Ibnu Battuta, Cahaya Purnama Di Atas Gurun Hijaz – 3

Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com


EPISODE: BULAN DI ATAS GURUN HIJAZ 

Kairo, Mesir – Musim Panas 1326 M

Langit Kairo memerah seperti kain sutra yang terbakar saat Ibnu Battuta menatapnya untuk terakhir kalinya. Di bawahnya, Sungai Nil mengalir tenang, memantulkan cahaya senja yang hangat.

Ia berdiri di tepi jalan menuju Hijaz, jubahnya berkibar pelan diterpa angin timur yang membawa aroma gurun dan debu yang belum pernah ia cium.

Di tangannya, sebuah kantong kulit berisi roti kering, air zamzam dari sumur Muzdalifah yang dibawa seorang haji tua, dan sebuah surat dari *Syekh Abu al-Hasan, gurunya di Kairo:

“Wahai Ibnu Battuta, engkau telah belajar di masjid-masjidku, tapi ujian sejati adalah di jalan. Jika engkau bertahan, maka ilmu akan menjadi darah dalam nadimu. Jika engkau kembali, bawalah cahaya dari sana untuk kami di sini.”

Ia menggenggam surat itu erat. Bukan karena takut. Tapi karena rindu—rindu yang aneh, yang datang sebelum perpisahan bahkan terjadi. Rindu pada Kairo yang belum ditinggalkannya, rindu pada ibunya yang mungkin sedang menatap bulan yang sama dari Fez.

Karavan Haji: Dalam Genggaman Tuhan

Ibnu Battuta bergabung dengan karavan haji resmi Mamluk, yang dipimpin oleh Amir al-Hajj—komandan militer yang bertugas mengawal ribuan jamaah dari Kairo menuju Mekkah.

Karavan ini terdiri dari lebih dari tiga ribu orang: ulama, pedagang, perempuan tua, anak-anak, dan budak yang ingin meraih kebebasan dengan haji.

Mereka berangkat pada bulan Syawal 726 H (Juli 1326 M), membawa bekal air, kurma, dan doa yang tak pernah kering.

Perjalanan melintasi gurun Sinai dan Semenanjung Arab memakan waktu sekitar empat puluh hari. Jalannya berbahaya: matahari membakar kulit, pasir menggerus sandal, dan di malam hari, suku Bedouin Banu Sulaym sering mengintai, siap menyerang jika penjaga lengah.

Namun, di tengah bahaya, ada keindahan yang menggetarkan jiwa.

Romantisme di Bawah Bintang

Suatu malam, saat karavan berhenti di Ayun Musa (tempat Nabi Musa beristirahat), Ibnu Battuta duduk di atas batu pasir, menatap langit yang dipenuhi bintang.

Di dekatnya, seorang perempuan tua bernama Umm Zayd, janda dari seorang ulama Damaskus, menyeduh teh mint dari api kecil.

“Kau muda, wahai anak ku,” katanya sambil tersenyum. “Tapi matamu tua. Seperti orang yang sudah melihat terlalu banyak.”

Ibnu Battuta tertawa pelan. “Aku baru mulai, Ummi. Tapi aku merasa seperti telah hidup seribu tahun.”

“Karena kau merindukan sesuatu yang belum kau miliki,” ujarnya. “Bukan hanya Mekkah. Tapi ketenangan.”

Ia mengangguk. “Aku rindu pelukan ibuku. Aku rindu suara adzan di masjid kampung. Tapi aku juga rindu pada sesuatu yang belum pernah kurasakan… seperti cinta yang suci, seperti doa yang tak terucap.”

Umm Zayd menatapnya. “Mekkah akan memberimu itu. Bukan dalam bentuk perempuan atau rumah. Tapi dalam bentuk ketiadaan. Di sana, kau akan kehilangan dirimu sendiri—dan di sanalah kau menemukan-Nya.”

Malam itu, angin berbisik pelan. Dan untuk pertama kalinya, Ibnu Battuta merasa dicintai oleh dunia, meski ia sendiri.

Bahaya dan Keberanian

Di Wadi al-Qura, karavan diserang oleh kelompok perampok. Malam itu, panah-panah beterbangan, unta berteriak, dan teriakan takbir menggema di antara gunung batu.

Ibnu Battuta, yang hanya membawa belati kecil, berdiri di depan seorang anak kecil yang tersesat. Ia melindunginya dengan tubuhnya sendiri, sambil berdoa:

“Ya Allah, jika ini ajalku, biarkan aku mati dalam perjalanan menuju-Mu. Tapi jika aku harus hidup, biarkan aku melihat Ka’bah dengan mata penuh cinta.”

Serangan berakhir saat pasukan pengawal tiba. Tapi dua puluh orang tewas. Di antaranya adalah Umm Zayd.

Keesokan harinya, Ibnu Battuta membantu menguburkan jenazahnya di bawah pohon akasia. Ia menanam sebuah batu kecil dan mengukir:

“Di sini beristirahat Umm Zayd, yang mengajarkanku bahwa rindu adalah bentuk cinta tertinggi.”

Tiba di Tanah Suci – Dzulhijjah 726 H (September 1326 M)

Akhirnya, setelah empat puluh hari berjalan, puncak Jabal Thawr terlihat di kejauhan. Dan di lembahnya, Mekkah—kota yang hanya bisa dimimpikan oleh jiwa-jiwa yang rindu.

Ketika kakinya pertama kali menginjak tanah Haram, ia jatuh berlutut. Air mata mengalir deras, bukan karena bahagia, tapi karena pengakuan.

Ia telah datang.

Di bawah cahaya bulan purnama, ia berdiri di pelataran Masjidil Haram, memandang Ka’bah yang dibungkus kiswah hitam.

Angin membawa bau wewangian kasturi dan air zamzam. Ia mengangkat tangan, dan berbisik:

“Labbaik Allahumma Labbaik… Aku datang, ya Allah. Aku datang—dari Fez, dari gurun, dari rindu, dari ketakutan, dari cinta.”

Di sanalah, di tengah jutaan manusia yang bersujud, Ibnu Battuta merasa paling sendiri, dan paling utuh.

Penutup

Perjalanan ke Mekkah bukan hanya tentang menunaikan rukun Islam.

Untuk Ibnu Battuta, itu adalah perjalanan cinta—cinta pada Tuhan, pada ilmu, pada manusia, dan pada rindu yang tak pernah padam.

Karena di tengah gurun yang membunuh, di bawah bintang yang tak berujung,

ia belajar bahwa keberanian sejati adalah tetap berjalan, meski hati merindukan rumah.

“Aku pergi sebagai musafir. Tapi aku kembali sebagai manusia.”

 Ibnu Battuta, di bawah bayang Ka’bah, 1326 M

Catatan Historis

Tahun perjalanan: 1326 M (726 H), setelah tinggal di Kairo selama beberapa bulan.

Rute: Kairo → Ayun Musa → Tabuk → Madinah (untuk ziarah) → Mekkah.

Durasi perjalanan: Sekitar 40 hari melintasi gurun Hijaz.

Karavan: Dikawal oleh pasukan Mamluk; rute ini dikenal sebagai Darb al-Hajj al-Masri (Jalan Haji Mesir).

Sumber: “Rihlah Ibn Battuta”, Bab Perjalanan ke Hijaz; catatan sejarah Dinasti Mamluk.

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *