Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com
KEMAJUAN INDUSTRI OTOMOTIF IRAN: INOVASI, TANTANGAN DAN PROSPEK MASA DEPAN
Pendahuluan
Industri otomotif Iran merupakan salah satu sektor manufaktur terbesar di Timur Tengah dan memainkan peran penting dalam perekonomian negara.
Meskipun menghadapi tantangan seperti sanksi internasional dan keterbatasan akses teknologi, Iran berhasil membangun industri otomotif yang mandiri dengan produksi kendaraan domestik yang signifikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah menunjukkan kemajuan dalam produksi kendaraan, pengembangan kendaraan listrik, dan ekspor ke pasar regional.
Sejarah Singkat Industri Otomotif Iran
Industri otomotif Iran dimulai pada 1960-an dengan pendirian pabrik perakitan oleh perusahaan asing seperti Iran National (IKCO) dan Saipa,
Pada 1970-an, Iran memproduksi mobil berbasis lisensi dari perusahaan seperti Peugeot dan Renault.
Setelah Revolusi Islam 1979, industri ini menghadapi tantangan akibat nasionalisasi dan sanksi, tetapi terus berkembang dengan model-model lokal seperti Paykan (berbasis Hillman Hunter).
Produksi dan Pasar Domestik
Iran adalah produsen otomotif terbesar ke-12 di dunia pada 2017 dengan produksi lebih dari 1,5 juta kendaraan per tahun (OICA, 2017).
Namun, produksi menurun drastis akibat sanksi AS yang diberlakukan kembali pada 2018.
Beberapa merek mobil utama Iran meliputi:
1. IKCO (Iran Khodro) – Memproduksi mobil seperti Dena, Runna, dan Tara.
2. Saipa – Memproduksi mobil seperti Pride (berbasis Kia Pride) dan Quick.
3. Pars Khodro – Bermitra dengan perusahaan China seperti Chery.
Pada 2023, produksi otomotif Iran mulai pulih dengan 1,1 juta kendaraan diproduksi (Statista, 2024), didorong oleh peningkatan permintaan domestik dan kerja sama dengan negara seperti Rusia dan China.
Inovasi dan Kendaraan Listrik
Iran telah meluncurkan beberapa model mobil listrik dan hybrid, termasuk:
– IKCO Tara EV: Versi listrik dari sedan Tara.
– Saipa E-Shahab: Mobil listrik konsep dengan jarak tempuh 200 km.
– Kish HTCC: Mobil hidrogen hasil kerja sama dengan universitas lokal.
Pemerintah Iran juga mendorong pengembangan infrastruktur charging station dan insentif pajak untuk kendaraan ramah lingkungan.
Ekspor dan Kemitraan Internasional
Meskipun sanksi barat membatasi ekspor, Iran berhasil mengekspor kendaraan ke:
- Irak (pasar terbesar)
- Suriah
- Venezuela
- Rusia (kerja sama setelah sanksi Barat terhadap Rusia)
Pada 2023, Iran menandatangani kesepakatan dengan Rusia untuk memproduksi mobil bersama di wilayah industri khusus.
Tantangan Utama
1. Sanksi Ekonomi: Membatasi akses ke komponen dan teknologi modern.
2. Ketergantungan pada Desain Lama: Banyak mobil Iran berbasis platform 1980-an–1990-an.
3. Persaingan dengan Impor Murah: Mobil China semakin populer di Iran.
Prospek Masa Depan
Kendaraan Listrik: Iran berencana meningkatkan produksi EV hingga 20% dari total produksi pada 2025.
Kemitraan dengan China & Rusia: Investasi dalam produksi baterai dan komponen otomotif.
Modernisasi Pabrik: Peningkatan efisiensi dengan teknologi Industry 4.0.
Kesimpulan
Industri otomotif Iran telah menunjukkan ketahanan dan inovasi meski menghadapi sanksi.
Dengan fokus pada kendaraan listrik dan kemitraan strategis, Iran berpotensi menjadi pemain kunci di pasar otomotif regional dalam dekade mendatang.
Referensi
- OICA (2017). “World Motor Vehicle Production”.
- Statista (2024). “Iran Automotive Production Statistics”.
- Iran Daily (2023). “Iran-Russia Automotive Cooperation”.
- Tehran Times (2023). “Iran’s Electric Vehicle Plans”.













https://shorturl.fm/ZLGPe
https://shorturl.fm/1XRtG
https://shorturl.fm/VcBzo