Long March Siliwangi, Timeline Historis Perjuangan Maung Tatar Sunda

TIMELINE HISTORIS PERJALANAN LONG MARCH PASUKAN SILIWANGI (1948 – 1950)

Perjalanan Long March Pasukan Siliwangi merupakan salah satu episode penting dalam sejarah militer Indonesia, terutama dalam konteks Perang Kemerdekaan Indonesia (1945–1949).

Peristiwa ini dipicu oleh Perjanjian Renville (17 Januari 1948) yang mengharuskan pasukan TNI dari wilayah Republik Indonesia (Jawa Barat) menarik diri dari daerah-daerah yang dikuasai Belanda, khususnya di Jawa Barat, dan berpindah ke wilayah Republik di Jawa Tengah.

Pasukan Siliwangi, yang berasal dari Jawa Barat, melakukan perjalanan panjang (long march) sejauh ratusan kilometer melintasi pegunungan dan hutan dalam kondisi sulit.

Berikut adalah timeline historis perjalanan Long March Pasukan Siliwangi, berdasarkan referensi sejarah resmi, memoar militer, dan sumber akademik:

17 Januari 1948: Penandatanganan Perjanjian Renville

Perjanjian Renville ditandatangani di kapal USS Renville, di atas perairan Tanjung Priok. Salah satu ketentuan utama: garis demarkasi Van Mook (garis “A”) membagi wilayah Indonesia dan Belanda.

Wilayah Jawa Barat sebagian besar masuk ke wilayah Belanda. Pasukan TNI, khususnya Divisi Siliwangi (Divisi III), harus menarik mundur dari Jawa Barat ke wilayah Republik di Jawa Tengah (melintasi Garis Van Mook).

Penarikan pasukan ini disebut sebagai Long March Siliwangi.

Februari – Maret 1948: Persiapan dan Awal Penarikan Pasukan

Komandan Divisi Siliwangi Kolonel Abdul Haris Nasution memerintahkan penarikan Pasukan Siliwangi terdiri dari sekitar 4.000–5.000 tentara dan beberapa ribu pengungsi sipil (keluarga tentara, pejabat, aktivis).

Proses penarikan dimulai secara bertahap dari daerah-daerah seperti Bandung, Cimahi, dan Garut dengan rute utama: Bandung→Ciamis→Banjar→Cilacap→Purwokerto→Banyumas→Purworejo→Magelang→Yogyakarta.

Rute dipilih melintasi pegunungan Selatan Jawa menghindari jalan raya yang dikuasai Belanda.

April – Juni 1948: Perjalanan Melewati Hutan dan Pegunungan

Pasukan bergerak dalam kelompok-kelompok kecil (kompi atau batalyon) untuk menghindari serangan Belanda.

Menghadapi medan ekstrem: hutan lebat, sungai, rawa, dan kurangnya makanan.

Penyakit seperti malaria dan disentri menyebar di kalangan pasukan.

Masyarakat setempat (terutama di daerah Ciamis, Tasikmalaya, dan Jawa Tengah Selatan) memberikan bantuan makanan dan tempat persembunyian.

Beberapa kontak tembak kecil terjadi dengan patroli Belanda, tetapi pasukan Siliwangi berhasil menghindar.

Agustus – September 1948: Tiba di Wilayah Jawa Tengah

Kelompok pertama pasukan Siliwangi tiba di Purwokerto dan Banyumas pada Agustus 1948. Secara bertahap, pasukan berkumpul di Magelang dan Yogyakarta.

Dalam perjalanan, pasukan tetap menjaga disiplin militer dan tidak melakukan provokasi terhadap Belanda.

Pemerintah RI (di Yogyakarta) menyambut kedatangan Siliwangi sebagai simbol ketahanan nasional.

19 Desember 1948: Agresi Militer Belanda II Mengguncang Republik 

Belanda menyerang Yogyakarta, menangkap Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta, dan tokoh lainnya.

Pasukan Siliwangi yang baru tiba di Jawa Tengah langsung terlibat dalam perang gerilya.

Siliwangi menjadi tulang punggung gerilya di Jawa Tengah, dipimpin oleh Nasution. Mereka membentuk Komando Mandala dan melakukan perang gerilya efektif melawan Belanda.

Juli 1949: Roem-Royen Plan & Persiapan Kembalinya Ibu Kota

Melalui diplomasi internasional (dipimpin oleh Mohammad Roem), Belanda setuju menghentikan agresi dan mengembalikan pemerintah RI ke Yogyakarta.

Pasukan Siliwangi mulai dipersiapkan untuk kembali ke Jawa Barat.

29 Juni 1950: Pengembalian Pasukan Siliwangi ke Jawa Barat (Kepulangan)

Setelah pengakuan kedaulatan (27 Desember 1949), pasukan Siliwangi dikembalikan ke daerah asalnya di Jawa Barat.

Kepulangan dilakukan secara resmi pada 29 Juni 1950 dan diperingati sebagai Hari Jadi Divisi Siliwangi.

Mereka kembali untuk menjaga stabilitas keamanan di Jawa Barat, terutama menghadapi ancaman dari DI/TII (Darul Islam) pimpinan Kartosuwiryo.

1950–1962: Operasi Penumpasan DI/TII di Jawa Barat

Pasukan Siliwangi menjadi ujung tombak dalam operasi militer melawan pemberontakan DI/TII.

Operasi ini berlangsung selama lebih dari satu dekade, hingga Kartosuwiryo ditangkap pada 1962.

Ringkasan Timeline

17 Jan 1948: Penandatanganan Perjanjian Renville dan penarikan pasukan Siliwangi dari Jawa Barat

Feb – Mar 1948: Awal penarikan pasukan dari Bandung menuju Jawa Tengah

Apr – Jun 1948: Long March melalui hutan dan pegunungan dan pasukan tiba di Cilacap, Purwokerto.

Agu – Sep 1948: Pasukan berkumpul di Magelang dan Yogyakarta

19 Des 1948: Agresi Militer II dan Siliwangi terlibat dalam perang gerilya.

Juli 1949: Roem – Royen Plan dan persiapan kembalinya Republik

Des 1949: Pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda

29 Jun 1950: Kepulangan resmi Pasukan Siliwangi ke Jawa Barat (Hari Jadi Kodam III/Siliwangi)

1950 – 1962: Operasi militer melawan DI/TII di Jawa Barat.

Epilog

Perjalanan Long March Pasukan Siliwangi bukan hanya sebuah manuver militer, tetapi juga simbol ketahanan, kesetiaan, dan nasionalisme.

Peristiwa ini menjadi fondasi bagi eksistensi Kodam III/Siliwangi hingga kini, serta bagian penting dari narasi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Referensi

  1. Nasution, A.H. (1964). “Memenuhi Panggilan Tugas”, Jilid I. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
  2. Ricklefs, M.C.(2008). “Sejarah Indonesia Modern 1200–2004”. Jakarta: Serambi.
  3. Pusat Sejarah TNI (Pusjarah TNI). “Sejarah Militer Indonesia”, Jilid III.
  4. Salim Said. (2003). “Dari Tiongkok ke Kairo: Memoar Seorang Jenderal”. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
  5. M. Yamin, (1964). “Pembangunan Kebangsaan dan Perang Kemerdekaan”. Jakarta: PN Balai Pustaka.
  6. Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat No. Kep/34/VI/1950 tentang Hari Jadi Kodam III/Siliwangi.

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *