Ahmad bin Fadhlan, Jejak Langkah Khalifah di Negeri Para Naga – Episode Akhir

EPISODE: JEJAK-JEJAK CAHAYA DI NEGERI KABUT 

Mata Sang Pencatat

Ahmad bin Fadhlan menjadi pengamat yang tekun. Di balik tugas resminya, pena dan kertasnya tak pernah berhenti bergerak.

Dengan mata yang tajam dan rasa ingin tahu yang tulus, ia mencatat segala hal tentang Viking ini.

Ia mengamati ritual minum “mead” (bir madu) di balairung, sorak-sorai yang menggelegar mengiringi cerita kepahlawanan (saga) yang dibawakan oleh seorang “skald” (penyair).

Ia mencatat detail “Thing” (majelis hukum) di lapangan terbuka, di mana para “jarl” dan rakyat biasa berdebat dengan suara lantang, keputusan diambil dengan suara terbanyak, dan terkadang diselesaikan dengan “holmgang” (pertarungan tunggal).

Ia mengamati cara mereka membangun kapal panjang yang sempurna, teknik berlayar dengan membaca bintang dan arus, ritual pemakaman di atas kapal yang dibakar, hingga kepercayaan mereka pada “Valhalla” dan dewa-dewa “Asgard”.

Setiap goresan tintanya adalah upaya untuk memahami jiwa bangsa yang keras namun penuh kehormatan ini.

Catatannya bukan hanya untuk Khalifah, tapi juga untuk dirinya sendiri, sebagai jembatan untuk menjalankan misinya dengan lebih bijaksana.

Ia melihat kehebatan mereka di laut, kesetiaan pada klan, dan keberanian yang mematikan, tetapi juga melihat kerinduan akan ketertiban dan makna yang lebih dalam di balik topeng kebuasan.

Menyebarkan Cahaya Tauhid

Dengan restu Jarl Heimir, Fadhlan mulai menggerakkan rombongannya. Ia bukan hanya seorang utusan, kini ia menjadi pemimpin misi.

Dengan bijak, ia membagi tugas. Para ulama dan cendekiawan dalam rombongannya yang sebelumnya lebih banyak diam kini ia perintahkan untuk mulai mengajarkan Islam.

“Ingatlah,” pesannya dalam pertemuan internal mereka di rumah panjang mereka yang telah menjadi semacam madrasah kecil, “ajarkan dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Bantulah mereka memahami keesaan Allah dengan akal dan hati. Tunjukkan keindahan akhlak Rasulullah ﷺ. Bersabarlah seperti kesabaran Nabi Nuh ﷺ. Jangan memaksa, tapi jadilah teladan yang hidup.”

Pengajaran dilakukan di berbagai kesempatan. Di tepi kapal yang sedang diperbaiki, di dekat perapian saat malam panjang, bahkan di sela-sela Thing.

Awalnya hanya segelintir orang yang penasaran, terutama mereka yang telah terkesan dengan ketenangan dan ilmu Fadhlan.

Lambat laun, ceramah tentang keesaan Tuhan, tentang hari pembalasan, tentang pentingnya salat dan zakat, mulai menarik lebih banyak pendengar.

Suara lantunan Al-Qur’an yang merdu, meski asing, memancarkan ketenangan yang berbeda. Beberapa Viking, terutama dari kalangan yang lebih muda atau yang mencari kedamaian di tengah kehidupan keras mereka, mulai menunjukkan minat serius.

Prosesnya lambat, penuh tantangan, tapi benih-benih iman mulai bertunas di tanah yang beku.

Membangun Jembatan dan Tempat Bertahta

Sementara itu, para insinyur dan ahli bangunan yang dibawa Fadhlan mulai menunjukkan keahliannya. Mereka tak hanya membangun untuk diri sendiri, tapi melatih para Viking.

Dengan batu, kayu, dan teknik baru, mereka membangun jembatan yang kokoh melintasi sungai deras yang sebelumnya hanya bisa diseberangi dengan perahu atau di musim dingin saat membeku.

Mereka merancang tempat pemandian umum (hammam) sederhana di dekat sumber air panas, mengajarkan pentingnya kebersihan dan ritual wudhu sekaligus.

Rumah-rumah kayu mulai dibangun dengan teknik yang lebih tahan terhadap dingin dan angin kencang, dengan ventilasi yang lebih baik.

Bahkan, mereka mulai merancang fondasi untuk bangunan permanen yang lebih besar, menggantikan tenda atau gubuk sementara.

Para Viking, yang awalnya skeptis, mulai kagum melihat efisiensi dan kekokohan hasil karya para “tukang ajaib dari selatan” ini. Batu bata dan mortar mulai dikenal di samping kayu gelondongan.

Tabib di Tengah Pertempuran

Para ahli kesehatan dalam rombongan Fadhlan menjadi sangat berharga. Mereka memperkenalkan konsep pengobatan yang lebih sistematis, jauh dari sekadar jampi-jampi atau pengorbanan untuk dewa.

Mereka mengajarkan cara merawat luka dengan lebih steril menggunakan rebusan herba tertentu, mengenali gejala penyakit, membuat ramuan dari tanaman lokal yang mereka pelajari khasiatnya, dan dasar-dasar pencegahan penyakit melalui kebersihan dan makanan bergizi.

Mereka merawat prajurit yang terluka dalam perampokan atau pertikaian antar klan, merawat anak-anak yang demam, dan bahkan membantu persalinan.

Keahlian mereka, terutama dalam merawat luka parah yang biasanya berakibat fatal, membuat mereka dihormati bahkan oleh para pejuang Viking yang paling keras sekalipun.

Kata tabib mulai dikenal di seluruh pemukiman.

Menata Hukum di Bawah Langit yang Sama

Para ahli hukum dan administrasi Fadhlan mulai bekerja sama dengan sistem Thing yang sudah ada. Mereka tidak menggantikan, tetapi memperkaya.

Mereka memperkenalkan konsep kesaksian yang lebih ketat, pencatatan transaksi jual-beli dan hutang piutang secara tertulis (sebelumnya hanya berdasarkan ingatan dan saksi), serta konsep hukuman yang lebih proporsional dan bertujuan memperbaiki, bukan hanya balas dendam.

Mereka membantu merumuskan hukum dasar yang lebih tertulis untuk perdagangan dan hubungan antar klan, mengurangi potensi konflik.

Meski awalnya dianggap rumit dan lembut oleh beberapa jarl tua, Jarl Heimir melihat manfaatnya untuk menciptakan stabilitas yang lebih besar, terutama dalam hubungan dagang yang mulai berkembang pesat berkat kontak dengan dunia Islam.

Prinsip keadilan dalam Islam (‘adl) mulai meresap perlahan ke dalam sistem hukum mereka.

Saatnya Membawa Pulang Cahaya

Musim demi musim berlalu. Salju datang dan pergi berkali-kali. Ahmad bin Fadhlan telah melihat rambutnya mulai memutih, seperti Jarl Heimir yang kini semakin sepuh.

Sebuah komunitas Muslim kecil namun solid telah terbentuk di tengah masyarakat Viking. Masjid sederhana pertama telah berdiri.

Sistem perdagangan lebih tertata. Beberapa bangunan permanen telah mengubah wajah pemukiman. Ilmu-ilmu dasar telah diajarkan. Misi utamanya telah terlaksana, bahkan melampaui harapan.

Surat dari Khalifah yang baru (setelah al-Muqtadir wafat) telah tiba, memanggilnya pulang untuk melaporkan segala pencapaian.

Rasa rindu yang tertahan pada tanah air, pada istri tercinta Layla, dan anak-anak yang mungkin telah dewasa, memuncak.

Dengan perasaan campur aduk, bangga, haru, sedih meninggalkan “rumah” keduanya, Fadhlan mengumpulkan rombongannya.

Persiapan kepulangan dimulai. Barang-barang pribadi dikemas, hadiah dan laporan berharga untuk Khalifah disiapkan dengan hati-hati, termasuk catatan fenomenalnya tentang budaya Viking.

Pengawal yang tersisa (beberapa memilih menetap) memeriksa persiapan kuda dan unta. Suasana di rumah panjang mereka penuh dengan kesibukan yang diselimuti kesedihan halus.

Pamitan di Balairung Sang Raja

Fadhlan dan rombongan utama berdiri kembali di balairung Jarl Heimir. Suasananya khidmat, jauh berbeda dari pertemuan pertama yang penuh kecurigaan.

Jarl Heimir kini duduk dengan tatapan penuh penghormatan, dikelilingi para jarl dan pemuka masyarakat, termasuk beberapa wajah baru yang telah memeluk Islam dan mengenakan pakaian yang lebih sederhana.

“Fadhlan, sahabat dari Selatan,” suara Heimir terdengar berat oleh usia dan emosi. “Kedatanganmu dulu bagai angin asing. Kepergianmu kini bagai perginya saudara.”

Para Viking yang hadir mengangguk khidmat, beberapa mata berkaca-kaca, termasuk Rurik yang kini sudah menjadi jarl berpengaruh.

“Kau dan orang-orangmu telah meninggalkan jejak yang tak akan terhapus di negeri kami. Kau membawa bukan hanya kain dan rempah, tapi cahaya ilmu, hukum, dan keyakinan yang mulai menghangatkan hati kami yang beku. Bangunan-bangunan kokoh itu, jembatan yang menghubungkan kami, hukum yang menata kami, dan cahaya iman yang mulai bersinar di antara kami, adalah hadiah terbesarmu.” Lanjut Heimir dengan suara berat.

Fadhlan membungkuk sangat dalam, suaranya bergetar. “Yang Mulia Heimir, sahabat terhormat. Kepercayaan dan kebaikan Yang Mulia membuka jalan bagi kami. Hamba hanyalah alat di tangan Allah. Jejak yang kami tinggalkan adalah bukti kekuasaan-Nya yang mampu menyatukan hati yang jauh. Negeri ini dan rakyatnya telah menjadi bagian dari jiwa hamba. Kepergian ini terasa seperti memotong daging sendiri.”

Ia menyerahkan dokumen terakhir, berisi catatan perkembangan dan rekomendasi. “Ini laporan terakhir untuk Yang Mulia. Semoga Allah senantiasa melindungi negeri ini dan pemimpinnya yang bijaksana.”

Heimir berdiri, langkahnya gontai tapi penuh wibawa. Ia turun dari singgasananya, mendekati Fadhlan.

Ia melepas kalung emas berat bertatahkan batu amber yang selalu dikenakannya, simbol kekuasaannya.

“Terimalah ini, Fadhlan,” ujarnya, mengalungkannya ke leher Fadhlan. “Sebagai tanda persahabatan abadi antara negeri kami dan Baghdad. Dan sebagai pengingat bagi Khalifah-mu, bahwa di ujung utara yang dingin, ada sahabat yang menghormatinya, karena mengirimkan engkau.”

Jabat tangan mereka erat, kuat, penuh makna, mewakili tahun-tahun kerja sama, saling belajar, dan rasa saling menghargai yang dalam.

Keberangkatan dan Larut dalam Kabut

Keesokan harinya, saat fajar masih kelabu dan kabut menyelimuti teluk, rombongan Fadhlan siap berangkat.

Namun, pemandangan yang menyambut mereka di luar rumah panjang membuat hati Fadhlan tersentak. Bukan hanya para pengawal Viking yang ditugaskan mengawal, tapi hampir seluruh pemukiman telah berkumpul.

Para pria Viking dengan kapak dan perisai mereka berdiri tegak dalam barisan kehormatan.

Para wanita dan anak-anak berdiri di depan, banyak yang menangis. Di barisan depan, berdiri komunitas Muslim Viking, pria dan wanita, dengan air mata berlinang namun wajah penuh keyakinan.

Seorang pemuda Viking yang baru memeluk Islam maju, memegang tangan Fadhlan. “Guru,” bisiknya, “doakan kami. Kami akan menjaga cahaya yang kau tinggalkan.”

Rombongan mulai bergerak perlahan meninggalkan pemukiman menuju jalur di bukit yang akan membawa mereka ke pelabuhan di selatan.

Tapi kerumunan itu tidak beranjak. Mereka berjalan mengiringi, perlahan, dalam keheningan yang mengharukan.

Anak-anak kecil berlari di samping unta Fadhlan, menyentuh jubahnya untuk terakhir kali.

Para wanita melemparkan bunga-bunga liar yang baru mekar. Para lelaki Viking mengangkat kapak mereka tinggi-tinggi, bukan sebagai ancaman, tapi sebagai salam penghormatan terakhir – “salut” bagi sahabat yang pergi.

Mereka terus mengiringi, melewati bukit pertama. Fadhlan menoleh, pemukiman itu mulai kecil di kejauhan, tapi lautan manusia masih mengikutinya.

Mereka terus berjalan, melewati bukit kedua. Barulah di sana, di puncak bukit ketiga yang memandang ke lembah luas di selatan, rombongan Fadhlan berhenti.

Fadhlan turun dari untanya, menghadap ke kerumunan besar yang masih setia mengantarnya.

“Dengan nama Allah, kami pergi!” teriaknya, suaranya lantang menembus kabut dan keheningan. “Tetaplah dalam rahmat-Nya, sahabat-sahabatku! Semoga jalan kita dipertemukan lagi!”

Dari ribuan orang di bawah, terdengar teriakan yang menggema, dipimpin oleh Jarl Heimir dan Rurik yang sudah menunggu di sana: “Selamat jalan, Fadhlan! Selamat jalan, Sahabat dari Selatan! “Fara í friði!” (Pergilah dalam damai!)”

Fadhlan membungkuk terakhir kali, air matanya akhirnya tumpah. Ia naik kembali ke untanya.

Rombongan mulai menuruni bukit, menuju kapal yang akan membawanya pulang.

Ketika ia menoleh untuk yang terakhir kalinya, di puncak bukit itu, masih terlihat siluet-siluet tegak, tangan melambai, larut dalam kabut abu-abu utara.

Di dadanya, terasa hangat kalung Layla dan kalung emas Jarl Heimir. Ia membawa pulang bukan hanya laporan dan hadiah, tapi sepotong hati negeri Viking, jejak cahaya yang ditinggalkannya dan kenangan tentang bangsa gagah yang belajar merengkuh kedamaian.

Perjalanan pulangnya dimulai, membawa cerita yang akan mengguncang istana Baghdad dan mengukir namanya dalam tinta emas sejarah.

THE END

Responses (2)

  1. Greetings,

    We have a custom option for your website bewarasiliwangi.com : https://www.youtube.com/watch?v=GY1x2NWs9EA?bewarasiliwangi.com

    Worn out from subscribing to so many automation apps?
    With EveryAI you gain entry to a unified panel that provides plenty of intelligent systems without monthly fees.

    Develop sites, produce text, develop marks, produce ultra-HD visuals, animated presenters… and keep 100% of your revenue under a commercial license.

    Looking to boost profit, simplify tasks, and stay in full control?
    It kicks off here.

    Watch how it works: https://www.youtube.com/watch?v=GY1x2NWs9EA?bewarasiliwangi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *