Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com
EPISODE: BAYI DI BAWAH JEMBATAN THAMES
Bayi di Bawah Jembatan Thames – London, 1803
Hujan deras menghantam batu-batu jalan London seperti cambuk Tuhan yang murka. Malam itu, angin musim dingin menusuk tulang, dan asap dari cerobong-cerobong rumah miskin membubung kelabu ke langit yang kelam.
Di bawah lengkungan jembatan Southwark, di antara genangan air dan bau amis sungai, seorang wanita muda berlutut, menggigil bukan hanya karena dingin, tetapi karena ketakutan yang menggerogoti jiwanya.
Ia memeluk bungkusan kecil yang dibalut kain kotor—seorang bayi laki-laki yang baru berusia beberapa jam. Napasnya tersengal. Matanya basah, bukan hanya oleh hujan.
Ia menatap bayi itu, lalu menatap sosok tua yang duduk menyandar di dinding bata: seorang perempuan tunawisma, wajahnya keriput oleh waktu dan penderitaan, tubuhnya terbungkus mantel yang sudah tak berbentuk.
“Tolong… ambil dia,” bisik sang ibu, suaranya pecah. “Aku tak bisa… aku tak bisa membesarkannya. Suamiku mati di galangan, aku tak punya uang, tak punya rumah… tapi tolong… jangan biarkan dia mati.”
Perempuan tua itu menatap bayi itu lama. Ia tak berkata apa-apa. Tapi saat sang ibu meletakkan bayi itu di pangkuannya dan berlari lenyap dalam kabut malam, si tua hanya menatap langit, lalu memeluk bayi itu erat, seperti memeluk janji terakhir yang tersisa dari dunia yang telah lama meninggalkannya.
“Namamu Edward,” bisiknya. “Edward, kamu milikku sekarang.”
Anak Jalanan di Lambeth, 1810 – 1820
Edward tumbuh di antara bayangan London—di lorong-lorong sempit Lambeth, di antara gudang-gudang tua yang bocor, di balik tembok-tembok yang retak oleh waktu.
Ibu angkatnya, Martha, seorang wanita yang dulunya penenun dari Yorkshire, kini hanya bisa mengais sisa makanan dari pasar dan menyanyikan lagu-lagu tua yang tak lagi dikenal siapa pun.
Tapi di mata Edward, Martha adalah seorang peri dan ratu yang penuh rasa kasih sayang. Martha mengajarinya membaca dari koran-koran basah yang tergeletak di trotoar.
Ia mengajaknya mendengarkan ombak sungai, dan berkata, “Dengar, Edward, itu suara dunia yang jauh. Dunia yang lebih besar dari London ini. Dunia yang masih punya tempat untuk kita.”
Edward mengingat semua itu. Ia mengingat tangan Martha yang keriput gemetar saat memberinya roti basi, tapi selalu tersenyum dengan tatapan kasih sayang.
Ia mengingat malam-malam ketika mereka berdua saling memeluk untuk menghangatkan tubuh, dan Martha berbisik, “Kamu akan jadi lelaki yang baik. Aku tahu. Aku merasakannya.”
Tapi London tak peduli pada harapan. Kota ini memakan yang lemah, dan yang tak punya uang adalah yang paling lemah.
Pencuri di Bawah Bayang-Bayang Gaslight, 1823
Pada usia 18, Edward sudah menjadi bayangan di jalan-jalan gelap London. Bersama teman-temannya—Tom si buta sebelah mata, Billy si pencopet lincah, dan Sarah si perempuan jalanan yang pandai membuka gembok—mereka menyusup ke toko-toko makanan di Covent Garden, mencuri tepung, daging asap, dan sekotak kecil gula.
Mereka tak mencuri karena ingin kaya. Mereka mencuri agar Martha bisa makan. Agar tubuh tua itu tak lagi gemetar saat angin musim dingin datang.
Suatu malam, mereka membobol toko perhiasan di Fleet Street. Edward memecah jendela dengan kain pelindung, masuk seperti kucing, dan mengambil dua kalung perak.
Tapi saat mereka keluar, lampu gas menyala, dan suara teriakan memecah malam. Polisi berpakaian biru tua datang dengan tongkat besi.
Tom tertangkap. Billy kabur. Sarah ditangkap seminggu kemudian. Dan Edward? Ia kabur, tapi hatinya hancur.
Keesokan harinya, ia menemukan Martha sudah tak bernyawa di bawah jembatan, tangannya masih memegang roti basi yang Edward berikan malam sebelumnya.
Edward menangis tanpa suara. Dadanya terasa sesak dan matanya perih… Sangat perih. Menahan sesuatu yang tak mampu ia ungkapkan.
Hujan turun lagi. Dan kali ini, tak ada lagi yang memeluknya dengan penuh rasa kasih dan tatapan sayang seorang ibu yang teduh dan menenangkan.
Penjara Newgate, 1824
Edward tertangkap tiga bulan kemudian saat mencoba mencuri sepotong daging dari dapur rumah mewah di Bloomsbury.
Ia tak melawan saat ditangkap. Ia hanya menatap polisi itu dan kemudian menunduk, lalu berkata lirih, “Saya lapar. Saya hanya ingin makan.”
Di pengadilan, hakim berjubah hitam berkata, “Edward Clarke, kamu dihukum karena pencurian berulang. Hukumanmu: deportasi ke koloni di Australia. Kamu akan menjadi buruh paksa di tanah baru. Semoga Tuhan mengampuni mu, karena Inggris tidak bisa.”
Penjara Newgate adalah neraka yang dibangun dari batu. Bau tinja, penyakit, dan jeritan manusia menghantui setiap sudut.
Edward dipenjara selama delapan bulan sebelum kapal pengangkut tahanan tiba. Ia tidur di lantai becek, makan roti busuk, dan setiap malam membayangkan wajah Martha yang selalu tersenyum.
Namun dalam kegelapan itu, ia menemukan sesuatu: sebuah buku kecil yang ditinggalkan tahanan sebelumnya—Robinson Crusoe karya Defoe.
Ia membacanya berulang kali. Dan dalam kisah pulau terpencil itu, ia menemukan benih harapan. Jika Crusoe bisa bertahan, mengapa aku tidak?
Pelayaran ke Terra Australis – Kapal HMS Dromedary, 1825
Kapal Dromedary berangkat dari Portsmouth pada bulan Maret 1825, membawa 200 tahanan—pria, wanita, anak-anak—semua diikat rantai, dikurung di bawah dek seperti ternak.
Udara di bawah dek bau amis darah, keringat, dan muntah. Lautan yang tak berujung mengguncang kapal, dan setiap hari ada yang mati—diserang demam, disiksa oleh sipir, atau bunuh diri dengan melompat ke laut.
Edward berada di antara mereka. Ia tak menangis. Ia hanya menatap laut biru tua, yang membentang seperti surat cinta dari masa depan yang tak pasti.
Ia berbagi roti dengan seorang perempuan tua yang kehilangan anaknya. Ia membacakan kutipan dari Robinson Crusoe kepada anak-anak tahanan yang tak mengerti artinya, tapi tertawa karena suaranya lembut.
Di malam hari, ia menulis di selembar kertas basah yang diselundupkannya:
“Aku tak tahu apa yang menungguku di sana. Tapi aku tahu, jika Martha bisa melihatku sekarang, ia akan berkata: ‘Terus berjalan, Edward. Dunia masih punya tempat untukmu.”
Pelabuhan Sydney, 1825
Ketika kapal Dromedary berlabuh di Sydney Cove, Edward turun dengan kaki yang gemetar. Ia melihat tanah cokelat kemerahan, pepohonan tinggi yang tak pernah dilihatnya, dan udara yang hangat, berbeda dari dinginnya London.
Di sana, pegawai kolonial berdiri dengan topi tinggi, membaca nama-nama tahanan, lalu menunjuk ke arah ladang, tambang, atau pabrik.
Saat nama Edward dipanggil, ia maju. Wajahnya kotor, bajunya compang-camping, tapi matanya bersinar, bukan karena kebahagiaan, tapi karena sesuatu yang lebih dalam: keputusan.
Ia melihat ke langit, ke arah matahari yang terbit di balik bukit. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang aneh: bukan harapan palsu, bukan keputusasaan, tapi kesempatan.
“Australia,” bisiknya. “Tanah yang belum mengenal namaku.”
Ia tahu, ia akan menjadi buruh paksa. Ia tahu, ia mungkin tak pernah kembali ke Inggris. Tapi di sini, di ujung dunia, ia bisa memulai dari nol. Ia bisa menjadi lebih dari seorang pencuri. Ia bisa menjadi manusia.
Dan saat angin dari lautan Pasifik menyapu wajahnya, Edward menutup mata, lalu berbisik pelan, seolah Martha mendengarnya dari alam baka:
“Terima kasih, Ibu. Aku akan hidup. Aku akan bertahan.”
Di ujung dunia, kadang harapan tumbuh bukan dari kemewahan, tapi dari debu, air mata, dan nama yang tak lagi diingat oleh kota yang pernah mengusir mu.
Catatan Sejarah (Referensi Historis):
Antara 1787 dan 1868, Inggris membuang sekitar 160.000 tahanan ke Australia dalam sistem “penal transportation”.
Kapal-kapal seperti HMS Dromedary memang digunakan untuk mengangkut tahanan ke koloni.
Kondisi penjara di London seperti Newgate sangat buruk, dan hukuman pencurian kecil bisa berujung pada deportasi.
Tahun 1825 adalah masa puncak deportasi ke New South Wales, termasuk Sydney.
Kisah Edward fiktif, tetapi mencerminkan realitas ribuan tahanan miskin yang diasingkan demi memulai kehidupan baru di koloni.











WOW MANTAPP!!
Good
Sangat bagus
WOW MANTAP
Wow mantap
WOW MANTAP!!!
KERENN
WOWW MANTAP
Luar biasa
MANTAP👍
BAGUSSS BANGETT
Baguss
MANTAP
BAGUS
MANTAP
Mantap
Mantap bangettt
MANTAP
MANTAP sekali
Mantapp
Woww mantapp
Mantaf
Bagussss!!!
BAGUS
Wow Mantap
woww bagus
woww mantap
WOW BAGUS
Wow bagus
WOW MANTAP
baguss