Caesar Valerianus Agustus, The Fallen Emperor of Rome – 2

EPISODE: ROMA YANG TERBELAH – KABAR DARI TIMUR YANG MENGGUNCANG DUNIA 

Hari yang Tak Pernah Terlupakan

Hari itu, angin dari timur membawa debu dan kabar buruk. Di Roma, langit berwarna kelabu, seolah langit pun tahu bahwa sesuatu yang besar telah runtuh.

Di Forum, para pedagang berhenti menjajakan anggur dan roti. Prajurit penjaga Gerbang Emas berdiri kaku, tangan mencengkeram tombak terlalu erat.

Seorang utusan dari timur, mukanya pucat, jubahnya compang-camping melangkah gontai menuju Istana Palatine membawa gulungan perkamen yang ditutup dengan segel merah tanah liat: Dari Gubernur Antiochia, kepada Kaisar Gallienus.

Tapi kaisar tidak ada. Kaisar Valerianus Agustus yang seharusnya membaca surat itu telah hilang.

Utusan itu dipaksa berlutut di hadapan Senat. Tangannya gemetar saat membuka gulungan. Suaranya pecah saat membaca:

“Shapur, raja Persia, telah menangkap Kaisar Valerianus hidup-hidup. Ia kini menjadi tawanan di Ctesiphon. Roma… telah jatuh di mata dunia.”

Di ruang Senat, keheningan menyelimuti seperti kabut musim dingin. Tidak ada teriakan. Tidak ada tangis. Hanya detak jantung yang terdengar cepat, tak teratur, seperti kuda yang kehilangan arah jalan pulang.

Seorang senator tua, yang pernah berperang di Dacia, menjatuhkan tongkatnya. Kayu itu jatuh dengan suara keras seperti dentuman gong kematian.

“Kaisar… ditawan?” bisiknya. “Tidak mungkin. Kaisar adalah anak Jupiter. Ia tidak bisa… jadi budak.”

Tapi ia salah. Kaisar bukan dewa. Kaisar adalah manusia biasa. Dan manusia bisa jatuh.

Kota yang Terguncang

Di jalanan Roma, kabar itu menyebar lebih cepat daripada wabah. Dari mulut ke mulut, dari pasar ke kuil, dari rumah budak ke istana aristokrat.

Di Subura, kawasan miskin di bawah bayang-bayang Palatine, seorang ibu menangis sambil memeluk anaknya.
“Kalau bahkan kaisar bisa ditangkap, siapa yang akan melindungi kita?”

Di tepi Tiber, seorang veteran yang kehilangan kaki dalam perang Germania duduk termenung.

Ia menggenggam medali perunggu yang dulu diberikan oleh Valerian sendiri. “Aku rela kehilangan kakiku untuknya. Tapi apa gunanya pengorbanan kalau pemimpin kita kini diinjak-injak di negeri musuh?”

Di kuil Venus Genetrix, para pendeta membakar dupa, memohon agar dewa-dewa membalikkan takdir. Tapi asap dupa hanya naik, lalu menghilang seperti harapan mereka.

Gallienus: Sang Pewaris yang Terluka

Di istana, Gallienus, putra Valerian dan Kaisar bersama, berdiri di jendela marmer memandang kota yang dulu ayahnya coba selamatkan.

Wajahnya pucat, matanya bengkak. Ia tidak menangis. Ia sadar sebagai seorang bangsawan dilarang menangis di depan umum. Tapi di dalam hatinya, sesuatu telah pecah.

“Ayahku… bukan tawanan. Ia adalah simbol Roma!” katanya pada Praetorian Prefect, Macrianus.
“Bagaimana aku bisa memerintah, jika martabat kekaisaran telah diinjak oleh raja Persia?”

Macrianus, yang mata liciknya selalu mencari peluang, hanya menjawab pelan: “Kita harus menyembunyikan kabar ini. Jika rakyat tahu, mereka akan memberontak. Jika pasukan tahu, mereka akan memilih kaisar baru.”

Tapi Gallienus menolak. “Tidak. Ayahku harus diingat. Bukan disembunyikan.”

Ia memerintahkan agar patung ayahnya tetap berdiri di Forum. Ia menolak menghapus nama Valerian dari koin.

Ia bahkan memerintahkan agar tiap malam, lilin dinyalakan di kuil Janus untuk arwah yang belum pulang.

Tapi dalam hati, ia tahu: Roma tidak lagi percaya pada keabadian.

Orang di Balik Bayang-Bayang

Di rumah seorang filsuf Yunani bernama Plotinus, yang tinggal di pinggiran kota, sekelompok murid berkumpul. Api kecil menyala di tengah ruangan.

“Kekaisaran bukanlah batu atau emas,” kata Plotinus, suaranya tenang seperti sungai malam. “Kekaisaran adalah ide. Dan ketika ide itu jatuh, tidak peduli seberapa megah bentengnya, ia akan hancur. Valerian bukan ditangkap oleh Shapur. Ia ditangkap oleh zaman yang sudah tidak percaya pada kebenaran.”

Seorang murid bertanya: “Lalu, apa yang tersisa?”

Plotinus tersenyum tipis.
“Hanya jiwa. Dan jiwa tidak bisa ditawan.”

Di pasar, seorang penyair buta bernama Lucius menyanyikan syair baru:

“Sang Rajawali jatuh di padang pasir, Sayapnya terbelenggu, matanya buta oleh debu. Tapi angin masih membawa namanya, Dari Roma ke Persia, dari dunia ke abadi. Ia bukan kalah, ia menjadi legenda.”

Orang-orang diam mendengarnya. Beberapa menangis. Beberapa memberinya roti dan anggur. Tapi semua tahu: syair itu bukan tentang kemenangan. Itu tentang kehilangan yang suci.

Persia yang Merayakan, Roma yang Menangis

Sementara itu, di Ctesiphon, Shapur I mengadakan pesta besar. Ia memakai jubah ungu Romawi yang diambil dari Valerian.

Ia duduk di singgasana yang diukir khusus, dengan relief yang menunjukkan dirinya menaiki kuda, sementara Valerian berlutut di bawah kakinya.

“Lihat!” serunya kepada para bangsawan Persia. “Ini bukti: tidak ada yang abadi. Bahkan Roma bisa tunduk!”

Rakyat Persia bersorak. Tapi di Roma, ketika kabar itu sampai, seorang budak di rumah senator tua membakar gulungan perkamen yang berisi nama-nama tuannya sambil tersenyum.

“Kalian orang Roma menganggap kami hina,” bisiknya. “Tapi kalian sendiri telah kehilangan kaisar kalian seperti kehilangan dompet di jalan.”

Warisan yang Tak Terlihat

Tidak ada upacara kematian untuk Valerian. Tidak ada api suci yang membakar jenazahnya. Tidak ada nama yang diukir di Ara Pacis.

Tapi di dinding-dinding kota, di sudut-sudut gelap, muncul grafiti:

“Valerianus Augustus. Tetap berdiri, meski dunia memaksanya berlutut.”

Dan di malam hari, ketika bulan pucat menyinari Colosseum, para prajurit muda yang sedang berjaga sering berbisik, “Kau tahu, dulu kaisar kita ditawan. Tapi dia tidak pernah memohon. Dia hanya menatap langit. Seperti dia tahu, suatu hari nanti, kita akan mengingatnya.”

Martabat yang Tak Bisa Dicuri

Roma terus berjalan walau awan hitam masih memayungi kota yang megah itu. Gallienus memerintah dengan keras, memperkuat pasukan, menolak penghinaan. Tapi bayang Valerian sang ayah selalu hadir seperti hantu yang tidak ingin pergi.

Karena Valerian bukan hanya kaisar yang ditangkap. Ia adalah simbol dari keberanian terakhir Roma: keberanian untuk memimpin di tengah keruntuhan, untuk bertarung meski tahu akan kalah, dan untuk tetap bermartabat meski dunia telah menghancurkan harga dirinya.

Dan dalam sejarah yang sering menulis tentang kemenangan, kadang yang paling abadi justru adalah yang dikalahkan.

“Tidak ada yang bisa menghancurkan seorang pria yang tetap mulia di tengah kehinaan. Dan Valerian, meski jatuh di tanah asing, tetap lebih tinggi dari semua raja yang pernah menginjaknya.”

Catatan tak dikenal, ditemukan di reruntuhan Villa dei Quintili, 1897.

Responses (5)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *