Di Balik Senyum yang Ramah, Tersimpan Kesopanan yang Penuh Kepalsuan dan Tipuan
Di sudut desa yang sunyi, di balik tembok-tembok kota pemerintahan nan megah yang berlapis emas dan marmer, hiduplah mereka yang lidahnya manis seperti madu, namun hatinya pahit laksana racun.
Mereka menyapa dengan senyum yang tak pernah retak, menunduk hormat seolah bumi pun enggan menampung kesombongan mereka – padahal di balik itu, jiwa mereka telah lama dikikis oleh keserakahan nafsu dan kepalsuan.
Kata-kata mereka berlapis sutra, lembut menyentuh telinga, namun menusuk diam-diam seperti duri yang disembunyikan dalam karpet mewah.
Mereka memanggil saudara dengan suara hangat, menggaungkan kata demi rakyat dengan penuh semangat, berteriak lantang negara kami republik ini harga mati secara berapi-api – sejatinya dengan mulut penuh buih-buih pengkhianatan dan kepalsuan yang menjijikan.
Sementara di balik pintu tertutup, nama itu dijadikan bahan cemoohan, bahkan senjata untuk menjatuhkan. Sopan santun mereka bukan lahir dari keikhlasan, melainkan topeng yang dipahat rapi oleh kepentingan dan kelicikan.
Di meja jamuan, mereka menawarkan roti dengan tangan terbuka, namun di balik punggung, mereka mencuri remah-remah harapan orang lain.
Mereka berdoa dengan dalil agama dan landasan negara – suaranya lantang di berbagai majelis, tapi diam-diam menjual dan menukar kebenaran demi secuil keuntungan.
Akhlak dan kesopanan mereka bukanlah akar, melainkan cat yang mudah luntur saat hujan ujian datang atau bahkan mengelupas sendiri ketika tak lagi diperlukan.
Kejahatan mereka tak berdarah, tapi mematikan. Tak berteriak, tapi menghancurkan. Ia bersembunyi dalam kalimat maaf, dalam pelukan persaudaraan, dalam janji pongah akan selalu ada demi negara dan kata murahan berjuang membela rakyat
Dan yang paling tragis: dunia memuji. mereka sebagai teladan, padahal langit menangis melihat kepalsuan yang mereka sembunyikan di balik jubah kesopanan dan kealiman.
Namun, waktu adalah sang hakim yang tak pernah tidur – akan membuka tirai kesopanan penuh kepalsuan itu perlahan.
Karena kebohongan, seindah apa pun dibungkus, tetaplah kebohongan. Dan kejahatan, sehalus apa pun disulam dalam kata-kata, tetaplah kejahatan.
Di akhir nanti, hanya kejujuran yang tak perlu bersembunyi… dan hanya hati yang tulus yang tak perlu berpura-pura.
Ulah sina talangke sabab talaga bakal bedah. Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!
Jangan diam saja, sebab telaga akan segera jebol. Cepat bertindak dan jangan melihat ke belakang!
Siliwangi












