Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com
TURUNAN ARAB: PERANANNYA DALAM PERJALANAN DAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
Pendahuluan
Perjalanan menuju kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 merupakan hasil dari perjuangan panjang yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, termasuk etnis, agama, dan golongan sosial yang beragam.
Di antara kelompok yang turut berperan penting dalam proses nasionalisme dan pergerakan kemerdekaan adalah “komunitas keturunan Arab”, khususnya mereka yang berasal dari Hadramaut, Yaman.
Meskipun secara etnis bukan pribumi Indonesia, komunitas ini telah menetap selama berabad-abad, terintegrasi secara sosial dan kultural, serta memainkan peran strategis dalam bidang keagamaan, pendidikan, politik, dan militer selama masa pergerakan nasional hingga revolusi kemerdekaan.
Narasi ini mengulas secara komprehensif peran turunan Arab dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, dengan mengacu pada sumber-sumber akademik dan historis yang valid, serta menekankan kontribusi mereka yang sering kali terabaikan dalam narasi nasional.
“Celui qui oublie son passé est condamné à le revivre.”
(Mereka yang melupakan masa lalu dikutuk untuk mengalaminya kembali)George Santayana
Latar Belakang Sejarah Kehadiran Arab di Nusantara
Kehadiran orang Arab di Nusantara dimulai sejak abad ke-7 M, seiring dengan penyebaran Islam melalui jalur perdagangan maritim.
Namun, gelombang migrasi besar terjadi pada abad ke-18 hingga ke-20, terutama dari wilayah Hadramaut di Yaman Selatan.
Mereka datang sebagai pedagang, ulama, dan mubaligh, dan secara bertahap menetap di kota-kota pelabuhan seperti Batavia (Jakarta), Surabaya, Semarang, Solo, dan Padang.
Menurut “Abdullah (1979)” dalam “Adat dan Islam: Survei Terhadap Perubahan Sosial di Indonesia”, komunitas Arab-Hadrami awalnya mempertahankan identitas keagamaan dan sosial yang kuat, tetapi melalui pernikahan silang dan integrasi kultural, mereka secara perlahan menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.
“Un peuple sans mémoire est un peuple sans avenir.”
(Bangsa tanpa ingatan adalah bangsa tanpa masa depan)Proverbe français
Peran Turunan Arab dalam Pergerakan Nasional
1. Kontribusi dalam Dunia Keagamaan dan Pendidikan
Komunitas Arab-Hadrami dikenal sebagai penjaga tradisi keagamaan Islam. Banyak ulama keturunan Arab yang mendirikan pesantren, madrasah, dan majelis taklim, yang menjadi basis pemikiran kebangsaan dan kritik terhadap kolonialisme.
Salah satu tokoh penting adalah “Sayyid Muhammad bin Abdul Rahman Alatas” (1877–1934), yang mendirikan “Jam’iyyat al-Khair” di Batavia pada tahun 1901.
Organisasi ini bukan hanya berfokus pada pendidikan agama, tetapi juga memperkenalkan metode pengajaran modern, termasuk sains dan bahasa, yang menjadi cikal bakal sistem pendidikan Islam modern di Indonesia.
Fakhrurrazi (2015) dalam “The Hadhrami Arabs in the Indonesian Nationalist Movement” mencatat bahwa Jam’iyyat al-Khair dan kemudian “al-Rabithah al-Alawiyyah” (didirikan 1928) menjadi jembatan antara tradisi keagamaan dan semangat nasionalisme.
Organisasi-organisasi ini melahirkan generasi muda Arab-Indonesia yang terdidik dan kritis terhadap kolonialisme Belanda.
2. Intelektualisme dan Nasionalisme
Generasi muda keturunan Arab yang terdidik mulai mempertanyakan identitas mereka. Mereka tidak lagi ingin dilihat sebagai “orang asing”, tetapi sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Dalam konteks ini, muncul tokoh-tokoh seperti:
Abdurrahman Baswedan (Abu Bakar Wachid)
Salah satu tokoh nasionalis keturunan Arab yang paling menonjol. Ia adalah pendiri “Gerakan Ratu Adil (Gerindo)” dan menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia) pada tahun 1945.
Dalam sidang BPUPKI, ia menyampaikan pidato bersejarah yang menekankan pentingnya persatuan nasional tanpa memandang latar belakang etnis.
Dalam bukunya “Dari Penjara ke Perniagaan” (1985), Baswedan menulis:
“Kami, anak-anak Arab yang lahir di tanah ini, merasa tanah air kami adalah Indonesia. Darah kami mengalir di tanah ini, dan kami siap mati untuknya.”
Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (1870–1968)
Ulama dan aktivis sosial yang dikenal sebagai “Habib Ali Kwitang”. Ia aktif dalam dakwah dan pendidikan, serta menjadi simbol persatuan umat Islam.
Meskipun tidak secara langsung terlibat dalam politik, pengaruhnya besar dalam membentuk opini publik yang mendukung kemerdekaan.
Peran dalam Politik dan Organisasi Kemerdekaan
1. Al-Rabithah al-Alawiyyah dan Pergeseran Identitas
Organisasi “al-Rabithah al-Alawiyyah”, yang semula bersifat keagamaan dan etnis, mengalami transformasi pada masa pendudukan Jepang (1942–1945).
Dalam Kongresnya di Solo tahun 1943, organisasi ini memutuskan untuk “Mendukung Kemerdekaan Indonesia” dan menyerukan agar keturunan Arab memilih menjadi warga negara Indonesia.
Keputusan ini ditandai dengan perubahan nama dari “al-Rabithah al-Alawiyyah” menjadi “Ikatan Arab Indonesia (IAI)” pada tahun 1945, yang secara eksplisit menyatakan komitmen terhadap nasionalisme Indonesia.
Nasution (1984) dalam “Golongan Keturunan Asing di Indonesia” mencatat bahwa perubahan ini merupakan titik balik penting, menunjukkan bahwa komunitas Arab tidak lagi melihat diri mereka sebagai “orang asing”, tetapi sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
2. Peran dalam BPUPKI dan PPKI
Beberapa tokoh keturunan Arab terlibat langsung dalam proses perumusan dasar negara:
- Abdurrahman Baswedan menjadi anggota BPUPKI dan PPKI. Ia mengusulkan agar dasar negara bukan hanya Pancasila, tetapi juga mencakup semangat keislaman yang inklusif, tanpa mendirikan negara teokratis.
- Syaifuddin Prawiranegara, meskipun lebih dikenal sebagai tokoh Sunda, memiliki silsilah keturunan Arab melalui garis ibu. Ia menjadi tokoh penting dalam pemerintahan darurat selama Revolusi Fisik (1948–1949).
Peran Militer dan Revolusi Fisik (1945–1949)
Selama masa revolusi, banyak pemuda keturunan Arab yang bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI), laskar, dan pesiar (gerilya). Mereka berperang bersama rakyat Indonesia melawan Belanda dan Sekutu.
Contohnya:
Habib Ali Alatas, seorang tokoh muda dari Yogyakarta, terlibat dalam pertempuran mempertahankan kota dari serangan Belanda.
Di Jawa Timur, banyak pemuda Arab dari Surabaya dan Pasuruan terlibat dalam pertempuran 10 November 1945, yang menjadi simbol heroisme nasional.
Ricklefs (2008) dalam “A History of Modern Indonesia since c.1300” mencatat bahwa partisipasi etnis minoritas seperti Arab, Tionghoa, dan Arab-Indonesia dalam revolusi menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia bersifat inklusif, meskipun dalam praktiknya masih menghadapi tantangan diskriminasi.
Kontribusi Budaya dan Media
Turunan Arab juga berperan dalam penyebaran ide kemerdekaan melalui media cetak. Mereka mendirikan surat kabar dan majalah yang menyuarakan nasionalisme.
Contoh:
- “Al-Munir”: Majalah berbahasa Arab yang diterbitkan di Padang, yang menjadi wadah diskusi keagamaan dan politik.
- “Indonesia Merdeka”: Surat kabar yang dikelola oleh tokoh-tokoh Arab-Indonesia, yang menyebarkan semangat anti-kolonialisme.
Tantangan dan Diskriminasi
Meskipun turunan Arab berkontribusi besar, mereka sering menghadapi stigma sebagai “orang asing” atau “non-pribumi”.
Pada masa Orde Lama, terutama setelah 1965, identitas etnis Arab kadang dikaitkan dengan isu-isu keagamaan dan politik yang sensitif.
Namun, tokoh-tokoh seperti Abdurrahman Baswedan dan Ali Alatas (Menteri Luar Negeri RI 1988–1999, cucu dari aktivis Arab-Indonesia) terus membuktikan bahwa keturunan Arab adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia.
Warisan dan Relevansi Kontemporer
Peran turunan Arab dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah bukti nyata bahwa nasionalisme Indonesia bukanlah milik satu etnis atau agama semata, tetapi merupakan hasil dari keragaman yang bersatu dalam cita-cita kemerdekaan.
Mereka berperan sebagai:
- Ulama yang membentuk kesadaran keagamaan dan sosial,
- Intelektual yang menghubungkan Islam dengan nasionalisme,
- Pejuang yang turun ke medan perang,
- Dan politisi yang merumuskan dasar negara.
Pengakuan terhadap kontribusi mereka penting untuk memperkaya narasi sejarah nasional yang lebih inklusif dan akurat.
“L’oubli est la grande menace de l’histoire.”
(Melupakan adalah ancaman terbesar bagi sejarah)Pierre Nora
Catatan Tambahan
Penting untuk dicatat bahwa banyak tokoh keturunan Arab memilih untuk “indonesianisasi” nama dan identitas mereka, seperti mengganti “bin” menjadi “Soetoro” atau “Baswedan”, sebagai bentuk komitmen terhadap bangsa.
Hal ini mencerminkan kedalaman integrasi mereka dalam masyarakat Indonesia.
Dengan demikian, peran turunan Arab bukan hanya sekadar kontribusi etnis minoritas, tetapi bagian integral dari jiwa multikulturalisme Indonesia yang harus terus dijaga dan dihormati.
“L’histoire est un phare dans la nuit du temps.”
(Sejarah adalah mercusuar di waktu malam.)Jules Michelet
Dan di antara para pahlawan itu, turut berdiri tegak para ulama, intelektual, dan pejuang keturunan Arab yang mencintai Indonesia sebagaimana tanah air mereka sendiri.
Referensi Akademik dan Historis
- Abdullah, Taufik. (1979). “Adat dan Islam: Survei Terhadap Perubahan Sosial di Indonesia”. Jakarta: LP3ES.
- Fakhrurrazi. (2015). “The Hadhrami Arabs in the Indonesian Nationalist Movement”. Journal of Muslim Minority Affairs, 35(2), 225–238.
- Nasution, Harun, (1984). “Golongan Keturunan Asing di Indonesia”, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
- Ricklefs, M.C. (2008). “A History of Modern Indonesia since c.1300” (4th ed.). Basingstoke: Palgrave Macmillan.
- Baswedan, Abdurrahman. (1985). “Dari Penjara ke Perniagaan”. Jakarta: Gema Insani Press.
- Shaw, M.R. (2008). “The Hadhrami Awakening: Community and Identity in the Netherlands East Indies, 1914–1942”. Ithaca: Cornell University Press.
- Alatas, Syed Hussein. (1977). “The Myth of the Lazy Native”. London: Frank Cass.
- Hefner, Robert W. (2000). “Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia”. Princeton: Princeton University Press.












