Kesultanan Aceh – Kekhalifahan Turki, Ikatan Kuat Dua Kekuatan Besar Dunia Islam

Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com


Berikut penjelasan lengkap mengenai hubungan antara Kesultanan Aceh Darussalam dengan Kekhalifahan Utsmaniyah (Turki Utsmani).

HUBUNGAN KESULTANAN ACEH DENGAN KEKHALIFAHAN TURKI UTSMANI 

1. Latar Belakang Hubungan

Kesultanan Aceh Darussalam (1496–1903) adalah salah satu kesultanan Islam terbesar di Asia Tenggara, sementara Kesultanan Turki Utsmani (1299–1924) merupakan kekhalifahan Islam terbesar di dunia pada masanya.

Hubungan kedua kesultanan ini berakar pada:

  • Solidaritas keagamaan (Islam),
  • Kepentingan geopolitik,
  • Upaya Aceh menghadapi ancaman Portugis dan kekuatan Eropa lainnya di Asia Tenggara.

2. Awal Hubungan Diplomatik

Hubungan resmi Aceh dengan Turki Utsmani terjalin pada awal abad ke-16, khususnya setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511.

Aceh mulai mencari dukungan militer dari Turki untuk mengusir Portugis dari Selat Malaka, yang sangat vital untuk perdagangan internasional.

Tahun penting:

1537 M: Utusan Aceh pertama kali berangkat ke Istanbul meminta bantuan kepada Sultan Suleiman al-Qanuni (Suleiman the Magnificent).

3. Bantuan Militer dan Teknologi

Turki Utsmani merespons permintaan Aceh dengan mengirimkan bantuan berupa:

  • Meriam, senjata api, dan bubuk mesiu,
  • Insinyur militer, ahli meriam, dan teknisi pertahanan,
  • Beberapa sumber juga menyebut pengiriman kapal perang dalam jumlah kecil.

Contoh bantuan signifikan:

Pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar (1539–1571), Kesultanan Aceh menerima bantuan militer dari Turki yang memperkuat posisi Aceh dalam menghadapi Portugis.

4. Dampak Hubungan dengan Turki Utsmani

✅ Keuntungan bagi Aceh:

  • Memperoleh teknologi militer modern,
  • Meningkatkan posisi diplomatik sebagai bagian dari “Dunia Islam”,
  • Mengukuhkan posisi sebagai pusat penyebaran Islam di Nusantara.

✅ Dampak bagi Turki Utsmani:

  • Memperluas pengaruh kekhalifahan ke kawasan Samudera Hindia,
  • Menjalin hubungan dagang rempah-rempah secara tidak langsung,
  • Memperkokoh solidaritas umat Islam melawan penjajahan Barat.

5. Bentuk Pengaruh Budaya dan Agama

Selain militer, pengaruh Turki juga masuk dalam aspek budaya dan agama Aceh:

Pengaruh arsitektur masjid (menara dan kubah gaya Utsmani),

Gelar “Khalifah” sering digunakan oleh sultan Aceh sebagai legitimasi kekuasaan,

Hubungan keilmuan: Aceh mengadopsi beberapa ajaran dan pemikiran keislaman dari Timur Tengah, termasuk madzhab Syafi’i yang diperkuat dengan tasawuf.

6. Masa-Masa Selanjutnya

Hubungan Aceh-Turki terus terjalin hingga abad ke-17 dan ke-18. Namun, setelah melemahnya Turki Utsmani akibat peperangan dengan Eropa dan perpecahan internal, bantuan langsung ke Aceh mulai berkurang.

Pada masa Perang Aceh (1873–1904) melawan Belanda, Aceh kembali mengirimkan surat kepada Sultan Abdul Hamid II di Istanbul, namun tidak mendapat bantuan militer yang signifikan karena situasi internal Turki yang sedang genting.

Referensi

  1. Ricklefs, M.C., “Sejarah Indonesia Modern”, 2005.
  2. Anthony Reid, “An Indonesian Frontier: Acehnese and Other Histories of Sumatra”, 2004.
  3. Azra, Azyumardi, “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII”, 2004.
  4. Hadi, Amirul, “Aceh dan Turki: Sejarah Hubungan Diplomatik Abad XVI-XIX”, 2004.
  5. Subrahmanyam, Sanjay, “The Career and Legend of Vasco da Gama”, 1997.
  6. Encyclopaedia of Islam (Brill).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *