KESULTANAN TIDORE: SIMBOL KEBANGGAAN MARITIM DAN KULTURAL MALUKU UTARA
Pendahuluan
Di ujung timur Indonesia, terselip sebuah pulau kecil yang pernah menjadi salah satu kekuatan maritim dan rempah-rempah paling disegani di Nusantara: Pulau Tidore.
Di pulau yang terletak di Maluku Utara ini, berdiri Kesultanan Tidore, sebuah kerajaan Islam yang telah berdiri selama lebih dari enam abad, menjadi penjaga tradisi, budaya, dan kedaulatan lokal di tengah gelombang kolonialisme dan globalisasi.
Kesultanan Tidore bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga entitas budaya yang masih hidup, mempertahankan struktur kekerabatan, adat, dan peran simbolik dalam kehidupan masyarakat Maluku Utara.
Sejarah Berdirinya Kesultanan Tidore
Kesultanan Tidore berdiri pada sekitar abad ke-11 M, namun baru mencapai kejayaannya pada abad ke-15 hingga ke-17.
Menurut catatan sejarah lokal dan sumber asing, kerajaan ini didirikan oleh Sultan Ciri Leliatu, yang dikenal juga sebagai Sah Jami, sekitar tahun 1081 M (menurut prasasti dan tradisi lisan), meskipun sebagian besar sejarawan modern menempatkan pendiriannya lebih dekat dengan abad ke-15.
Kesultanan Tidore lahir dari tradisi kerajaan pribumi yang kuat, sebelum akhirnya menganut agama Islam melalui proses dakwah dari para ulama dari Jawa dan Maluku Tenggara.
Islam mulai dianut secara resmi pada masa Sultan Jamaluddin (sekitar awal abad ke-16), yang kemudian menjadi salah satu pilar penting dalam transformasi Tidore menjadi kerajaan Islam.
Kejayaan Tidore sebagai Kekuatan Maritim dan Rempah
Kesultanan Tidore berada di jantung “Zona Rempah” Nusantara, khususnya wilayah yang kaya akan pala dan cengkeh.
Bersama dengan Ternate, Bacan, dan Jailolo (yang bersama-sama dikenal sebagai Moloku Kie Raha atau “Empat Gunung Maluku”, Tidore membentuk konfederasi kerajaan yang saling bersaing namun juga memiliki ikatan kekerabatan dan budaya.
Selama masa kejayaannya (abad ke-15 hingga ke-17), Tidore menjadi kekuatan maritim yang disegani.
Armadanya yang tangguh menjaga jalur perdagangan internasional, menghubungkan Nusantara dengan Tiongkok, India, Arab, dan bahkan Eropa.
Dalam catatan Portugis dan Spanyol, Tidore dianggap sebagai penyeimbang kekuatan Ternate, yang saat itu bersekutu dengan Portugis.
Pada tahun 1521, ekspedisi Ferdinand Magellan mendarat di Tidore, menjadikannya salah satu titik penting dalam sejarah eksplorasi Eropa.
Magellan dan rombongannya membeli rempah dari Tidore sebelum melanjutkan perjalanan keliling dunia. Setelah Magellan tewas di Filipina, ekspedisi yang tersisa kembali ke Tidore untuk mengisi stok rempah.
Pada abad ke-16, Spanyol menjalin aliansi dengan Tidore sebagai penyeimbang kekuatan Portugis yang bersekutu dengan Ternate.
Spanyol mendirikan benteng Santiago de Terra Firma di Tidore pada tahun 1522, yang kemudian direbut oleh Belanda pada abad ke-17.
Tokoh-Tokoh Penting Kesultanan Tidore
Beberapa sultan Tidore dikenal sebagai tokoh besar dalam sejarah Nusantara:
1. Sultan Nuku (1738–1805)
Salah satu tokoh paling ikonik dalam sejarah Tidore. Ia memimpin perlawanan panjang terhadap kolonial Belanda selama lebih dari 30 tahun. Dikenal sebagai “Sultan Nuku, Sultan Tidore yang Mengguncang Dunia Kolonial”, ia berhasil membentuk aliansi dengan Inggris, Papua, dan kepulauan Pasifik untuk melawan VOC.
Ia juga menyatakan dirinya sebagai “Sri Maha Raja Seluruh Kepulauan di Maluku dan Papua”, menunjukkan ambisinya yang luas. Perlawanannya menjadi simbol nasionalisme awal di Indonesia.
2. Sultan Al-Mansur
Sultan pertama yang secara resmi memeluk Islam dan meletakkan dasar struktur pemerintahan Islam di Tidore.
3. Sultan Said Perkasa Alam
Sultan terakhir yang memiliki kekuasaan politik penuh sebelum sistem kerajaan dihapuskan secara resmi oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1949.
Struktur Pemerintahan dan Adat
Kesultanan Tidore memiliki sistem pemerintahan yang kompleks dan hierarkis, yang mencerminkan kombinasi antara struktur feodal pribumi dan tata kelola Islam.
Struktur utama meliputi:
– Sultan: sebagai kepala negara dan pemimpin spiritual.
– Kolano: gelar untuk raja-raja bawahan di wilayah taklukan.
– Sangaji: kepala wilayah atau kepala suku yang setia kepada sultan.
– Jou: penasihat adat dan tokoh kerabat kerajaan.
– Bobato: dewan adat yang terdiri dari pemuka masyarakat dan tokoh agama.
Wilayah kekuasaan Tidore tidak hanya terbatas pada Pulau Tidore, tetapi juga meliputi Halmahera, Papua bagian barat (termasuk Raja Ampat), Seram, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Bahkan dalam masa Sultan Nuku, pengaruh Tidore mencapai Kepulauan Solomon dan Papua Nugini.
Peran dalam Kolonialisme dan Perlawanan
Kesultanan Tidore mengalami pergumulan panjang dengan kekuatan kolonial:
– Portugis (1512–1575): Bersekutu dengan Ternate, sehingga Tidore menjadi musuh alami.
– Spanyol (1522–1663): Menjadi sekutu Tidore, membangun benteng dan membantu dalam perdagangan.
– Belanda (VOC, 1660–1942): Secara perlahan mengambil alih kekuasaan, memaksa Tidore tunduk melalui perjanjian politik dan militer.
– Jepang (1942–1945): Menduduki Maluku, tetapi tidak menghapus struktur kesultanan.
– Indonesia (pasca-1945): Kesultanan diakui sebagai lembaga adat, meski tidak lagi memiliki kekuasaan politik formal.
Perlawanan terbesar terjadi di bawah kepemimpinan Sultan Nuku, yang memanfaatkan konflik Eropa (Perang Inggris-Belanda) untuk mengusir Belanda dari Maluku.
Ia diangkat sebagai National Hero of Indonesia (Pahlawan Nasional) pada tahun 1995 oleh Presiden Soeharto karena perjuangannya melawan kolonialisme.
Kesultanan Tidore Masa Kini: Lembaga Adat yang Hidup
Setelah kemerdekaan Indonesia, pemerintah menghapus sistem kerajaan secara formal melalui PP No. 22 Tahun 1950 tentang pembubaran kerajaan-kerajaan.
Namun, Kesultanan Tidore tidak punah, ia bertransformasi menjadi lembaga adat dan budaya.
Saat ini, Kesultanan Tidore dipimpin oleh Sultan Hidayatullah Sjah, yang dinobatkan pada tahun 2014 sebagai Sultan ke-37. Ia bukan pemimpin politik, tetapi berperan sebagai simbol persatuan, pelestari adat, dan penjaga identitas budaya masyarakat Tidore.
Kesultanan tetap aktif dalam:
– Upacara adat seperti Pelantikan Sultan, Hari Ulang Tahun Kesultanan, dan ritual panen rempah.
– Pelestarian bahasa, tarian tradisional (seperti Tari Perang), dan musik gamelan Tidore.
– Mediasi konflik adat dan pembinaan nilai-nilai lokal.
– Kolaborasi dengan pemerintah daerah dalam pengembangan pariwisata budaya.
Benteng Tahula: Simbol Kekuasaan yang Masih Berdiri
Salah satu warisan fisik paling penting dari Kesultanan Tidore adalah Benteng Tahula (dikenal juga sebagai Benteng Oranje), yang dibangun oleh Belanda pada abad ke-17 di atas reruntuhan benteng Spanyol.
Benteng ini terletak di pesisir Kota Tidore dan menjadi ikon sejarah serta destinasi wisata budaya.
Selain itu, Istana Kesultanan Tidore di Kota Soasiu juga masih berdiri dan digunakan untuk upacara adat. Arsitekturnya memadukan unsur Melayu, Eropa, dan pribumi, mencerminkan sejarah multikultural Tidore.
Warisan Budaya dan Pengakuan Nasional
Kesultanan Tidore diakui sebagai bagian dari warisan budaya tak benda Indonesia. Pada tahun 2021, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mencatat berbagai elemen budaya Tidore, termasuk adat kesultanan, tarian, dan bahasa, sebagai bagian dari Warisan Budaya Tak benda Indonesia.
Selain itu, Tidore menjadi salah satu lokasi dalam program “Nusantara Rempah” yang digagas pemerintah untuk mempromosikan sejarah maritim dan perdagangan rempah Nusantara.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Meskipun masih eksis, Kesultanan Tidore menghadapi tantangan:
– Generasi muda yang kurang mengenal sejarah lokal.
– Keterbatasan anggaran untuk pelestarian budaya.
– Persaingan dengan modernisasi dan globalisasi.
Namun, harapan tetap besar. Dengan dukungan pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas lokal, Kesultanan Tidore terus berupaya:
– Mengintegrasikan sejarah Tidore dalam kurikulum sekolah.
– Mengembangkan museum digital dan arsip kerajaan.
– Menjadikan Tidore sebagai kawasan cagar budaya maritim.
Penutup: Tidore Bukan Hanya Masa Lalu, Tapi Juga Masa Depan
Kesultanan Tidore adalah bukti nyata bahwa bangsa Indonesia memiliki peradaban maritim yang maju, kompleks, dan berdaulat sebelum kolonialisme.
Ia bukan sekadar nama dalam buku sejarah, tetapi entitas hidup yang terus bernafas dalam tradisi, upacara, dan semangat masyarakatnya.
Di tengah arus zaman, Tidore mengajarkan kita tentang ketahanan budaya, cinta tanah air, dan harga diri bangsa.
Dari pulau kecil di ujung timur Indonesia, lahir peradaban yang pernah mengguncang dunia. Dan hari ini, api itu masih menyala dalam hati rakyat Tidore, dalam lagu adat, dalam jejak Sultan Nuku, dan dalam setiap butir cengkeh yang tumbuh di tanahnya.
Referensi
- Ferdinand, J. (2007). “The Sultanate of Tidore: A History of the Spice Islands”. KITLV Press, Leiden.
- Saleh, M. (2005). “Sultan Nuku: Perlawanan Maluku terhadap Kolonialisme”. Penerbit Ombak, Yogyakarta.
- Pigeaud, T.G.Th. (1960). “Java in the 14th Century: A Study in Cultural History”. M. Nijhoff, The Hague.
- Andaya, L.Y. (1981). “The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period”. University of Hawaii Press.
- Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2021). “Inventarisasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia: Kesultanan Tidore”. Kemendikbudristek.
- Pemerintah Kota Tidore Kepulauan. “Sejarah dan Budaya Tidore”. Website Resmi: www.tidorekota.go.id
- Badan Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara. “Laporan Tematik: Benteng Tahula dan Situs Kerajaan Tidore”. 2020.
- Republik Indonesia, Keputusan Presiden No. 084/TK/1995 tentang Penetapan Sultan Nuku sebagai Pahlawan Nasional.
- Hanna, W.A. (1978). “Indonesian Banda: Colonialism and Its Aftermath in the Nutmeg Islands”. Cornell University.
- Universitas Khairun Ternate.”Jurnal Sejarah Maluku Utara”, Vol. 3–5, 2015–2020.












