Sundaland, Bangkitnya Sebuah Peradaban yang Pernah Tenggelam

BANGKITNYA PERADABAN SUNDALAND 

Di balik kabut waktu yang tak pernah benar-benar pudar, di antara bisikan ombak Selat Sunda dan semilir angin yang menyapu dataran rendah Nusantara, tersimpan sebuah kenangan purba.

Kenangan tentang Sundaland, peradaban yang tenggelam namun tak pernah mati. Ia bukan sekadar legenda yang terkubur di dasar laut, melainkan jiwa yang menunggu saatnya kembali bernapas.

Ribuan tahun silam, ketika dunia masih muda dan langit belum penuh dengan asap peradaban modern, Sundaland menjulang sebagai pusat peradaban manusia.

Di sana, di antara hutan tropis yang rimbun dan sungai-sungai yang mengalir tenang, manusia pertama di Nusantara menanam padi, memahat batu, dan menyusun kosmologi dari rasi bintang.

Mereka hidup selaras dengan alam, bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai bagian dari ritme yang tak terputus antara bumi dan langit.

Namun zaman es berakhir. Es mencair dan air laut naik. Perlahan-lahan, Sundaland yang dulu membentang dari Semenanjung Malaya hingga Kalimantan, dari Jawa hingga Sumatra mulai tenggelam dalam pelukan samudra.

Kota-kota yang pernah gemerlap, kuil-kuil yang pernah menyimpan rahasia langit, semua lenyap ditelan air. Tapi jiwa Sundaland tak ikut tenggelam.

Ia berpindah, tersebar dalam darah para keturunannya, dalam bahasa yang masih berbisik di pulau-pulau Nusantara, dalam tarian yang menggambarkan gerak bumi, dan dalam nyanyian yang menyebut nama leluhur yang tak tercatat dalam sejarah resmi.

Kini, di abad ke-21, ketika dunia modern mulai kehilangan arah dalam hiruk-pikuk teknologi dan materialisme, Sundaland perlahan bangkit kembali – bukan dalam bentuk batu dan bangunan, melainkan dalam kesadaran kolektif.

Para ilmuwan mulai mengungkap jejaknya melalui genetika, arkeologi, dan geologi. Para penyair dan seniman menghidupkannya kembali lewat kata dan warna.

Masyarakat adat, yang selama ini menjaga warisan leluhur, menjadi penjaga nyala api peradaban itu.

Bangkitnya Sundaland bukanlah nostalgia buta terhadap masa lalu, melainkan panggilan untuk kembali pada akar: pada harmoni, pada kearifan lokal, pada penghormatan terhadap alam.

Ia adalah undangan untuk membangun peradaban baru, bukan yang menaklukkan bumi tetapi yang menyatu dengannya.

Renungkanlah sahabat! Akar peradaban Nusantara jauh lebih tua dari yang selama ini diajarkan dan ingatlah bahwa kebangkitan bukan selalu tentang membangun yang baru, tapi juga mengenali kembali yang pernah ada.

Dan Sundaland, dalam diamnya yang megah, kini kembali berbicara melalui kita.

“Yang tenggelam bukan berarti musnah. Yang hilang dari peta belum tentu lenyap dari jiwa.”

Referensi Akademik dan Ilmiah

  1. Oppenheimer, Stephen. (1998). “Eden in the East: The Drowned Continent of Southeast Asia”. London: Weidenfeld & Nicolson.→ Buku ini mengajukan hipotesis bahwa Sundaland adalah tempat asal peradaban awal Asia Tenggara, dan tenggelamnya memicu migrasi besar-besaran.
  2. Coles, B. (2000). “Doggerland: The Lost World of the Mesolithic”. In: Antiquity, 74(286), 729–731.→ Meski fokus pada Eropa, studi ini memberikan analogi geologis tentang tenggelamnya daratan akibat kenaikan permukaan laut pasca-Zaman Es mirip dengan nasib Sundaland.
  3. Soares, P., et al. (2008). “Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia.” Molecular Biology and Evolution, 25(6), 1209–1218.→ Studi genetika populasi yang menunjukkan pola migrasi manusia dari Sundaland setelah tenggelamnya dataran tersebut.
  4. Sathiamurthy, E., & Voris, H. K. (2006). “Pleistocene Sea Levels and the Distribution of Sundaland.” The Raffles Bulletin of Zoology, Supplement No. 13, 133–141.→ Pemetaan paleogeografi Sundaland selama Zaman Pleistosen.
  5. Bellwood, Peter. (2007). “Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago”. ANU E Press.→ Karya klasik tentang migrasi Austronesia dan akar peradaban di Nusantara, termasuk kaitannya dengan Sundaland.

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *