Valerianus Augustus, Tragedi Kaisar Roma yang Berlutut di Atas Pasir Persia

ROMA YANG BERLUTUT DI PASIR PERSIA: TRAGEDI VALERIAN DALAM BAYANG-BAYANG DUA IMPERIUM

Di bawah terik matahari Mesopotamia yang tak kenal belas kasihan, sejarah mencatat sebuah adegan yang mengiris jiwa – bukan karena darah yang mengalir, melainkan karena martabat yang diinjak.

Di sana, pada tahun 260 Masehi, di tanah yang dulu bernama Edessa, seorang kaisar Romawi, “Imperator Caesar Publius Licinius Valerianus Augustus”, berdiri atau lebih tepatnya, berlutut – bukan di atas singgasananya di Roma, melainkan di hadapan seorang raja Persia, raja yang menamakan dirinya Shapur I, Raja Para Raja dari Kekaisaran Sasania.

Valerian, sang kaisar Romawi yang naik tahta di tengah badai krisis: wabah Antoninus yang menggerogoti jiwa, invasi suku-suku Jermanik di barat, dan kebangkitan kekuatan Persia di timur.

Ia bukan kaisar yang digambarkan oleh sejarawan sebagai bijak seperti Marcus Aurelius atau karismatik seperti Trajan.

Valerian adalah simbol keputusasaan Kekaisaran Romawi di abad ketiga, abad yang sering disebut sebagai “Crisis of the Third Century”, zaman di mana kejayaan Romawi bergetar di ambang kehancuran.

Namun, takdir menulis babak paling memalukan dalam sejarah militer Romawi bukan di medan perang yang heroik, melainkan dalam tawanan yang memalukan.

Penangkapan: Sang Kaisar Jatuh ke Tangan Musuh

Tahun 260 M. Valerian memutuskan untuk memimpin pasukannya sendiri ke timur, menghadang serbuan besar -besaran Shapur I ke wilayah-wilayah timur Imperium.

Ia berangkat dengan harapan bisa menghentikan gelombang kekuatan Persia yang semakin membengkak.

Namun, strategi militer Romawi yang biasanya kokoh, kali ini runtuh seperti pasir di tangan. Di dekat Edessa (kini Şanlıurfa, Turki), Valerian terjebak dalam perangkap diplomasi dan militer yang licin.

Shapur I, seorang raja yang bukan hanya kuat secara militer tetapi juga lihai dalam siasat, mengajak Valerian untuk berunding.

Ia menjanjikan perdamaian, tawar-menawar, jaminan keamanan. Dalam catatan yang terukir di dinding batu di Naqsh-e Rustam – relief monumental yang masih berdiri hingga kini menggambarkan Valerian mendekati Shapur dengan tangan terulur, mungkin dalam upaya damai.

Tapi Shapur, dengan jubah ungu kebesaran dan mahkota kerajaan yang megah, menangkapnya. Di sana, di tengah debu dan kesunyian, sang Kaisar Romawi pertama dan satu-satunya yang ditangkap hidup-hidup oleh musuh dan kehilangan segalanya: kekuasaan, kehormatan, dan kebebasan.

“Aku menangkap Kaisar Romawi, Valerian, dengan tanganku sendiri,” begitu Shapur I menulis dalam “Res Gestae Divi Saporis,” inskripsi trilingua (Parthia, Persia Kuno, Yunani) yang menjadi saksi bisu kejayaan Sasania.

Kalimat itu bukan sekadar laporan militer, melainkan nyanyian kemenangan yang dibakar ke dalam batu – abadi, congkak, dan memalukan bagi Roma.

Penghinaan: Kaisar sebagai Tawanan, Martabat sebagai Tontonan

Yang membuat tragedi Valerian begitu menyayat hati bukan hanya penangkapannya, melainkan nasibnya setelah itu.

Berbeda dengan tawanan perang biasa, Valerian tidak dieksekusi, tidak dibunuh dengan cepat. Ia dipertahankan untuk dipertontonkan.

Catatan sejarah Byzantium dan sumber-sumber kemudian, seperti Lactantius dalam “De Mortibus Persecutorum”, menyebut bahwa Valerian dijadikan budak oleh Shapur.

Ia dikabarkan dipaksa untuk berlutut sebagai pijakan kaki sang raja saat naik kuda. Ia dipaksa mengenakan jubah merah yang menyamar sebagai jubah kebesaran, namun justru menjadi simbol olok-olok.

Ia diperlakukan sebagai hiasan dalam pawai kemenangan, diperlihatkan kepada rakyat Persia sebagai bukti bahwa bahkan Roma, sang penguasa dunia, bisa tunduk.

Beberapa sumber, termasuk historiografer abad ke-6, Agathias, bahkan menyampaikan kisah yang lebih kelam: bahwa setelah Valerian meninggal, tubuhnya diawetkan dengan metode khusus mungkin dengan pengeringan atau pengawetan dengan rempah dan digantung di kuil-kuil Persia sebagai peringatan abadi terhadap kesombongan kekuasaan Barat.

“Tubuhnya diwarnai kuning, kulitnya dilestarikan, dan digantung di gerbang istana,” tulis Agathias, meski keakuratan detail ini diperdebatkan oleh para ahli modern.

Namun, simbolisme dari narasi itu jelas: Valerian bukan sekadar mati, ia dihukum bahkan setelah kematiannya.

Gema dalam Sejarah dan Sastra

Nasib Valerian menjadi cermin bagi kelemahan Roma yang semakin nyata. Ia bukan hanya kehilangan perang, tapi juga kehilangan dignitas – konsep suci dalam budaya Romawi.

Dalam puisi dan retorika Romawi kemudian, nama Valerian disebut dengan suara bergetar, bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai peringatan: Ambisi tanpa kebijaksanaan adalah jalan menuju kehinaan.

Penulis Kristen Lactantius, yang hidup di abad ke-4, menggunakan kisah Valerian sebagai alegori ilahi: bahwa Tuhan menghukum Roma karena penganiayaan terhadap umat Kristen. “Tuhan membiarkan Valerian ditangkap agar dunia tahu bahwa kekuasaan manusia hanyalah debu,” tulisnya.

Namun, dari sudut pandang sastra, Valerian adalah karakter tragis ala Sophocles, seorang raja yang jatuh bukan karena dosa pribadi yang besar, melainkan karena takdir, kebodohan kolektif, dan waktu yang tidak bersahabat.

Ia adalah simbol dari kejatuhan peradaban yang terlalu percaya pada kejayaan masa lalu, lupa bahwa kebesaran tanpa ketangguhan batin adalah istana di atas pasir.

Bayang-Bayang Masa Lalu di Naqsh-e Rustam

Hari ini, di lembah Naqsh-e Rustam, selatan Iran, relief batu Shapur I masih berdiri. Di sana, sosok Valerian digambarkan kecil, membungkuk, tangan terulur – mungkin dalam permohonan, mungkin dalam ketidakberdayaan.

Shapur menjulang tinggi di atas kuda, gagah, menatap langit seolah berkata: Inilah akhir dari Roma.

Tidak ada patung Valerian yang tersisa di Roma untuk mengenangnya. Tidak ada koin yang masih menghormatinya. Ia lenyap dari kenangan kecuali sebagai nama yang terluka dalam catatan sejarah.

Tapi di sana, di antara batu-batu kuno Persia, Valerian hidup bukan sebagai kaisar, melainkan sebagai peringatan abadi: bahwa kekuasaan, sehebat apa pun, bisa berakhir dengan satu lutut di atas tanah asing.

Epilog: The Literary Chronicle

Esai ini mengungkap fakta sejarah untuk mengeksplorasi dimensi kemanusiaan di balik peristiwa besar.

Dalam tragedi Valerian, kita bukan hanya melihat kejatuhan seorang kaisar, tetapi juga renungan tentang kehormatan, kekuasaan, dan kerapuhan peradaban.

Referensi

  1. Shapur I’s Inscription at Naqsh-e Rustam (ŠKZ) – Sumber primer dari Kekaisaran Sasania, diterjemahkan oleh H. Humbach & P.O. Skjærvø, “The Sasanian Inscription of Paikuli”, 1978.
  2. Lactantius, “De Mortibus Persecutorum” (Tentang Kematian Para Penganiaya), Bab 5 – Menyajikan versi Kristen tentang kejatuhan Valerian.
  3. Agathias, “Histories”, Book 4 – Sumber Bizantium abad ke-6 yang menyebut pengawetan jenazah Valerian.
  4. Zosimus, “Historia Nova” – Historiografer Yunani abad ke-5 yang mengkritik kebijakan militer Valerian.
  5. Brent D. Shaw, “Environment and Society in the Roman Near East” (Cambridge, 2011) – Konteks sosial dan militer penangkapan Valerian.
  6. Touraj Daryaee, “Sasanian Iran (224–651 CE): Portrait of a Late Antique Empire” (2008) – Analisis mendalam tentang kejayaan Shapur I dan kemenangannya atas Roma.

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *