EPISODE: ANGIN LAUT MEMBAWA DOA – KISAH BAHANA NUSANTARA
Di sebuah desa kecil, Sumatera Barat, ketika senja mulai merunduk di balik pucuk-pucuk pinang, para tokoh masyarakat berkumpul di surau tua yang beratap ijuk.
Lampu minyak berkedip-kedip, memantulkan bayangan wajah-wajah yang penuh tekad.
Mereka bukan bangsawan, bukan hartawan – hanya petani, guru mengaji, pedagang kecil, dan ibu-ibu yang menjual kue di pasar. Tapi malam itu, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa.
“Kita kumpulkan sedikit demi sedikit,” kata Pak Haji Sulaiman, suaranya parau tapi teguh.
“Bahana Nusantara bukan anak kita saja. Ia anak desa ini, anak Minangkabau, anak bangsa yang akan bicara di tanah Belanda.”
Mereka mengumpulkan uang benggol, kain tenun, bahkan hasil panen padi terakhir.
Mak Salmah, yang suaminya baru saja meninggal, menyumbangkan cincin kawinnya. “Biarkan logam ini bicara di negeri orang,” katanya sambil menitikkan air mata.
“Agar suara Bahana Nusantara tak tenggelam oleh angin barat.”
Mereka semua telah sepakat dan bergerak, membiayai pendidikan pemuda desa mereka yang cerdas yang akan menjadi pelita dan cahaya di masa nanti.
Pagi keberangkatan tiba. Kabut tipis menyelimuti sawah-sawah yang mulai menguning. Anak-anak berlari di belakang, membawa bendera kertas warna-warni yang mereka buat semalam.
Para perempuan menaburkan beras kunyit dan bunga melati di depan rumah Bahana Nusantara – ritual doa agar perjalanan diberkati.
Bahana Nusantara berdiri di depan pintu, memeluk ibunya yang menangis diam-diam.
Di dadanya, ia menyematkan sehelai kain songket pemberian ninik mamak – simbol amanah adat yang harus ia junjung tinggi, bahkan di tanah asing.
“Jangan lupa asalmu,” bisik sang ibu, tangannya gemetar memegang bahu anaknya. “Di mana pun kau berdiri, kau tetap anak nagari ini.”
Ia mengangguk. Matanya berkaca-kaca, tapi tak ada air mata yang jatuh. Ia tahu, tangis adalah bahasa yang tak boleh ia gunakan hari ini.
Hari ini adalah hari keberangkatan, hari ketika mimpi desa kecil ini dikirim ke Eropa dengan kapal uap dan doa-doa yang tak terucap.
Di pelabuhan Teluk Bayur, angin laut bertiup kencang, menerbangkan peci dan selendang para pengantar. Kapal Prinses Juliana berlabuh megah, seperti istana besi yang akan membawa seorang pemuda ke dunia baru.
Para tokoh desa berdiri berjajar, diam, tapi mata mereka bicara: harapan, kebanggaan, dan sedikit ketakutan.
Seorang anak kecil menyerahkan Bahana Nusantara sebuah botol kaca kecil berisi tanah dari kampung halaman. “Biar kau tak lupa,” katanya polos.
Bahana Nusantara tersenyum, lalu memeluk anak itu erat. Ia naik ke tangga kapal, berbalik sekali lagi. Di kejauhan, ia melihat ibunya melambaikan sapu tangan putih – warna duka, tapi juga warna doa.
Ketika peluit kapal berbunyi, dan tali-tali dilepas, para pengantar mulai menyanyikan “Kampuang Nan Jauh Di Mato” – lagu daerah yang menunjukan rasa rindu mendalam akan kampung halaman.
Suara mereka serak-serak basah, tapi penuh jiwa. Angin membawa suara itu ke geladak kapal, menyusup ke telinga Bahana Nusantara yang berdiri di ujung kapal, memandang tanah kelahirannya yang semakin menjauh.
“Pendidikan adalah senjata paling mematikan di tangan rakyat yang tertindas.”
Sahabatku, ini baru permulaan perjalanan Bahana Nusantara – sang Guru Angin. Ia akan belajar, melawan, mengajar, kabur, menulis buku, menulis konstitusi, memberi inspirasi, menghilang, dan akhirnya… menjadi angin.
Tunggu kelanjutannya – karena kisah ini pelan tapi pasti mulai bernapas.











https://shorturl.fm/y0T8h
Keren
Luar biasa
KEREN
bagus
BAGUS
BAGUSSS!
Mantap
Kerennn!!
Mantap
Mantaf
Bagusss
Wih mantap
BAGUS
Wow Mantap
BAGUS
WOW MANTAP
keren
lapar mbg
baguss