EPISODE: ANAK DARI DEBU DAN BINTANG
Hujan di Musim Semi, 1842
Lima belas tahun telah berlalu sejak Edward kembali menemukan Mali di lembah Blue Mountains. Rambutnya yang dulu cokelat kini memutih seperti salju yang jarang turun di tanah ini.
Tangannya penuh bekas luka dari kerja keras, tapi matanya meski keriput masih menyimpan cahaya yang sama: cahaya dari seorang pemuda yang pernah berjalan di bawah gaslight London – mencuri sepotong roti demi ibunya.
Mali pun telah menua. Kulitnya yang dulu halus kini berjaring seperti daun kering di musim kering, tapi suaranya tetap lembut, seperti aliran sungai kecil yang tak pernah kering.
Mereka hidup dalam damai, di gubuk kayu yang dikelilingi ladang gandum kecil dan kebun bunga aborigin yang berwarna-warni.
Namun, di balik kedamaian itu, ada satu luka yang tak pernah sembuh: mereka tak pernah bisa memiliki anak.
“Tanah ini memberi kita segalanya,” kata Mali suatu malam, sambil menatap api di perapian. “Tapi tak memberi kita darah yang meneruskan nama.”
Edward hanya menggenggam tangannya. Ia tak menjawab. Tapi hatinya berbisik: “Aku telah kehilangan terlalu banyak. Tapi aku tak akan kehilangan harapan.”
Bayi di Bawah Pohon Wattle, 1845
Pada musim semi 1845, ketika bunga wattle mekar kuning keemasan di seluruh lembah, terjadi sesuatu yang tak pernah mereka duga.
Seorang perempuan muda dari suku Darug datang ke gubuk mereka, menggendong bayi yang dibungkus kain tenun. Ia menangis. Ia berkata dalam bahasa campuran Inggris dan Darug:
“Anak ini… anak dari saudaraku. Suaminya mati dibunuh oleh penjajah. Aku tak bisa merawatnya. Tapi aku tahu orang kalian baik. Kalian punya hati yang hangat. Tolong… ambil dia.”
Edward dan Mali saling pandang. Lama. Dalam diam, ribuan kata terucap. Mereka tahu ini bukan hanya permintaan. Ini adalah takdir.
Bayi itu berusia enam bulan, laki-laki, dengan mata gelap seperti langit malam dan rambut hitam lembut.
Mereka menamainya “Kael”, yang dalam bahasa Darug berarti “angin yang membawa kehidupan baru”.
Untuk pertama kalinya, Edward merasakan sesuatu yang asing namun begitu dalam: ia dipanggil “Ayah”.
Rumah yang Bernyanyi, 1850
Gubuk kecil di lereng bukit kini dipenuhi tawa. Kael tumbuh cepat, lincah, cerdas, menguasai dua bahasa: Inggris dari Edward, dan Darug dari Mali. Ia belajar membajak, memanah, membaca bintang, dan mendengar suara hutan.
Edward mengajarinya membaca dari buku Robinson Crusoe yang sudah nyaris hancur. Ia bercerita tentang London, tentang penjara, tentang ibu angkatnya yang menyerahkan nyawanya demi satu roti. Ia tak menyembunyikan masa lalunya. Ia berkata:
“Kael, manusia bukan diukur dari kesalahan masa lalu, tapi dari cinta yang ia berikan di masa kini.”
Mali mengajar Kael tentang akar tanaman, tentang lagu-lagu leluhur, tentang cara mendengar bisikan angin.
Ia berkata, “Tanah ini mengingat semua yang pernah hidup di atasnya. Dan kamu, anak ku, adalah bagian dari ingatannya.”
Di malam hari, mereka duduk bersama di luar, menatap Salib Selatan. Edward memeluk Mali. Kael berbaring di pangkuan Edward, matanya terbuka lebar.
“Ayah,” bisik Kael, “Apakah kita bahagia?”
Edward menatap langit, lalu ke Mali, lalu ke anaknya.
“Kita lebih dari bahagia, Nak. Kita hidup. Dan hidup ketika diisi cinta adalah keajaiban.”
Warisan, 1860
Ketika Edward berusia 58 tahun, pemerintah kolonial menawarkan tanah resmi, sebidang tanah seluas 20 hektar sebagai pengakuan atas kerja kerasnya selama puluhan tahun.
Ia hanya mengambil cukup untuk keluarganya dan sisanya dibagikan kepada beberapa keluarga Darug yang terusir.
Ia membangun sekolah kecil dari kayu dan atap rumbia tempat Kael dan anak-anak lain belajar membaca, menulis, dan menghormati dua dunia: dunia penjajah yang datang, dan dunia asli yang selalu ada.
Di samping sekolah beberapa pohon eucalyptus ditanam di mana koala-koala lucu hidup dan tinggal menambah hidup suasana sekolah.
Di dinding sekolah itu, Edward menulis dengan tangan sendiri:
“Di sini, kami tidak melupakan masa lalu. Kami membangun masa depan dari debu, air mata dan cinta.”
Akhir yang Tenang, 1870
Edward meninggal di usia 68 tahun, di pangkuan Mali, di bawah pohon wattle yang sama tempat Kael pertama kali dibawa ke rumah mereka.
Ia tak sakit keras. Ia hanya tertidur, setelah membacakan puisi Wordsworth untuk yang terakhir kalinya.
Kael menanam sebuah pohon oak di dekat gubuk, pohon dari benih yang dibawa Edward dari London, yang akhirnya tumbuh subur di tanah asing.
Mali hidup lima tahun lebih lama. Saat ia meninggal, ia dimakamkan di samping Edward. Di batu nisan mereka, tertulis dalam dua bahasa:
Edward Clarke:
Pencuri yang menjadi petani. Tahanan yang menjadi ayah. Manusia yang menemukan rumah di ujung dunia.
Mali of the Darug:
Penjaga bumi. Penyanyi angin. Ibu dari hati yang tak pernah kering.
Surat dari Kael, 1890
“Kepada Ayah dan Ibu, Aku kini berusia 50 tahun. Aku punya tiga anak. Mereka tumbuh di tanah yang kalian rawat dengan darah, keringat, kasih dan doa.
Sekolah itu masih berdiri. Anak-anak dari semua bangsa belajar di sana. Aku masih membaca buku Robinson Crusoe milikmu, Ayah. Halaman terakhir sudah hampir lepas, tapi aku jahit dengan benang dari jubah Ibu.
Aku tak pernah tahu dari darah siapa aku berasal. Tapi aku tahu, dari cinta siapa aku lahir. Dan itu lebih dari cukup.
Terima kasih karena kau memilih untuk tetap percaya. Karena kau memilih untuk kembali. Karena kau memilih untuk mencintai.
Di sini, di tanah yang kau sebut tanah harapan kami hidup. kami tumbuh. kami damai. Dan aku tahu kau tersenyum dari balik cahaya bintang.
Kael”
Epilog
Ada yang lahir dari istana, tapi tak pernah merasa aman. Ada yang lahir dari penjara, tapi menemukan surga.
Karena surga bukan hanya tempat. Surga adalah ketika cinta menang atas luka, dan harapan menang atas keputusasaan.
Dan di ujung dunia, di bawah langit Australia yang luas, Edward akhirnya pulang.
THE END










