Psikologi Massa, Studi Perilaku dan Proses Mental Kolektif

Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com


Pengertian Psikologi Massa

Psikologi massa adalah cabang psikologi sosial yang mempelajari perilaku, sikap, dan proses mental individu saat mereka menjadi bagian dari suatu kelompok besar (massa), baik dalam situasi demonstrasi, kerumunan, perayaan, hingga kekerasan kolektif.

Tujuan utama psikologi massa adalah memahami bagaimana dan mengapa individu bertindak berbeda saat berada dalam kerumunan, dibandingkan saat mereka sendiri.

Sejarah dan Tokoh Penting

a. Gustave Le Bon (1841–1931) – The Crowd: A Study of the Popular Mind (1895)

Le Bon adalah pelopor psikologi massa. Ia menyatakan bahwa dalam kerumunan:

  • Individu kehilangan identitas pribadi.
  • Mereka lebih mudah dipengaruhi dan cenderung bertindak irasional.
  • Massa memiliki “jiwa kolektif” yang primitif dan emosional.

Teori Le Bon:

  • Anonimitas: individu merasa tak bertanggung jawab.
  • Penularan emosional: emosi cepat menyebar.
  • Sugestibilitas: individu mudah terpengaruh pemimpin atau ide.

b. Sigmund Freud – Group Psychology and the Analysis of the Ego (1921)

Freud mengembangkan ide Le Bon dan menyatakan bahwa:

  • Ikatan massa berdasarkan identifikasi terhadap pemimpin.
  • Dorongan tidak sadar (insting) memainkan peran besar dalam massa.

c. Wilfred Trotter dan William McDougall

Mereka menekankan herd instinct (naluri kawanan) sebagai dasar perilaku massa.

Teori Psikologi Massa Modern

a. Deindividuasi (Zimbardo, 1969)

Dalam kelompok besar, individu mengalami kehilangan rasa identitas pribadi dan tanggung jawab.

Hal ini menurunkan kontrol diri dan meningkatkan perilaku menyimpang atau agresif.

b. Model Konvergensi

Berlawanan dengan Le Bon, teori ini menyatakan bahwa orang yang bergabung dalam massa memang sudah memiliki kecenderungan tertentu, dan massa hanya memperkuatnya.

c. Teori Identitas Sosial (Tajfel & Turner, 1979)

Individu bertindak dalam massa berdasarkan identitas kelompok mereka (in-group vs out-group).

Dalam massa, orang bertindak rasional berdasar norma kelompok, bukan irasional seperti yang diyakini Le Bon.

d. Teori Elaborasi Identitas Kolektif (Drury & Reicher)

Massa bukan sekadar kerumunan liar, tetapi dapat bertindak secara kooperatif dan strategis untuk mencapai tujuan bersama.

Contoh Fenomena Psikologi Massa

  • Demonstrasi atau protes sosial (misal: Arab Spring, Reformasi 1998 di Indonesia).
  • Kerusuhan atau huru-hara.
  • Panic buying atau kepanikan massal (seperti saat pandemi COVID-19).
  • Histeria massa (mass hysteria).
  • Fanatisme olahraga atau konser.

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Massa

  • Anonimitas
  • Kontagion emosional (penularan emosi)
  • Kepemimpinan kharismatik
  • Identifikasi kelompok
  • Situasi sosial-politik
  • Tekanan atau ketegangan sosial

Kritik terhadap Psikologi Massa Klasik

Pandangan Le Bon dianggap terlalu negatif dan deterministik.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa massa tidak selalu irasional atau destruktif.

Banyak aksi massa justru terorganisir, kooperatif, dan rasional (misalnya: aksi solidaritas, bantuan bencana, gerakan sosial damai).

Referensi

  1. Le Bon, G. (1895). The Crowd: A Study of the Popular Mind.
  2. Freud, S. (1921). Group Psychology and the Analysis of the Ego.
  3. Zimbardo, P. G. (1969). “The human choice: Individuation, reason, and order versus deindividuation, impulse, and chaos”. Nebraska Symposium on Motivation.
  4. Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An Integrative Theory of Intergroup Conflict.
  5. Reicher, S., & Stott, C. (2011). “Mad Mobs and Englishmen? Myths and Realities of the 2011 Riots”.
  6. Drury, J., & Reicher, S. (2009). “Collective psychological empowerment as a model of social change: Researching crowds and power”. Journal of Social Issues, 65(4), 707–725.
  7. Forsyth, D. R. (2019). Group Dynamics (7th ed.). Cengage Learning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *