EPISODE: LANGIT BELANDA YANG BERBICARA
Ketika kapal Prinses Juliana merapat di Pelabuhan Rotterdam, langit Belanda menyambut Bahana Nusantara dengan rintik hujan tipis dan kabut yang menyapu dermaga seperti selendang kelabu.
Ia berdiri di geladak, jas hujan pinjaman dari seorang penumpang Belanda menempel dingin di tubuhnya, tapi hatinya berdebar hangat – ini tanah yang selama ini hanya ia baca dalam buku, kini nyata di depan matanya.
Pelabuhan itu ramai bukan seperti pasar di Padang Panjang, tapi seperti mesin raksasa yang berdetak teratur: derek-derek besi menjulang tinggi, kereta api uap melintas di rel yang mengkilat, buruh pelabuhan – semuanya bergerak dengan irama yang asing, tanpa teriakan, tanpa tawa, hanya dentang lonceng dan siulan peluit yang mengatur waktu.
Bahana Nusantara turun dengan koper kayu tua dan botol berisi tanah desanya yang masih terselip di saku jasnya. Ia melangkah perlahan, kakinya yang biasa menapaki lumpur sawah kini menginjak batu granit yang licin oleh hujan.
Bau asin laut bercampur asap batu bara dan aroma roti gandum yang hangat dari kios kecil di sudut dermaga – bau peradaban baru.
Seorang anak kecil Belanda, berambut pirang dan bermata biru, menatapnya heran lalu menarik lengan ibunya. “Mama, lihat! Orang dari Hindia!” bisiknya polos.
Bahana Nusantara tersenyum kecil, lalu mengangguk hormat. Ia tak marah. Ia justru ingin tahu: Apa yang mereka pikirkan tentang kami? Tentang tanah yang mereka sebut koloni?
Di trem yang membawanya ke pusat kota, ia duduk di bangku kayu yang dingin. Di luar jendela, bangunan-bangunan tinggi dengan atap runcing dan jendela kaca lebar berderet rapi.
Tak ada yang miring, tak ada yang reyot. Di setiap sudut, ada jam besar yang berdentang tepat waktu seolah waktu di sini lebih berharga daripada di kampung halamannya.
Ia melihat seorang perempuan tua menjatuhkan syalnya. Tanpa pikir panjang, ia bangkit, mengambil syal itu, dan mengembalikannya dengan membungkuk pelan. Perempuan itu terkejut, lalu tersenyum hangat. “Dank u, jongen,” katanya lembut.
“Graag gedaan, mevrouw,” jawab Bahana Nusantara, mengulang pelajaran bahasa Belanda yang dipelajarinya di sekolah guru di Bukittinggi.
Perempuan itu mengangguk, lalu bertanya, “Dari mana kau datang, nak?”
“Dari Sumatera,” jawabnya. “Dari kaki Gunung Marapi.”
“Ah, negeri yang jauh…” gumamnya. “Apakah kau datang untuk belajar?”
“Ya. Agar suatu hari, aku bisa mengajar bangsaku cara membaca dunia dan menulis sejarahnya sendiri.”
Perempuan itu terdiam sejenak, lalu menepuk pelan lengannya. “Kalau begitu, jangan sia-siakan hujan di sini. Ia akan mencuci matamu agar kau melihat lebih jernih.”
Malam pertamanya di asrama mahasiswa di Den Haag, ia duduk di depan jendela kamarnya yang kecil. Di luar, lampu-lampu gas berpendar kuning, menyinari jalan yang basah.
Ia mengeluarkan botol tanah desanya, meletakkannya di samping buku-buku filsafat yang baru dibelinya: Rousseau, Marx, Voltaire.
Ia menulis di buku hariannya:
“Hari ini aku melihat dunia yang rapi, teratur, dan dingin. Mereka punya jam yang tak pernah salah, tapi aku bertanya apakah hati mereka juga seakurat itu? Mereka mengukur waktu, tapi apakah mereka mengukur keadilan? Aku datang bukan untuk menjadi mereka. Aku datang untuk mengambil apa yang berguna, lalu pulang dan mengubah tanahku dengan tangan sendiri.”
Di kejauhan, lonceng gereja berdentang dua belas kali. Ia menutup buku, lalu berbisik pelan ke arah botol tanah itu:
“Dengarlah, tanahku… aku sedang belajar bahasa mereka. Tapi suara ibuku, nyanyian Kampuang Nan Jauh Di Mato, dan doa di surau tua – itu bahasa yang tak akan pernah kutukar.”
“Jangan hanya menghafal. Bertanyalah. Karena kebenaran lahir dari pertanyaan, bukan dari kepatuhan.”













https://shorturl.fm/iEsH4
https://shorturl.fm/OxPVE
https://shorturl.fm/p7ktv
https://shorturl.fm/jsCOr