Di Bawah Langit Bandung, Cinta dan Janji yang Retak – 1

EPISODE: CINTA BERSEMI DI BAWAH LANGIT BANDUNG 

Di tengah hiruk-pikuk kota Bandung dengan angin yang selalu berbisik sejuk dari pegunungan yang mengelilinginya, Andini Prameswari melangkah dengan tenang di koridor Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran Bandung.

Cantik bukan karena wajahnya saja, meski itu pun memang sempurna: kulit putih bercahaya, mata besar berbinar seperti meteor malam yang terang, dan senyum yang manis, sangat manis hingga membuat waktu seolah berhenti – ditambah keanggunan yang mengalir dari setiap geraknya yang menimbulkan rasa hormat dan kekaguman.

Ia tidak hanya mahasiswi ekonomi yang cerdas, tapi juga penyuka puisi Rumi dan tulisan hati Kahlil Gibran serta penggemar kopi robusta di kedai-kedai kecil di Jalan Braga, kue surabi di sekitaran Enhai dan Gerlong – selalu membawa buku catatan kecil untuk menulis ide-ide tentang ekonomi syariah yang ia impikan.

Kampusnya hidup. Di teras perpustakaan, teman-temannya sesama mahasiswa Ekonomi saling bercanda sambil menyeruput kopi luwak.

“Dini, kamu ini nggak pernah lelah ya? Baru selesai presentasi, langsung ngerjain tugas kelompok lagi?” tanya Laila, teman sekamar.

“Nggak lelah kalau ada tujuan,” jawab Andini, tersenyum sambil mengusap rambutnya yang sedikit berantakan. “Aku mau jadi ekonom yang bisa bikin UMKM di pedesaan bangkit. Bukan cuma hitung laba, tapi hitung kebahagiaan.”

“Wah, ceweknya idealis banget! Nanti suaminya bakal ngeluh, ‘Istriku lebih cinta desa daripada aku!’” celetuk Raka, sambil tertawa.

Andini hanya tertawa kecil, matanya melayang ke luar jendela. Di kejauhan, langit sore berwarna jingga, dan ia membayangkan seseorang yang akan berdiri di sampingnya – bukan sekadar pasangan, tapi sahabat, pendengar, dan mitra dalam segala mimpi.

Pertemuan Pertama Tak Direncanakan.

Di Masjid Salman ITB, suasana tenang dipenuhi oleh ratusan mahasiswa yang duduk rapi di karpet biru tua.

Acara bedah buku “Zur Kritik der politischen Ökonomie” (A Contribution to the Critique of Political Economy, 1859)  karya Karl Marx dan Engels yang menjadi dasar bagi Das Kapital yang memuat konsep materialisme historis dan determinasi ekonomi atas struktur sosial baru saja dimulai.

Andini duduk di barisan ketiga, mencatat poin-poin penting saat pembicara menyampaikan argumen dan penjelasan.

Acara pun selesai dan mereka keluar ruangan. Tiba-tiba, sebuah buku jatuh di kakinya.

“Maaf,” suara lelaki itu rendah, hangat – terasa humble dan seperti suara angin di pagi hari.

Andini menengok. Seorang pria tinggi, kulit sawo matang, mata tajam namun lembut, rambut hitam agak acak, dan senyum yang membuat hatinya berdetak lebih cepat. Ia mengenakan kemeja putih sederhana, tanpa dasi, tapi tetap terlihat gagah.

“Ini buku Anda?” tanyanya, menyerahkan buku itu.

“Ya. Terima kasih.” Ia tersenyum. “Rahadian Kumbara. Mahasiswa Teknik Sipil, angkatan 2021.”

“Andini Prameswari. Ekonomi.” jawab Andini dengan hati berdetak.

Berikutnya mereka berbicara selama 27 menit. Tapi rasanya seperti lima jam. Rahadian bicara tentang bagaimana infrastruktur bisa menjadi alat pemerataan ekonomi.

Sementara itu Andini menerangkan dengan antusias bahwa proyek jembatan di Cianjur bisa menghubungkan pasar tradisional dengan pusat distribusi.

Dengan semangat Andini juga memaparkan konsep Bomero the Green yang akan menjadikan Bojongmeron sebagai kawasan kuliner dan wisata kota serta pusat UMKM di Cianjur dengan konsep hijau. Mereka saling menggugah dan saling menginspirasi.

Begitulah, pertemuan tak sengaja itu menjadi awal dari sebuah kisah yang tak pernah mereka sangka akan mengubah hidup mereka selamanya.

Setiap minggu, mereka bertemu kadang di Masjid Salman, kadang di kantin kampus, kadang di taman kota dekat Gedung Sate.

Mereka membahas ekonomi, filsafat, politik, dan puisi-puisi Taufiq Ismail yang mereka kutip bersama. Rahadian yang dulu pemalu, kini jadi orang yang paling berani mengajak Andini jalan-jalan ke puncak Gunung Tangkuban Perahu demi melihat matahari terbit.

Andini yang dulu sibuk dengan catatan, kini diam-diam belajar menikmati kehidupan bersama Rahadian, sambil memegang tangannya erat di atas trotoar jalan di depan kampus Unisba.

Mereka saling mendukung. Saat Andini stres menghadapi ujian akhir, Rahadian datang dengan nasi goreng spesial dan surabi Enhai kesukaan Andini beserta lagu-lagu hits dari playlistnya.

Saat Rahadian gagal dalam proyek akhir teknik, Andini menulis surat panjang berisi kata-kata yang membuatnya terharu dan kemudian bangkit.

Pada suatu malam, di balkon apartemen kecil milik ibunya di Lembang, di bawah bulan purnama yang memancarkan cahaya seperti mutiara, Rahadian berlutut.

“Dini… Aku bukan orang sempurna. Tapi aku yakin, bersamamu, aku jadi versi terbaikku. Aku ingin menikahi mu. Setelah kita lulus. Setelah kita benar-benar siap. Bukan hanya secara finansial, tapi secara jiwa. Kau mau?”

Andini menangis. Air matanya jatuh ke pelukan Rahadian.

“Iya. Aku mau. Tapi janji, kita akan bangun rumah yang tidak hanya punya empat dinding… tapi punya banyak jendela. Jendela untuk cinta, harapan, dan semua mimpi yang belum kita tulis.”

Mereka menikah dua tahun kemudian, tepat setelah wisuda. Di sebuah masjid kecil di Ciumbuleuit, dengan tamu hanya keluarga dekat dan beberapa teman kuliah.

Andini mengenakan kebaya sutra warna krem, dengan bordir daun-daun ekonomi simbolis yang dibuat sendiri oleh ibunya.

Rahadian mengenakan jas hitam, tapi di saku bajunya, ada secarik kertas kecil berisi puisi yang ditulis Andini: “Kau adalah fondasi yang tak terlihat, tapi justru membuat rumahku tak pernah runtuh.”

Rumah mereka sederhana – sebuah apartemen kecil di Bandung Timur, dengan taman kecil di balkon tempat mereka menanam lavender dan lidah buaya.

Di dinding ruang tamu, ada peta Tatar Sunda dengan pin merah di setiap lokasi proyek yang mereka dukung: koperasi perempuan di Garut, warung kopi berbasis digital di Ciwidey, program literasi keuangan di Cimahi, teknik marketing terasi di Cirebon, cara pengemasan dan marketing yang baik produk gula aren di Sindangbarang Cianjur Selatan dan penguatan UMKM pembuat peuyeum leugit di Cilimus Kuningan.

Setiap pagi, Rahadian bangun duluan. Ia menyiapkan kopi untuk Andini – tanpa gula, sesuai kesukaannya dan meletakkannya di meja kerja, bersama catatan kecil:

“Selamat pagi, Cinta. Hari ini kita lanjutkan mimpi kita, ya?”

Andini akan tersenyum, membaca catatan itu, lalu mencium dahi suaminya sebelum pergi ke kantor sebagai konsultan ekonomi syariah di sebuah lembaga non profit.

Di malam hari, mereka duduk berdua di sofa, saling berbagi cerita. Kadang Rahadian membacakan puisi, kadang Andini menceritakan kisah nasabahnya yang berhasil bangkit dari utang.

Mereka tak pernah bosan. Karena cinta mereka bukan hanya gairah, tapi semangat untuk terus berkarya, terus tumbuh, terus saling menjadi rumah bagi satu sama lain.

Dan setiap kali langit Bandung berwarna jingga, seperti malam pertama mereka bertemu, mereka berpegangan tangan, dan berkata bersama:

“Ini baru awal. Kita masih punya ribuan matahari terbit yang harus kita saksikan… bersama.”

Epilog

Di sudut ruang tamu mereka, tergantung foto mereka berdua di depan Masjid Salman – masih dengan buku yang sama di tangan Andini, dan senyum Rahadian yang tak pernah berubah. Di bawah foto itu, tertulis:

“Cinta bukan soal menemukan seseorang yang sempurna. Tapi menemukan seseorang yang membuatmu percaya bahwa kamu bisa jadi sempurna bersamanya.”

Untuk mereka yang pernah mencintai tanpa syarat, lalu belajar mencintai diri sendiri tanpa alasan

Writer: Haris MaungEditor: Haris Maung

Responses (20)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *