Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com
KEKUATAN MILITER JEPANG SAAT PERANG DUNIA II (1937-1945)
Latar Belakang
Pada awal Perang Dunia II, Jepang muncul sebagai salah satu kekuatan militer paling agresif di Asia.
Kebijakan ekspansionis Kekaisaran Jepang didorong oleh kebutuhan sumber daya alam, semangat nasionalisme ekstrem (ultra-nasionalisme), dan ideologi Hakko Ichiu (persatuan dunia di bawah Kaisar Jepang).
Militer Jepang sudah teruji sejak kemenangan melawan Rusia (Perang Rusia-Jepang 1904-1905) dan penguasaan wilayah Manchuria (1931).
Struktur Militer Jepang
Kekaisaran Jepang mengandalkan dua cabang militer utama:
- Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (Imperial Japanese Army – IJA)
- Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Imperial Japanese Navy – IJN)
Keduanya beroperasi secara relatif independen dan sering bersaing satu sama lain.
Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (IJA)
Total personel aktif (puncaknya): ± 6 juta tentara.
Divisi: Sekitar 50 divisi infanteri (1941), meningkat menjadi lebih dari 100 divisi menjelang akhir perang.
Peralatan:
Senjata utama: Arisaka rifle, senapan mesin ringan Type 99.
Tank: Tank ringan seperti Type 95 Ha-Go, Type 97 Chi-Ha. Namun, tank Jepang kalah modern dibanding tank AS dan Soviet.
Artileri: Meriam ringan dan sedang, mortir, artileri anti-pesawat sederhana.
Strategi:
Mengandalkan serangan kilat, pertempuran infanteri, dan fanatisme militer (banzai charge).
Doktrin “Jepang pantang menyerah”, banyak kasus bunuh diri dalam situasi kalah.
Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (IJN)
Dianggap salah satu angkatan laut terkuat dunia hingga 1942.
Kapal Induk: Jepang memiliki armada kapal induk terbesar saat menyerang Pearl Harbor (6 kapal induk utama).
Kapal Perang:
Kapal tempur legendaris seperti Yamato dan Musashi (terbesar di dunia waktu itu, 72.000 ton).
Armada kapal penjelajah dan kapal perusak yang cepat dan serba guna.
Angkatan Udara Laut: Termasuk pesawat tempur ikonik seperti Mitsubishi A6M Zero.
Submarine: Fokus ke kapal selam tempur, bukan kapal selam serang konvoi seperti Jerman.
Angkatan Udara Jepang
Tidak memiliki Angkatan Udara independen, unit udara terbagi antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut.
Pesawat Tercatat:
Mitsubishi Zero (fighter), Nakajima Ki-43 Hayabusa, bomber Mitsubishi G4M.
Kelebihan:
Pesawat sangat lincah, namun kurang perlindungan lapis baja.
Kelemahan:
Tidak ada inovasi signifikan sepanjang perang, kalah teknologi oleh AS mulai 1943.
Kekuatan Militer Non-Konvensional
Unit 731: Melakukan perang biologis dan kimia terhadap Tiongkok.
Kamikaze: Mulai 1944, Jepang menggunakan pilot bunuh diri, menabrakkan pesawat ke kapal musuh.
Senjata Kimia: Jepang menggunakan gas beracun di Tiongkok namun tidak secara besar-besaran di Pasifik.
Kelebihan dan Kelemahan Militer Jepang
Kelebihan
- Disiplin militer tinggi
- Pasukan fanatik dan tidak mudah menyerah
- Armada laut kuat di awal perang
- Taktik serangan kejutan efektif (Pearl Harbor, Malaya)
- Penguasaan awal wilayah Asia Tenggara
Kelemahan
- Logistik buruk
- Tank dan pesawat kalah teknologi
- Minimnya koordinasi antar matra (AD dan AL sering bersaing
- Tidak mampu bertahan dalam perang panjang
- Produksi industri tidak mampu menyaingi Sekutu
Penurunan Kekuatan Militer
Titik balik terjadi di Pertempuran Midway (1942) di mana Jepang kehilangan 4 kapal induk.
Kekalahan di Guadalcanal, Iwo Jima, dan Okinawa menunjukkan ketidaksiapan Jepang dalam pertempuran berlarut.
Pengeboman atom Hiroshima dan Nagasaki serta kekalahan militer menyebabkan Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945.
Ringkasan Akhir
Jepang memasuki Perang Dunia II dengan militer yang sangat terlatih, brutal, dan diawaki oleh prajurit yang fanatik.
Namun, kekuatan industri yang terbatas, doktrin militer konservatif, dan penolakan terhadap modernisasi menyebabkan kekalahan mereka melawan Sekutu yang lebih unggul secara teknologi dan logistik.
Referensi
- Dower, John W. War Without Mercy. (1986)
- Hasting, Max. Retribution: The Battle for Japan, 1944-45. (2007)
- Keegan, John. The Second World War. (1989)












