Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com
EPISODE: UTUSAN DI BUMI KABUT DAN NAGA
Jalan Menuju Jarl Agung
Dengan langkah mantap namun hati berdegup kencang, Ahmad bin Fadhlan mengikuti pemimpin Viking berjanggut merah itu, Jarl Rurik namanya, sebagaimana diperkenalkan oleh penerjemah yang terengah-engah.
Mereka berjalan menyusuri jalan tanah lebar yang membelah pemukiman Viking. Bau asap kayu bakar, ikan asap, dan tanah basah semakin kuat.
Tatapan-tatapan membeku menyambut mereka. Para wanita Viking, dengan rambut pirang kepang rumit dan pakaian wol tebal berwarna-warni, berhenti mengaduk kuali atau menenun, matanya membulat penuh rasa ingin tahu yang tak tersembunyikan.
Anak-anak kecil berlari mendekat, lalu berhenti tiba-tiba, terpana melihat unta-unta tinggi menjulang yang tak pernah mereka lihat, serta jubah-jubah sutra Fadhlan dan beberapa pengawalnya yang berkilauan lembut di balik kabut tipis.
“Lihat kain mereka! Seperti air yang mengalir!” bisik seorang wanita tua, jarinya yang kasar menunjuk.
“Makhluk apa itu? Lebih besar dari kuda!” teriak seorang bocah, menunjuk unta dengan campuran takut dan kagum.
“Perhiasan mereka… emas dan batu berkilau seperti matahari terbenam,” gumam pria Viking muda, matanya terpaku pada sabuk berhias pengawal Fadhlan.
Fadhlan berjalan tegak, mencoba menampilkan ketenangan diplomatik meski setiap tatapan liar, setiap sorot mata biru dan hijau yang memeriksa, terasa menusuk.
Dia tersenyum kecil dan membungkuk sedikit setiap kali pandangannya bertemu dengan penduduk, sebuah gestur hormat Baghdad yang membuat beberapa Viking mengerutkan kening bingung, sementara yang lain mengangguk kaku.
Kebesaran Khalifah tak hanya terpancar dari barang bawaan, tapi juga dari sikap sang utusan yang berbeda dari kebiasaan mereka.
Rasa asing dan keagungan itu mengundang decak kagum sekaligus keheningan penuh pertanyaan.
Balairung Sang Penguasa Lautan
Mereka tiba di sebuah bangunan besar yang lebih menyerupai balairung raksasa daripada istana.
Dibangun dari kayu gelap dan kokoh, atapnya tinggi melengkung ditopang tiang-tiang ukiran rumit bergambar naga, serigala, dan pertempuran epik.
Udara di dalam hangat oleh beberapa perapian besar yang menyala, namun tetap terasa lembab dan berat oleh asap serta aroma bir fermentasi, daging panggang, dan minyak pelumas senjata. Kepala-kepala binatang buruan menghiasi dinding.
Di ujung ruangan, di atas sebuah kursi tinggi berukir rumit yang lebih mirip singgasana perang, duduklah sang Raja Viking, Jarl Heimir.
Dia lebih tua dari Rurik, janggutnya putih seperti salju, tapi tubuhnya masih tegap bagai pohon oak tua.
Matanya, biru pucat dan tajam seperti mata elang, langsung menembus Fadhlan begitu dia memasuki ruangan.
Di sekelilingnya duduk para jarl lain dan prajurit berpengaruh, semuanya memandang rombongan asing dengan kecurigaan terbuka.
Rurik maju, berbicara dengan suara menggelegar dalam bahasa mereka yang kasar. Raja Heimir mengangguk perlahan, matanya tak pernah lepas dari Fadhlan.
Fadhlan maju beberapa langkah, membungkuk dalam dengan penuh hormat, tangan di dada.
“Salam sejahtera bagi Yang Mulia Jarl Heimir, Penguasa yang dihormati,” ucapnya melalui penerjemah, suaranya jelas meski terdengar kecil di balik langit-langit kayu yang megah.
“Aku, Ahmad bin Fadhlan, datang sebagai utusan Yang Mulia Khalifah al-Muqtadir Billah, Pemimpin Orang Beriman dari Baghdad yang Agung. Aku membawa salam persahabatan, penghormatan, dan surat resmi dari Paduka Baginda Khalifah.” Dia mengangkat surat ber-meterai emas itu tinggi-tinggi.
Heimir mengangguk lagi, lebih dalam. “Bangkitlah, Utusan dari Selatan,” suaranya dalam namun parau, seperti kerikil yang bergesek. Penerjemah bekerja cepat.
“Kami telah mendengar kabar tentang Baghdad. Negeri emas dan ilmu pengetahuan, katanya. Kehadiranmu adalah kehormatan untuk balairung kami, meskipun…” dia jeda, matanya menyapu rombongan Fadhlan, “…kau membawa banyak keanehan.” Ada sedikit desis tawa di antara para jarl.
“Kami terima salam Khalifah-mu. Dan,” matanya tertuju pada peti-peti hadiah yang mulai dibuka pengawal Fadhlan, memamerkan sutra halus, rempah wangi, keramik indah, dan benda-benda logam rumit, “…persembahanmu.”
Istirahat di Negeri Dingin
Setelah pertemuan awal yang tegang namun penuh rasa hormat, Jarl Heimir mengangkat tangannya. “Perjalananmu panjang, Utusan Fadhlan. Negeri kami dingin dan jalannya berat. Kau dan orang-orangmu memerlukan istirahat dan kehangatan.”
Dia memberi perintah singkat. “Sediakan rumah tamu yang baik untuk Utusan Khalifah dan pengawalnya. Berikan mereka makanan, minuman, dan api yang besar. Biarkan mereka memulihkan tenaga.”
Fadhlan membungkuk lagi. “Terima kasih atas kebaikan hati Yang Mulia. Kebaikan ini akan ku sampaikan kepada Khalifah.”
Dia merasa lega. Istirahat ini bukan hanya untuk fisik yang lelah, tapi juga untuk mengamati, memahami, dan menyusun strategi.
Mereka diantar ke sebuah rumah panjang yang lebih kecil, bersih, dan relatif hangat, dekat tepi pemukiman.
Malam itu, meski terbebani oleh keasingan dan dingin yang menusuk, Fadhlan bisa menarik napas lega untuk pertama kalinya sejak tiba. Dia merasakan kalung Layla di dadanya dan berbisik doa syukur.
Berbagi Cahaya di Balik Perapian
Beberapa hari kemudian, setelah cukup beristirahat dan menyesuaikan diri, panggilan datang.
Fadhlan diantar kembali ke balairung Jarl Heimir. Kali ini, suasana sedikit lebih santai. Sang Raja duduk di kursinya, beberapa jarl penting dan pemuka masyarakat duduk di bangku panjang mengelilingi perapian pusat. Asap mengepul lembut ke lubang di atap.
“Heimir Sang Tua ingin mendengar kisah negerimu, Utusan,” kata Rurik yang bertindak sebagai semacam tuan rumah.
“Kisah tentang Baghdad, tentang kekuasaan Khalifah-mu, dan tentang… keyakinanmu yang aneh itu.” Tatapannya penuh minat.
Fadhlan duduk di tempat yang disediakan. Dia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kata-kata. Dengan bantuan penerjemah yang semakin lancar, dia mulai bercerita.
Dia melukiskan Baghdad dengan sungai Tigris yang agung, istana yang bersinar, perpustakaan Bayt al-Hikmah yang menyimpan ilmu sedunia, pasar yang ramai dengan seribu satu barang dari segala penjuru.
Dia menceritakan kemajuan ilmu falak, kedokteran, matematika, dan arsitektur di bawah naungan Khalifah. Matanya bersinar ketika berbicara tentang keadilan yang ditegakkan, tentang masyarakat yang teratur oleh hukum, bukan hanya kekuatan fisik.
Lalu, datanglah pertanyaan yang ditunggu-tunggu. “Dan Tuhanmu?” tanya seorang jarl tua. “Kau menyembah satu Tuhan saja? Bukan Thor sang Pengguntur, Odin sang Bijaksana, atau Frey sang Pemberi Hasil?”
Fadhlan tersenyum. “Kami menyembah Allah Yang Maha Esa, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Dengan bahasa sederhana dan analogi yang dia pikir bisa dipahami, dia menjelaskan inti akidah Islam—Keesaan Tuhan (Tauhid), kenabian, dan hari pembalasan.
Dia menekankan keadilan, belas kasih, kebersihan jiwa, dan tanggung jawab manusia di hadapan Sang Pencipta.
Dia juga menyinggung larangan minuman keras dan pentingnya pengendalian diri, hal yang membuat beberapa Viking mengerutkan kening.
Pertanyaan terus mengalir, kadang kritis, kadang penasaran. Fadhlan menjawab dengan sabar, logis, dan penuh ketenangan, menekankan persamaan di hadapan Tuhan dan keindahan hidup yang teratur.
Cahaya api memantul di wajah-wajah Viking yang mendengarkan dengan intens, sebuah pemandangan yang tak pernah terbayangkan oleh Fadhlan sebelumnya.
Titah Sang Raja dan Tugas Suci
Pertemuan itu berlangsung berjam-jam. Suasana berubah dari penuh kecurigaan menjadi penuh keingintahuan yang dalam.
Beberapa hari kemudian, Jarl Heimir memanggil Fadhlan lagi. Kali ini, wajah sang Raja tampak lebih serius, lebih kontemplatif.
“Utusan Fadhlan,” mulanya Heimir, suaranya berat. “Kisahmu tentang negeri yang teratur, tentang ilmu yang membuat hidup lebih baik, tentang keyakinan pada satu Tuhan yang Maha Adil… ini semua menggelisahkan pikiran kami.”
Dia memandang Fadhlan. “Kami Viking kuat di laut, tak terkalahkan dalam pertempuran. Tapi…” dia menghela napas, “kami melihat ketertibanmu. Kami mendengar tentang hukum-hukummu yang melindungi yang lemah. Kami merasakan… kedamaian dalam kata-katamu tentang Tuhanmu.”
Dia berdiri, langkahnya berat namun penuh wibawa. “Negeri kami butuh lebih dari sekadar kekuatan kapak. Kami butuh pengetahuan untuk membangun kota yang lebih baik, untuk mengatur perdagangan yang lebih adil, untuk mengolah tanah dengan lebih bijak. Dan jiwa kami…” dia menatap jauh, “… jiwa yang selalu haus akan keadilan dan makna di balik pertempuran dan gelombang, mungkin menemukan jawabannya dalam cahaya Tuhanmu.”
Heimir menatap Fadhlan langsung. “Maka dengarlah titahku, Utusan Khalifah. Kau tidak hanya diutus untuk menyampaikan salam. Kau diutus untuk membagi cahaya. Aku, Jarl Heimir, memberi kau izin dan perlindungan. Ajarkanlah keyakinanmu Islam kepada siapa pun di antara rakyatku yang ingin mendengar. Biarkan mereka mengenal Tuhan Yang Satu, hukum-hukum-Nya, dan cara hidup yang kau bawa. Dan bantulah kami. Bantulah kami membangun tempat pemandian umum seperti yang kau ceritakan, untuk kebersihan dan kesehatan. Bantulah kami mengatur pasar. Ajari kami tulisan dan angka-angka yang memudahkan perhitungan. Bagikan lah ilmu yang membuat Baghdad menjadi besar.”
Fadhlan tercekat. Hatinya dipenuhi gelombang emosi—syukur yang mendalam pada Allah, tanggung jawab yang amat besar, dan juga sedikit ketakutan. Ini lebih dari yang dia harapkan.
Ini adalah amanah raksasa. Dia membungkuk sangat dalam, menahan gejolak di dadanya.
“Yang Mulia Jarl Heimir,” ucapnya, suaranya bergetar penuh keyakinan, “dengan kerendahan hati dan rasa syukur yang tak terhingga, hamba terima titah Yang Mulia. Hamba akan berusaha sekuat tenaga, dengan ilmu dan keikhlasan, untuk membagi cahaya ilmu dan keimanan yang hamba bawa, serta membantu membangun negeri ini dengan segala pengetahuan yang hamba miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing langkah kita semua.”
Dia keluar dari balairung itu. Kabut pagi menyelimuti pemukiman Viking, tapi di hati Fadhlan, cahaya baru mulai menyingsing.
Tantangannya baru saja dimulai: membangun jembatan bukan hanya dari kayu dan besi, tapi dari iman, pengetahuan, dan pengertian antara dua dunia yang berbeda. Di dadanya, kalung Layla terasa hangat, seakan menguatkan tekadnya untuk menjadi pelita di negeri naga dan kabut ini.











https://shorturl.fm/hkocH
https://shorturl.fm/zbbOE