EPISODE: TANAH DI UJUNG BENUA
Ladang di Parramatta, Musim Panas 1826
Edward ditempatkan di sebuah perkebunan gandum milik pemerintah kolonial di Parramatta, dua puluh mil dari Sydney Cove.
Ia bekerja dari fajar hingga senja, mencangkul tanah yang keras seperti tulang, membajak ladang di bawah terik matahari yang membakar kulit.
Sipir berjalan dengan senapan di bahu, mata tajamnya mengawasi setiap gerak para tahanan. Tapi Edward tak pernah melawan. Ia bekerja dengan kepala tertunduk, tapi hatinya menatap jauh ke depan—ke sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain.
Suatu sore, saat ia duduk sendiri di tepi sungai yang tenang, ia melihat bayangan di air: seorang perempuan. Ia menoleh. Di bawah pohon eucalyptus yang rindang, seorang wanita berdiri—kulitnya sawo matang, rambutnya hitam seperti malam, matanya dalam seperti danau pegunungan.
Ia bukan tahanan. Ia penduduk asli, dari suku Darug, yang masih berani mendekati ladang meski dilarang oleh para penjajah.
Namanya Mali.
Ia tak bicara bahasa Inggris, tapi ia tersenyum. Dan dalam senyum itu, Edward merasa seperti menemukan kembali udara yang pernah hilang sejak kematian Martha.
Mereka mulai bertemu diam-diam. Setiap hari, saat Edward selesai bekerja, ia meninggalkan sepotong roti atau selembar kain di bawah pohon yang sama. Dan selalu, keesokan harinya, roti itu hilang, diganti dengan bunga kering atau bulu burung.
Hingga suatu malam, Mali datang. Ia duduk di sampingnya. Tidak bicara. Hanya mendengarkan Edward membaca potongan-potongan puisi dari buku Robinson Crusoe yang sudah sobek, lalu tertawa pelan saat ia salah mengucapkan kata.
“Kenapa kamu tertawa?” tanya Edward, canggung.
Mali menunjuk ke bintang di langit, lalu ke dadanya, lalu ke Edward. Seolah berkata:
“Kita sama. Di bawah langit yang sama. Di tanah yang sama. Tapi tak punya tempat yang sama”.
Edward mengerti. Ia meraih tangannya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa dicintai bukan karena apa yang bisa ia ambil, tapi karena siapa dirinya.
Api di Tengah Malam, 1827
Cinta mereka tumbuh seperti akar di bawah tanah—diam-diam, kuat, tak terlihat. Tapi dunia kolonial tak mengenal cinta yang melampaui batas ras. Ketika sipir melihat Edward dan Mali berjalan bersama di pinggir sungai, mereka ditangkap.
Edward dipukul hingga berdarah. Mali ditahan, lalu dikirim jauh ke pedalaman, ke kamp “pembinaan” di mana orang-orang Aborigin dipaksa meninggalkan bahasa dan adat mereka.
Edward dihukum tambahan dua tahun kerja paksa. Ia dikirim ke tambang batu bara di Newcastle, tempat udara hitam oleh debu, dan suara manusia terdengar seperti rintihan hantu.
Tapi di malam-malam sunyi, ia menulis surat yang tak pernah dikirim.
“Mali, bintang-bintang di sini sama seperti di Parramatta. Aku melihat Salib Selatan setiap malam. Kau ajarkan aku namanya. Kau bilang, itu jalan menuju rumah. Tapi rumahku sekarang adalah tempat di mana kau berdiri. Jika kau tak bisa kembali, maka aku yang akan pergi mencari mu. Aku bukan tahanan. Aku manusia. Dan manusia punya hak untuk mencintai.”
Pembebasan dan Perjalanan, 1830
Setelah lima tahun kerja paksa, Edward akhirnya mendapat surat pembebasan “certificate of freedom”.
Ia bukan tahanan lagi. Ia bebas. Tapi kebebasan itu hampa tanpa Mali.
Ia tak tinggal di Sydney. Ia menyewa kuda, membawa sedikit uang hasil menyimpan dari upah kecilnya, dan pergi ke pedalaman. Ia bertanya pada para petani, pedagang, bahkan pada sesama mantan tahanan:
“Apakah kau melihat seorang perempuan? Rambut hitam. Mata seperti sungai malam.”
Bertahun-tahun ia mencari. Melintasi gurun pasir, mendaki bukit batu, tidur di bawah langit terbuka. Ia sakit, hampir mati karena dehidrasi, tapi selalu bangkit. Karena di setiap matahari terbit, ia melihat wajah Mali.
Hingga suatu pagi, di sebuah lembah dekat Blue Mountains, ia melihat asap. Ia mendekat. Di sana, sebuah perkampungan kecil. Dan di tengahnya, seorang perempuan menggiling biji dengan batu.
Ia berdiri mematung.
Mali menoleh.
Dunia berhenti.
Tak ada kata. Tak perlu. Mereka berjalan satu sama lain, pelan, seperti takut ini hanya mimpi. Lalu mereka berpelukan—lama, erat, seperti dua pohon yang akarnya akhirnya menyatu setelah terpisah oleh banjir.
Rumah di Ujung Dunia, 1835
Edward dan Mali membangun sebuah gubuk kecil di lereng bukit, menghadap ke lembah yang dipenuhi bunga kuning musim semi.
Edward menanam gandum, memelihara domba, dan membuat jalan kecil ke sungai. Mali mengajarinya bahasa Darug, cara membaca angin, cara mendengar bisikan hutan.
Mereka tak punya anak, tapi mereka punya burung-burung yang datang setiap pagi, punya bunga yang tumbuh liar di depan rumah, punya malam-malam yang dipenuhi cerita dan tawa.
Suatu sore, Edward duduk di batu favoritnya, membuka buku Robinson Crusoe yang sudah hampir hancur. Ia membacakan kalimat terakhir:
“Dan di sini, di ujung dunia, aku menemukan bahwa pulau bukanlah tempat pengasingan, tapi tempat kelahiran kembali.”
Mali tersenyum, lalu meletakkan kepalanya di bahunya.
Langit memerah. Angin berbisik. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Edward merasa—bukan hanya bertahan, tapi hidup.
Epilog:
Surat yang Tak Terkirim (Ditemukan di Gubuk di Blue Mountains, 1880)
“Kepada Martha, Jika surat ini bisa terbang melewati waktu dan laut, aku ingin kau tahu: Aku berhasil. Aku bukan pencuri. Bukan tahanan. Aku Edward—lelaki yang kau peluk di bawah jembatan. Aku menemukan cinta. Aku menemukan tanah. Aku menemukan rumah. Dan di sini, di ujung dunia, aku tahu: harapan bukanlah sesuatu yang datang dari luar. Harapan adalah sesuatu yang kau bawa, seperti roti yang kau sembunyikan di saku, untuk hari ketika kau benar-benar lapar.
Terima kasih, Ibu.
Aku hidup.
Dan aku bahagia.
Edward, 1838″
Di tanah yang asing, kadang cinta adalah satu-satunya peta yang kita miliki. Dan kadang, justru di sanalah kita menemukan nama sejati kita.










