Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com
KESHOGUNAN TOKUGAWA (1603-1868): MASA ISOLASI NASIONAL
PENDAHULUAN
Keshogunan Tokugawa (徳川幕府, Tokugawa bakufu), juga dikenal sebagai periode Edo, adalah masa pemerintahan militer yang menguasai Jepang dari tahun 1603 hingga 1868.
Periode ini merupakan era stabilitas politik, ekonomi, dan sosial yang panjang setelah masa perang saudara yang berkepanjangan (Sengoku Jidai).
Didirikan oleh Tokugawa Ieyasu, keshogunan ini berpusat di Edo (sekarang Tokyo) dan membawa Jepang dalam masa isolasi nasional (sakoku) selama lebih dari dua abad.
Latar Belakang dan Pembentukan
Sebelum Tokugawa, Jepang mengalami masa perang saudara sengit (abad ke-15 sampai awal abad ke-17).
Tokugawa Ieyasu menjadi penguasa tertinggi setelah memenangkan Pertempuran Sekigahara (1600), mengalahkan para daimyō saingannya.
Pada 1603, Kaisar Jepang mengangkat Ieyasu sebagai Shogun, memulai era baru pemerintahan militer.
SISTEM PEMERINTAHAN
Bakufu (Pemerintahan Militer)
Pemerintahan dikendalikan oleh shogun dan pejabatnya dari Edo.
Kaisar tetap ada di Kyoto namun hanya sebagai simbol spiritual.
Sistem Han
Jepang dibagi dalam wilayah-wilayah feodal yang disebut “han” dipimpin oleh daimyo.
Sistem pengawasan ganda diterapkan agar daimyo tidak memberontak dengan cara:
- Daimyo diwajibkan tinggal di Edo secara bergiliran (sankin-kōtai).
- Keluarga daimyo harus tinggal di Edo sebagai “sandera”.
Empat Kelas Sosial
- Samurai (kelas militer)
- Petani (produksi pangan)
- Pengrajin (produksi barang)
- Pedagang (kegiatan komersial, dipandang rendah)
ISOLASI NASIONAL (SAKOKU)
Pada 1630-an, Tokugawa menerapkan kebijakan Sakoku (isolasi nasional).
Jepang menutup diri dari pengaruh asing, hanya membuka pelabuhan Nagasaki untuk perdagangan terbatas dengan Belanda dan Tiongkok. Sementara itu agama Kristen dilarang dan para misionaris diusir ke luar Jepang.
KEHIDUPAN SOSIAL & EKONOMI
Zaman Edo dikenal stabil, damai, dan mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat.
Kota-kota seperti Edo, Osaka, dan Kyoto berkembang. Budaya populer tumbuh: kabuki, ukiyo-e (seni lukis), sastra, dan festival berkembang pesat.
PERKEMBANGAN BUDAYA
Berkembangnya budaya “chōnin” (kelas pedagang dan pengrajin kota) serta munculnya kesenian seperti Kabuki (teater), Ukiyo-e (lukisan kayu cetak) dan Haiku (puisi pendek).
Selain itu Bushido (kode etik samurai) menjadi roh dan jalan hidup masyarakat.
Sementara itu Edo menjadi salah satu kota terpadat di dunia pada masanya.
PENURUNAN & KEHANCURAN
Pada pertengahan abad ke-19, tekanan internasional meningkat (terutama dari AS). Pada 1853, Komodor Matthew Perry dari Amerika memaksa Jepang membuka pelabuhan melalui “Perjanjian Kanagawa” (1854).
Ketidakpuasan internal terhadap shogun meningkat, ditambah krisis ekonomi dan kuatnya gerakan untuk mengembalikan kekuasaan ke Kaisar (Restorasi Meiji).
Akhirnya pada 1868, Shogun Tokugawa Yoshinobu menyerahkan kekuasaan kepada Kaisar Meiji, menandai berakhirnya Keshogunan Tokugawa dan dimulainya modernisasi Jepang.
RINGKASAN KESHOGUNAN TOKUGAWA
- Periode: 1603-1868
- Pendiri: Tokugawa Ieyasu
- Pusat Pemerintahan: Edo (Tokyo)
- Sistem Pemerintahan: Feodalisme militer
- Ciri Khas: Isolasi nasional, stabilitas, pertumbuhan budaya
- Akhir: Restorasi Meiji, 1868
Referensi
- Totman, Conrad. Early Modern Japan (University of California Press, 1993).
- Hall, John Whitney. Japan: From Prehistory to Modern Times (University of Michigan Press, 1971).
- Beasley, W.G. The Japanese Experience: A Short History of Japan (University of California Press, 1999).
- Nussbaum, Louis-Frédéric. Japan Encyclopedia (Harvard University Press, 2002).
- Screech, Timon. Tokyo Before Tokyo: Power and Magic in the Shogun’s City of Edo (Reaktion Books, 2020).













https://shorturl.fm/3eqyn