Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com
Berikut penjelasan Perang Iran–Irak (1980–1988), salah satu konflik militer terbesar di Timur Tengah pasca-Perang Dunia II.
LATAR BELAKANG PERANG IRAN-IRAK
Politik dan Ideologi
Iran: Setelah Revolusi Iran 1979, kekuasaan berpindah ke tangan Ayatollah Khomeini yang mendirikan negara berbasis Syiah-Islamis. Iran menyerukan ekspor revolusi Islam ke negara-negara tetangga.
Irak: Dipimpin Saddam Hussein dari Partai Ba’ath (sekuler dan nasionalis Arab). Saddam takut pengaruh revolusi Iran akan memicu pemberontakan Syiah di Irak.
Sengketa Wilayah
Shatt al-Arab: Wilayah strategis di muara sungai yang menjadi perbatasan kedua negara. Iran dan Irak telah lama berselisih tentang kendali atas jalur air ini.
Pada 1975, melalui Perjanjian Aljazair, Irak mengakui kendali Iran atas sebagian Shatt al-Arab, namun setelah Revolusi Iran, Saddam membatalkan perjanjian itu.
AWAL PERANG
Pada 22 September 1980, Saddam Hussein memerintahkan invasi ke Iran, dimulai dengan serangan udara ke bandara Iran dan serangan darat ke provinsi Khuzestan.
Tujuan Irak:
- Menjatuhkan rezim Islam Iran.
- Merebut wilayah kaya minyak di Khuzestan.
- Meningkatkan kekuatan regional Irak sebagai pemimpin Arab.
JALANNYA PERANG (1980–1988)
1980–1982: Keunggulan Awal Irak
Irak berhasil menduduki sebagian wilayah Iran, termasuk kota Khorramshahr.
Namun, Iran melawan dengan melakukan mobilisasi militer rakyat (Basij) dan Garda Revolusi (IRGC).
1982–1984: Serangan Balasan Iran
- Iran berhasil merebut kembali wilayahnya, termasuk Khorramshahr.
- Iran melanjutkan ofensif ke wilayah Irak, dengan tujuan menggulingkan Saddam Hussein.
1984–1987: Perang Kapal Tanker dan Senjata Kimia
Perang Kapal Tanker: Kedua negara menyerang kapal-kapal tanker minyak di Teluk Persia.
Senjata Kimia: Irak menggunakan senjata kimia terhadap pasukan dan warga sipil Iran (contoh: serangan gas di Halabja 1988).
Keterlibatan Internasional:
Dukungan untuk Irak: AS, Uni Soviet, Arab Saudi, dan negara-negara Teluk memberikan bantuan ekonomi dan militer ke Irak.
Iran: Mendapat dukungan terbatas dari Suriah, Libya, dan Korea Utara. Juga menerima senjata dari skandal Iran-Contra (AS–Israel secara diam-diam menjual senjata).
AKHIR PERANG
1988: Gencatan Senjata
- Perang berakhir dengan Resolusi DK PBB 598, yang diterima oleh kedua pihak pada Agustus 1988.
- Tidak ada perubahan signifikan pada batas wilayah.
- Saddam Hussein tetap berkuasa,
Ayatollah Khomeini menyebut penerimaan gencatan senjata sebagai “lebih pahit dari racun”.
DAMPAK PERANG
Korban:
- Sekitar 500.000 hingga 1 juta tewas dari kedua belah pihak.
- Jutaan lainnya luka-luka atau mengungsi.
Ekonomi:
- Kedua negara mengalami kehancuran ekonomi.
- Infrastruktur minyak dan militer rusak parah.
Politik:
- Saddam semakin otoriter, melakukan represi terhadap oposisi dalam negeri.
- Iran memperkuat ideologi Revolusi Islam dan militerisasi masyarakat.
Referensi
- Hiro, Dilip. The Longest War: The Iran-Iraq Military Conflict (1989).
- Pelletiere, Stephen. The Iran-Iraq War: Chaos in a Vacuum (1992).
- Karsh, Efraim. “The Iran–Iraq War, 1980–1988”, The Middle East Journal.
- UN Security Council Resolution 598 (1987): https://digitallibrary.un.org/record/119195
- Human Rights Watch tentang senjata kimia Irak: https://www.hrw.org
- Encyclopedia Britannica: https://www.britannica.com/event/Iran-Iraq-War
- BBC History Archives: “Iran-Iraq War” – https://www.bbc.com












