Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com
Berikut kisah ikonik Bung Hatta (Mohammad Hatta), Proklamator dan Wakil Presiden pertama RI, yang tak sanggup membeli sepatu baru.
Kisah Utama
Pada 1950-an saat menjabat sebagai Wakil Presiden, Bung Hatta kerap terlihat memakai sepatu hitam usang yang sudah compang-camping. Solnya menipis, dan ujung jempolnya bahkan bolong. Padahal, ia sering menghadiri acara kenegaraan dan bertemu tamu asing.
Saat seorang staf menyarankannya membeli sepatu baru, Hatta menjawab:
“Uang negara bukan untuk membeli sepatu saya. Gaji saya tidak cukup untuk beli sepatu baru.”
Kontek & Nilai yang Terkandung
Kesederhanaan Ekstrem: Meski memegang jabatan tinggi, Hatta hidup sangat hemat. Gajinya sebagai Wakil Presiden sebagian besar disumbangkan untuk yatim piatu dan kegiatan sosial.
Integritas Tinggi: Ia menolak menggunakan uang negara untuk kebutuhan pribadi, sekalipun untuk keperluan jabatan.
Prioritas Nasional: Di masa ekonomi sulit pasca-kemerdekaan, Hatta memilih mengalokasikan dana negara untuk pembangunan infrastruktur dan pendidikan rakyat.
Fakta Tambahan
- Saat pensiun sebagai Wapres (1956), Hatta bahkan tidak memiliki rumah pribadi dan menumpang di rumah saudaranya.
- Kisah sepatunya menjadi simbol perjuangan melawan korupsi dan keserakahan pejabat.
Ditulis oleh Hatta sendiri, ia mengisahkan:
“Saya memakai sepatu yang sudah tua… karena saya tidak punya uang untuk membeli yang baru.
(Buku Mohammad Hatta: “Memoir”. 1979)
Kesimpulan
Kisah ini bukan sekadar tentang kemiskinan, tapi teladan kepemimpinan berbasis moral. Hatta membuktikan bahwa jabatan tinggi bukan hak istimewa, melainkan amanah untuk berkorban demi rakyat.
Nilai inilah yang membuat kisah sepatu bolong-nya tetap relevan hingga kini.
“Lebih baik memakai sepatu compang-camping tapi mulia, daripada bersepatu baru tapi menghisap darah rakyat.” Pesan implisit dari sikap Hatta.
Referensi
- Buku “Biografi Mohammad Hatta: Politik, Ekonomi, Akhlak” oleh Mavis Rose (1987)→ Peneliti asing ini mendokumentasikan kesaksian staf Hatta: “Beliau hanya punya dua pasang sepatu: satu untuk acara resmi yang sudah bolong, dan satu lagi untuk sehari-hari.” (Halaman 221).
- Arsip Nasional RI – Pidato Kenegaraan (1951)→ Sebuah surat kabar “Merdeka” edisi 17 Maret 1951 melaporkan protokol istana yang khawatir dengan penampilan sepatu Hatta saat menerima duta besar.
- Wawancara dengan Keluarga Hatta→ Dalam dokumenter “Hatta: Aku Datang karena Sejarah” (2018), putri Hatta (Gemala Rabi’ah Hatta) menegaskan: “Ayah tidak mau memakai fasilitas negara. Beliau bilang, ‘Itu bukan hakku’.”
- Museum Nasional Indonesia→ Sepatu hitam asli milik Hatta yang telah bertambal dipajang di Galeri Pahlawan, menjadi bukti fisik kesederhanaannya.













https://shorturl.fm/5OqrO