Siliwangi, Bara Semangat yang Tak Pernah Padam 

DI BAWAH HUJAN TATAR SUNDA: SILIWANGI DAN BARA YANG TAK PERNAH PADAM 

Hujan di Cikampek, 1947

Hujan turun sejak subuh. Bukan hujan biasa – datang seperti tangisan langit yang tak kunjung reda. Di jalan raya Cikampek, tanah berlumpur tampak enggan menghisap darah para pejuang yang terjatuh.

Di tengah kabut, seorang tentara muda dari Batalyon 13 Siliwangi memeluk senapan karabin erat-erat, matanya memandang ke arah timur, ke tempat asap hitam membubung dari stasiun kereta yang dibakar.

“Mereka datang,” bisiknya. Dan mereka datang.

Dari kejauhan, terdengar deru tank KNIL (Angkatan Darat Kerajaan Belanda),  dilindungi oleh desing ratusan peluru yang menyapu pepohonan di pinggir jalan.

Di baliknya, pasukan infanteri Belanda bergerak maju dengan seragam khaki khas kolonial, helm baja mengilap meski basah.

Mereka bukan sekadar pasukan penjajah, mereka adalah bayang-bayang masa lalu yang berusaha kembali untuk mengubur masa depan dan impian sebuah bangsa.

Di sanalah, di bawah hujan yang tak henti, Pasukan Siliwangi – anak-anak muda dari tanah Parahyangan menghadapi musuh yang lebih besar, bersenjata lebih lengkap dan tentunya lebih terlatih.

Tapi mereka punya satu kekuatan yang tak bisa dibeli dengan amunisi: cinta pada tanah air yang tak terbagi.

Lahir dari Tanah yang Terluka

Siliwangi bukan sekadar nama divisi militer. Ia adalah roh dan spirit kerajaan Sunda – Galuh (Padjadjaran) yang dihidupkan kembali di abad ke-20.

Siliwangi adalah nama raja yang melekat kuat pada dirinya simbol kebijaksanaan, kekuatan, dan keberanian untuk menegakan keadilan dan harapan kembalinya kemakmuran masa lalu.

Dibentuk pada 1946 di Bandung, Divisi Siliwangi (Divisi III) adalah tulang punggung pertahanan Republik di Jawa Barat.

Dipimpin oleh Kolonel Abdul Haris Nasution, seorang perwira yang berpikir seperti filsuf dan bertempur seperti maung, mereka menjadi simbol ketahanan dan keberanian tanpa syarat.

Tapi pada 1947, Belanda melancarkan Agresi Militer I (Operatie Product), menginvasi wilayah-wilayah kaya di Jawa dan Sumatra.

Jawa Barat yang merupakan jantung Siliwangi dijadikan target utama. Kota-kota seperti Bandung, Cirebon dan Sukabumi jatuh dalam serangan kilat.

Namun Siliwangi tidak menyerah. Mereka menghilang ke pegunungan, menyatu dengan hutan, sungai, dan desa-desa kecil.

Mereka memilih perang gerilya bukan pertempuran frontal. Dalam diam, mereka menanam benih perlawanan.

Perang di Balik Bayang-Bayang Ketidakpastian: 1947 – 1948

Setelah Agresi Militer I, Belanda mengklaim telah memulihkan ketertiban. Tapi di balik garis demarkasi Van Mook, Siliwangi tetap hidup.

Mereka bergerak seperti hantu:

  • Di Tasikmalaya mereka menyerang konvoi logistik Belanda di malam hari, lalu menghilang sebelum fajar.
  • Di Garut mereka membakar jembatan-jembatan strategis, memutus jalur komunikasi.
  • Di Cianjur mereka menyusup ke markas KNIL, mencuri senjata, dan meninggalkan bendera Merah Putih di atas meja komandan.

Belanda menyebut mereka “bandieten” (penjahat). Tapi bagi rakyat, mereka adalah titisan para leluhur yang bangkit dari kubur untuk melindungi tanah leluhur.

Salah satu operasi paling berani terjadi pada November 1947, ketika Kompi C Siliwangi menyergap patroli KNIL di lereng Gunung Halimun.

Dalam pertempuran singkat, 12 tentara Belanda tewas, dua tank rusak. Tapi harga yang dibayar mahal: 8 tentara Siliwangi gugur, termasuk Komandan Kompi, Letnan R. Wiranatakusumah yang merupakan cucu dari Bupati Bandung pertama.

Dalam catatan harian yang ditemukan di tendanya, tertulis:

“Aku tidak takut mati. Aku hanya takut, jika tanah ini dilupakan.”

Renville dan Long March: Pengorbanan Para Maung Ksatria Sunda

Pada 17 Januari 1948, Perjanjian Renville ditandatangani di atas kapal USS Renville, Garis Van Mook ditarik, membagi Jawa Barat menjadi dua. Wilayah Siliwangi tanah kelahiran mereka dinyatakan berada di bawah kendali Belanda.

Perintah datang: tarik mundur pasukan ke Jawa Tengah!

Dan dimulailah “Long March Siliwangi” – perjalanan 400 kilometer melintasi hutan, rawa, dan pegunungan, dengan hanya nasi aking dan ikan asin sebagai bekal.

Mereka berjalan selama berbulan-bulan, dikejar patroli udara Belanda, diserang oleh laskar lokal yang curiga, dikhianati oleh mata-mata tak terduga.

Tapi mereka terus berjalan dalam hening, sunyi dan tanda tanya.

Di Ciamis seorang ibu tua memberi makan mereka dengan nasi ketan yang dibungkus daun pisang. “Makanlah,” katanya, berlinang air mata. “Hanya ini makanan yang bisa kuberi. Mudah-mudahan kalian bisa kembali.”

Mereka tidak menjawab. Mereka hanya menghormat dan tersenyum, lalu melanjutkan perjalanan.

Agresi II: Kembalinya Sang Maung Tanah Sunda

Pada 19 Desember 1948, Belanda kembali menyerang – Agresi Militer II Yogyakarta jatuh. Soekarno dan Hatta ditangkap. Republik diambang kematian.

Tapi di Jawa Tengah, dari reruntuhan Republik, Siliwangi bangkit kembali.

Kolonel Nasution membentuk Komando Gerilya Siliwangi (Kogasli). Dengan hanya 3.000 tentara yang tersisa, mereka memulai perang gerilya total.

  • Di Magelang mereka menyerang markas polisi Belanda, membebaskan tahanan politik.
  • Di Purworejo mereka memutus jalur kereta api dengan ledakan yang mengguncang malam.
  • Di Wonosobo mereka menyamar sebagai petani, lalu menyerang pos patroli saat hujan deras.

Belanda kebingungan. Mereka memiliki peta, radar, dan pesawat tempur tapi tidak bisa menangkap bayang-bayang maung yang hidup di antara rakyat.

Seorang perwira KNIL, Mayor Hendrik van der Meer, menulis dalam bukunya “De Oorlog in Java” (1952):

“Kami bisa menguasai kota, stasiun, bahkan istana. Tapi kami tidak pernah menguasai hati rakyat. Dan selama Siliwangi hidup di antara mereka, kami akan selalu kalah – meski menang dalam pertempuran.”

Harga Kemenangan

Kemenangan tidak datang tanpa darah. Ribuan tentara Siliwangi gugur. Banyak yang tidak diketahui nasibnya – tenggelam di rawa, dikubur di hutan, atau hilang tanpa jejak.

Di desa Karangpucung, Cilacap, seorang petani menemukan lubang besar di tanah.

Di dalamnya, jasad 14 tentara Siliwangi, tangan terikat, mulut dilakban. Mereka dieksekusi setelah tertangkap. Tidak ada catatan resmi. Tidak ada monumen – tidak ada medali yang menjadi ciri.

Tapi rakyat setempat masih menanam bunga di lubang itu setiap 17 Agustus.

Akhir Perang, Awal Kenangan

Pada 27 Desember 1949, Belanda secara resmi mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Di Istana Merdeka, Soekarno berkata:

“Kita menang bukan karena senjata, tapi karena tekad yang tak bisa ditaklukkan.”

Dan di antara yang berdiri di barisan belakang – kumal, letih, tapi tegak adalah sisa-sisa Pasukan Siliwangi.

Mereka tidak minta pujian. Tidak minta jabatan. Mereka hanya ingin kembali pulang ke tanah yang mereka bela.

Pada 29 Juni 1950, mereka kembali ke Jawa Barat. Hari itu kini diperingati sebagai Hari Jadi Kodam III/Siliwangi.

Epilog: Dalam Diam, Mereka Masih Berjaga

Hari ini, di tengah gedung-gedung tinggi Bandung, di bawah jembatan Pasteur, di pinggir Sungai Cikapundung, kadang masih terdengar suara derap langkah kaki. Bukan tentara. Tapi angin yang membawa bisikan dari masa lalu.

Bisikan dari Cikampek yang terbakar. Dari Gunung Halimun yang berdarah. Dari Long March yang tak pernah dilupakan.

Karena Siliwangi bukan hanya pasukan. Mereka adalah jiwa dan semangat yang tak pernah padam dan menyerah.

Dan selama Nusantara masih bernama, mereka akan terus berjaga dalam diam, dalam hujan, dalam kenangan yang kuat tersimpan.

Catatan

Narasi ini menggabungkan fakta sejarah dengan gaya sastra untuk menyampaikan dimensi emosional, moral, dan filosofis dari perjuangan Pasukan Siliwangi.

Semua peristiwa didasarkan pada sumber primer dan sekunder yang terverifikasi.

Tulisan ini berusaha menghidupkan kembali ingatan kolektif atas pengorbanan leluhur bangsa yang sering terlupakan atau mungkin sengaja dilupakan.

Referensi

  1. Nasution, A.H. (1964). “Memenuhi Panggilan Tugas”, Jilid I. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
  2. Ricklefs, M.C. (2008). “Sejarah Indonesia Modern 1200–2004”, Jakarta: Serambi.
  3. Salim Said (2005). “Revolusi dan Perang Gerilya”. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
  4. Pusat Sejarah TNI (Pusjarah TNI). “Sejarah Militer Indonesia, Jilid III: Masa Revolusi Nasional”.
  5. van der Meer, Hendrik (1952). “De Oorlog in Java: Herinneringen van een KNIL-Officier”. Amsterdam: Uitgeverij Wereldbibliotheek.
  6. Cribb, Robert (1991). “Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People’s Militia and the Indonesian Revolution 1945–1949”. ANU Press.
  7. Feith, Herbert (1964). “The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia”. Cornell University Press.
  8. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) – Dokumen Perjanjian Renville, Laporan Agresi Militer I & II.

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *