Bahana Nusantara, Guru Sang Pencerah Bangsa – 3

EPISODE: DI ANTARA BUKU DAN BAYANG-BAYANG REVOLUSI 

Musim dingin pertama Bahana Nusantara di Belanda datang tanpa ampun. Salju tipis mulai menyelimuti trotoar Den Haag, dan angin menusuk tulang meski ia sudah membungkus tubuhnya dengan syal wol pemberian seorang profesor tua yang simpatik.

Tapi di dalam ruang perpustakaan Universitas Leiden tempat ia sering menghabiskan malam, hangatnya bukan dari perapian, melainkan dari api pikiran yang menyala dan berkobar aemakin membesar.

Ia duduk di sudut, dikelilingi tumpukan buku: filsafat Jerman, sejarah revolusi Prancis, ekonomi politik, dan puisi-puisi Rumi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda.

Di antara halaman-halaman itu, ia menemukan sesuatu yang lebih berharga dari emas: Kesadaran. Kesadaran bahwa penindasan bukan takdir, tapi sistem. Dan sistem, bisa diubah.

Suatu sore, setelah kuliah filsafat politik, seorang mahasiswa Belanda mendekatinya. Namanya Jan – rambut merah, mata tajam, dan suara yang selalu penuh semangat.

“Kau dari Hindia, ya? Aku dengar kau sering berdebat dengan profesor tentang colonial fairness,” katanya sambil tersenyum. “Kau berani. Kebanyakan mahasiswa dari jajahan diam saja. Takut kehilangan scholarship.”

Bahana Nusantara menutup bukunya perlahan. “Aku bukan datang untuk diam. Aku datang untuk belajar, dan belajar berarti bertanya, bahkan jika pertanyaanku membuat orang tak nyaman.”

Jan tertawa. “Aku suka itu. Mau ikut diskusi kecil malam ini? Ada sekelompok mahasiswa sosialis. Kita bicara Marx, revolusi, dan… mungkin rencana gila untuk menggulingkan Capitalisme.”

Bahana Nusantara menatapnya lama. Lalu mengangguk. “Baik. Tapi aku akan bawa perspektifku: bukan hanya kelas buruh di Eropa yang tertindas. Ada jutaan manusia di tanahku yang kau sebut Hindia yang juga menunggu keadilan.”

Malam itu, di sebuah loteng sempit di belakang katedral tua, sekitar dua puluh orang berkumpul. Asap rokok dan aroma kopi murah memenuhi ruangan.

Poster Lenin saat memimpin revolusi berdarah Bolshevik dan gambar buruh mengangkat palu menghiasi dinding yang mengelupas.

Bahana Nusantara duduk di kursi kayu yang goyah, tapi suaranya teguh ketika gilirannya berbicara.

“Di kampungku,” katanya pelan, tapi terdengar jelas di tengah hening yang dalam.

“Seorang petani bisa bekerja dari matahari terbit hingga terbenam, tapi tetap lapar. Bukan karena malas. Karena sistem yang mengambil hasil keringatnya dan mengirimnya ke sini, ke meja-meja mewah di Rotterdam dan Amsterdam.” Bahana berhenti sejenak, menatap wajah-wajah pucat di hadapannya.

“Kalian bicara revolusi proletariat. Tapi pernahkah kalian bayangkan revolusi di negeri tropis? Di mana yang melawan bukan hanya buruh pabrik, tapi petani, nelayan, guru desa, dan ibu-ibu penjual kue? Revolusi bukan hanya tentang mesin dan pabrik. Ia tentang martabat manusia – di mana pun ia berdiri.” tambahnya mulai berapi-api.

“Pergilah ke rakyat! Hiduplah bersama rakyat! Berjuanglah bersama rakyat! Dan jika perlu, matilah bersama rakyat!”

Ruangan itu terdiam. Lalu, satu per satu, mereka bertepuk tangan – bukan karena setuju sepenuhnya, tapi karena tergugah.

Jan menepuk pundaknya. “Kau baru saja menulis babak baru dalam diskusi kita, Bahana.”

Di musim semi, ketika bunga tulip mulai bermekaran dan langit tak lagi kelabu, Bahana Nusantara menerima surat dari kampungnya. Surat itu ditulis oleh Pak Haji Sulaiman, dengan tinta yang agak luntur karena terkena hujan.

“Anakku, kabar baikmu sampai ke sini seperti angin sepoi. Ibumu sehat meski rindunya tak pernah reda. Desa ini sekarang punya perpustakaan kecil – kami kumpulkan buku bekas dari guru-guru. Anak-anak membacanya sambil duduk di lincak bambu. Mereka bertanya, ‘Kapan Bahana Nusantara pulang?’ Aku jawab: ‘Kalau ia sudah membawa cukup api untuk menyalakan pelita di tanah kita.’”

Bahana Nusantara membaca surat itu tiga kali. Lalu ia menangis diam-diam di bawah pohon willow dekat kanal. Bukan karena sedih, tapi karena terharu: ia tak sendiri.

Di seberang lautan, ada desa kecil yang masih menunggu, masih percaya, masih berdoa.

Ia mengambil pena, dan menulis balasan:

“Bapak, Ibu, dan saudara-saudaraku di Tanah Minang, Api itu sedang kukumpulkan – bukan dari kayu, tapi dari kata-kata, dari buku, dari diskusi malam, dari pertanyaan-pertanyaan yang membuat tak nyaman. Aku belajar cara mereka berpikir, agar kelak aku bisa mengajari kita semua cara berdiri sejajar dengan mereka – tanpa harus menjadi mereka.

Sampaikan pada anak-anak: jangan hanya baca buku! Tanyalah: untuk siapa buku ini ditulis? Lawanlah ketidakadilan, sekecil apa pun. Dan kalau kalian lihat bintang jatuh, doakan aku – karena mungkin saat itu aku sedang menulis rencana besar untuk tanah leluhur kita.”

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *