Malaka (1511).
Belanda
Setelah kejatuhan Malaka ke tangan VOC (1641), Aceh tetap bertahan sebagai kerajaan merdeka hingga Perang Aceh (1873–1904).
Inggris dan Turki Utsmani
Aceh menjalin hubungan diplomatik untuk memperkuat posisinya melawan Eropa.
6. Kemunduran dan Runtuhnya Kesultanan Aceh
- Perebutan kekuasaan internal setelah wafatnya Sultan Iskandar Thani (1641).
- Melemahnya pengaruh politik akibat tekanan Belanda.
- Perang Aceh-Belanda (1873–1904) yang akhirnya mengakhiri kedaulatan Aceh, meskipun perlawanan rakyat terus berlanjut.
7. Warisan Kesultanan Aceh
- Pengaruh Islam yang kuat di Sumatra dan Nusantara.
- Karya sastra seperti Hikayat Aceh dan Bustanussalatin.
- Arsitektur bersejarah, termasuk Masjid Baiturrahman.
- Semangat anti-kolonial yang menginspirasi perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Kesultanan Aceh meninggalkan warisan sejarah yang penting bagi Indonesia, baik dalam bidang politik, budaya, maupun keislaman.
Semangatnya dalam mempertahankan kedaulatan tetap dikenang hingga kini.
Referensi
- Reid, Anthony. *An Indonesian Frontier: Acehnese and Other Histories of Sumatra*. 2005.
- Lombard, Denys. *Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607–1636)*. 1986.
- Hasjmy, A. *Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia*. 1995.
- Djajadiningrat, Hoesein. *Atjehsch-Nederlandsch Woordenboek*. 1934.












