Restorasi Meiji, Mekarnya Bunga Sakura Di Kaki Gunung Fuji – 1

EPISODE PERTAMA: BAYANG-BAYANG HITAM DI PELABUHAN URAGA

Panggilan dari Washington, 1852

Di atas geladak kapal perang “USS Mississippi”, yang berlabuh di perairan selatan Tiongkok, Komodor Matthew Calbraith Perry berdiri tegak, janggutnya berkibar pelan diterpa angin laut yang hangat dan garam.

Matanya yang tajam seperti elang memandang jauh ke cakrawala, seolah menatap masa depan yang belum terbentuk.

Di tangannya, sebuah amplop bersegel khusus dari Departemen Angkatan Laut Amerika Serikat baru saja tiba. Di dalamnya, perintah dari Presiden Millard Fillmore.

“Anda diminta untuk memimpin ekspedisi ke Kekaisaran Jepang… untuk membuka pelabuhan bagi kapal-kapal Amerika, menjamin keselamatan pelaut yang terdampar, dan membuka jalan bagi perdagangan damai…”

Perry membaca surat itu dua kali. Angin laut tiba-tiba terasa lebih berat. Bukan karena ketakutan, tapi karena beban sejarah yang mulai menumpuk di pundaknya.

Ia bukan hanya seorang komodor—ia adalah utusan dari sebuah bangsa muda yang ingin menancapkan jejaknya di panggung dunia. Dan Jepang, negeri yang selama dua abad menutup diri dari dunia, menjadi medan uji terakhir dari keberanian dan keangkuhan Amerika.

Ia menatap laut yang gelap. “Dua abad kesepian,” bisiknya, “akan berakhir oleh kekuatan teknologi dan senjata.”

Istana Putih, Washington D.C., Musim Gugur 1851.

Dalam ruang rapat yang dipenuhi asap cerutu dan aroma kertas perkamen, Presiden Millard Fillmore duduk di ujung meja panjang, wajahnya serius. Di sekelilingnya, para menteri luar negeri, angkatan laut, dan penasihat kebijakan luar negeri berkumpul seperti burung-burung gagak yang mengendus perubahan.

“Jepang,” kata Fillmore, suaranya rendah namun tegas, “adalah kunci. Bukan hanya untuk perdagangan, tapi untuk martabat Amerika di Pasifik. Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan kapal kita hancur tanpa perlindungan. Kita tidak bisa terus-menerus menjadi tamu di pelabuhan orang lain.”

Menteri Luar Negeri menambahkan, “Tapi Jepang telah menutup diri sejak 1639, sejak kebijakan “sakoku”. Mereka menolak semua bangsa asing. Bahkan Portugis dan Belanda hanya diizinkan di Deshima, dengan pengawasan ketat.”

“Kita bukan Portugis,” potong Perry, yang hadir sebagai perwakilan Angkatan Laut. “Kita bukan Belanda. Kita adalah Amerika—bangsa yang lahir dari revolusi, dari keberanian menentang tirani. Kita datang bukan untuk menjajah, tapi untuk membuka. Dan jika mereka menolak, kita akan menunjukkan bahwa laut adalah milik semua orang.”

Suasana ruang rapat menghangat. Beberapa menteri khawatir, beberapa skeptis. Tapi Perry—dengan postur tegap, suara berwibawa, dan mata yang tak pernah berkedip—membawa aura tak terbantahkan: ini harus dilakukan.

“Kita akan pergi,” kata Fillmore. “Dan kita akan pergi dengan kapal yang menakutkan, tapi dengan tangan terbuka.”

Persiapan Misi: Boston, Musim Dingin 1852–1853

Pelabuhan Boston menjadi tempat lahirnya sebuah legenda. Kapal-kapal uap terbaru—USS Susquehanna, USS Mississippi, USS Plymouth, dan USS Saratoga—dipasang ulang, dilengkapi dengan meriam Dahlgren yang bisa melontarkan peluru seberat 64 pon.

Kapal-kapal ini bukan sekadar alat transportasi; mereka adalah simbol teknologi, kekuatan, dan ambisi.

Perry memilih awak dengan ketat: pelaut terbaik, penerjemah, ilmuwan, bahkan pelukis untuk mendokumentasikan setiap detik perjalanan.

Ia juga membawa hadiah—kereta api mainan, telegraf, mesin uap kecil—untuk menunjukkan kecanggihan Amerika. Tapi di balik hadiah itu, ada pesan yang lebih dalam: “Kami maju. Anda harus ikut.”

Pada suatu pagi yang bersalju, 24 November 1852, armada berangkat. Rakyat Boston berdiri di dermaga, melambaikan topi dan saputangan. Anak-anak menangis, ibu-ibu berdoa. Perry berdiri di dek utama, memandang ke belakang.

Ia tahu, ini bukan sekadar misi diplomatik. Ini adalah ujian antara dua dunia: satu yang tertutup, satu yang tak bisa berhenti bergerak.

Perjalanan Melintasi Samudra, 1853

Di tengah Pasifik, waktu bergerak lambat. Laut biru tak berujung, bintang-bintang yang sama setiap malam, dan hembusan angin yang kadang memeluk, kadang menghantam. Perry mencatat dalam bukunya:

“Kadang aku merasa seperti Aeneas, yang membawa bangsa baru dari reruntuhan. Tapi aku bukan membawa bangsa—aku membawa masa depan. Dan masa depan itu tidak peduli pada tradisi yang rapuh.”

Ia sering berdiri sendirian di geladak malam hari, merenung. Ia bukan tanpa keraguan. Apakah ia benar-benar membawa perdamaian? Atau hanya membawa bayang-bayang imperialisme dengan topeng diplomasi? Tapi kemudian ia teringat pada pelaut Amerika yang terdampar di pantai Jepang, ditahan selama bertahun-tahun, diperlakukan seperti hewan.

“Keadilan,” bisiknya, “tidak bisa ditunda karena tradisi.”

Di kapal, para pelaut membicarakan Jepang seperti negeri dongeng: negeri para samurai, kaisar yang suci, dan shogun yang tak pernah terlihat. Beberapa menulis surat cinta kepada kekasih di rumah, berharap bisa kembali dengan cerita tentang bunga sakura dan wanita berkimono. Salah satu pelaut muda, James, menulis:

“Jika aku mati di tanah Jepang, kuburkan aku di bawah pohon yang mekar. Biar angin membawa serpihan bunganya ke laut, sebagai tanda bahwa aku pernah mencintai dunia ini.”

Edo, Jepang – Musim Panas 1853

Di istana keshogunan Edo, udara terasa pengap. Shogun Tokugawa Iesada duduk lesu di balik tirai sutra, wajahnya pucat, tubuhnya lemah. Di sekelilingnya, para “rōjū” (menteri senior) berdebat dengan suara bergetar.

“Bangsa asing datang lagi,” kata salah satu menteri. “Kapal-kapal besar, hitam, mengeluarkan asap seperti naga. Mereka sudah memasuki Teluk Edo.”

“Apakah mereka Belanda?” tanya shogun dengan suara serak.

“Bukan. Mereka mengatakan dari Amerika Serikat. Mereka membawa surat dari presiden mereka.”

Para menteri saling pandang. Amerika Serikat? Nama yang asing. Peta Jepang tidak menggambarkannya dengan jelas. Hanya ada catatan samar dari para pedagang Belanda di Deshima: “bangsa muda, kuat, tanpa raja, tapi menghormati hukum.”

“Kita harus menolak,” kata seorang menteri konservatif. “Kebijakan sakoku telah melindungi kita selama 200 tahun. Kita tidak butuh perdagangan. Kita punya beras, teh, dan kehormatan.”

Tapi seorang menteri muda, Abe Masahiro, angkat bicara: “Tapi kapal mereka—mereka mengapung tanpa layar, hanya dengan asap. Mereka memiliki meriam yang bisa menghancurkan Edo dalam sehari. Jika kita menolak, kita bukan berani—kita bodoh.”

Shogun terdiam. Di luar istana, rakyat Edo mulai gemetar. Di pasar, para pedagang membicarakan “kapal hitam” yang datang dari laut timur.

Anak-anak menangis, mengira itu kapal hantu. Para samurai berlatih lebih keras, tapi hati mereka dipenuhi keraguan. Dunia yang mereka kenal—dunia yang stabil, hierarkis, suci—tiba-tiba terasa rapuh.

Kedatangan Komodor Perry – 8 Juli 1853

Pagi itu, langit di atas Teluk Uraga berwarna abu-abu keperakan. Angin berhembus pelan, membawa aroma garam dan ketakutan.

Lalu, dari kejauhan, muncul bayang-bayang hitam: empat kapal uap, mengeluarkan asap tebal, melaju perlahan tapi pasti.

Masyarakat pantai berhamburan. Para nelayan menjauh dari perahu. Anak-anak menangis. Para samurai berdiri di tebing, tangan memegang pedang, tapi tidak bergerak. Kapal-kapal itu bukan kapal biasa. Mereka seperti makhluk hidup dari dunia lain.

Di kapal utama, Perry berdiri di dek, mengenakan seragam lengkap, topi emas bersinar di bawah sinar matahari. Di sampingnya, bendera Amerika berkibar—merah, putih, biru—melawan langit yang suram.

Ketika kapal berlabuh, Perry tidak langsung turun. Ia menunggu. Ia ingin mereka merasakan berat kehadirannya.

Lalu, dengan pasukan bersenjata lengkap, ia turun ke perahu kecil, diiringi musik marinir yang memainkan lagu “Hail Columbia”.

Di dermaga, para pejabat Jepang berdiri kaku, wajah mereka pucat. Mereka membungkuk, tapi bukan karena hormat—karena ketakutan.

Perry menyerahkan gulungan surat dari Presiden Fillmore, ditulis dalam bahasa Inggris, Latin, Belanda, dan Tionghoa—karena Jepang hanya memahami Belanda.

“Kami datang dalam damai,” kata Perry melalui penerjemah. “Tapi damai hanya bisa terjadi jika ada komunikasi. Jika tidak, laut tidak akan pernah tenang.”

Ancaman… Ya itu adalah sebuah kalimat ancaman terselubung tapi jelas dan tegas dari seorang Komodor yang mewakili sebuah bangsa besar di ujung lautan yang sedang bergerak agresif menjelajah seluruh dunia dan akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya—bahkan dengan senjata.

Shogun dan para menteri menerima surat itu dengan tangan gemetar. Mereka tahu: sakoku telah berakhir. Bukan karena kekalahan, tapi karena dunia telah berubah—dan Jepang tidak bisa lagi berpura-pura bahwa dunia itu tidak ada.

Epilog

Di malam hari, Perry kembali ke kapal. Ia duduk di kabinnya, menulis dalam jurnal:

“Hari ini, aku tidak hanya membawa surat. Aku membawa masa depan. Mereka mungkin membenciku sekarang, tapi suatu hari, mereka akan mengingatku bukan sebagai penjajah, tapi sebagai pembuka pintu. Karena keberanian bukan hanya tentang menyerang, tapi tentang mengetuk pintu yang telah lama dikunci—dan menunggu, dengan angkuh, agar dibukakan.”

Di pantai, seorang gadis muda dari keluarga samurai menatap kapal-kapal hitam dari kejauhan. Ia memegang bunga sakura yang baru mekar. Ia tidak tahu siapa Perry, tapi ia tahu: dunia akan berubah.

Dan dalam hatinya, ia berbisik,

“Jika cinta bisa datang dari negeri yang jauh, mungkin damai juga bisa.”

Catatan Tambahan

Kebijakan sakoku (鎖国) diberlakukan sejak 1639 oleh Tokugawa Iemitsu, membatasi interaksi asing hanya melalui Deshima (Nagasaki) dengan Belanda dan Tiongkok.

Referensi

  1. Perry, M.C. (1856). “Narrative of the Expedition of an American Squadron to the China Seas and Japan”. Washington: Smithsonian Institution Press.
  2. Totman, Conrad. (1981). ‘The Collapse of the Tokugawa Bakufu, 1862–1868″. University of Hawaii Press.
  3. Jansen, Marius B. (2000). “The Making of Modern Japan”. Harvard University Press.
  4. Hellyer, Robert. (2009). “Defining Engagement: Japan and Global Contexts, 1640–1868”. Harvard University Asia Center.

Responses (3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *