BUDAK ANGON, PENYELAMAT DI UJUNG SENJA NEGERI
Di bawah langit yang merah oleh senja bernanah yang penuh luka, di antara tetesan embun dedaunan yang berbau anyir darah, di balik bukit-bukit sunyi yang menyimpan pesan dan bisikan leluhur, ia tiba-tiba muncul… Budak Angon
Bukan raja, bukan ksatria, bukan pula penguasa dan pemilik takhta, tapi gembala yang menggiring hati yang tersesat di padang waktu yang sunyi.
Ia berjalan tanpa pedang, tanpa baju zirah, tanpa sorak rakyat. Hanya seruling bambu yang menemani, mengalunkan nada-nada masa lalu yang tak terdengar telinga biasa, tapi menusuk dan menggugah jiwa yang masih percaya pada keadilan dan kebenaran.
Ia adalah anak bumi, lahir dari tanah yang retak oleh keserakahan, bangkit dari tangis pertiwi yang dikhianati berkali-kali, dibesarkan oleh angin yang membawa jerit derita rakyat jelata, didorong oleh air yang membawa tangis lapar anak yatim yang terabaikan – dibimbing oleh wangsit gaib sang Raja Agung Prabu Siliwangi… Raja yang memilih ngahyang demi menjaga kemurnian takdir.
“Kelak, saat negeri terbelah oleh nafsu, saat kebohongan diangkat jadi ratu, saat hukum jadi dagangan, saat kebodohan terang dipertontonkan, saat pengkhianatan diberi jalan pembenaran, saat kebenaran dianggap ancaman – muncullah Budak Angon… Sang Geutih Siliwangi dari pinggir kekuasaan dan kesederhanaan, membawa cahaya terang benderang tanpa sorot lampu menyilaukan istana.”
Ia bukan pahlawan konvensional. Ia tak mengangkat senjata. Ia tak berpidato di podium megah. Tapi ia berbicara lewat tindakan: menolong tanpa pamrih, mengingatkan tanpa menghakimi, menyatukan tanpa memaksa.
Ia datang saat bangsa hampir hancur binasa terbelah oleh hasrat kuasa, oleh kebencian yang dipupuk sistem, oleh kebohongan yang diulang-ulang hingga jadi kebenaran palsu yang penuh tipu.
Di tangannya, seruling itu bukan sekadar alat musik – ia adalah pamuk, pengingat. Nada-nadanya menyentuh hati yang beku, membangunkan nurani yang tertidur.
Ia tidak menggembala domba, tapi hati manusia – mengembalikan mereka ke jalan hampa tanpa pamrih, ke jalan kasih tanpa syarat, ke jalan kebenaran tanpa topeng kepalsuan.
“Budak Angon datang bukan untuk berkuasa, tapi untuk menyadarkan. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk memeluk. Bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menyatukan kembali benang-benang yang putus.”
Dan ketika ia berdiri di tengah kehancuran, di tepi jurang kebinasaan, di antara api kebencian yang menjilat langit dan angkasa nusantara… Ia tak gentar dan terus maju melangkah walau pelan.
Matanya tenang, seperti danau di pagi hari. Langkahnya pasti seperti akar pohon yang menembus kerasnya batu karang. Ia tak butuh harta ataupun jabatan – ia butuh kesadaran.
Dan lambat laun, satu demi satu, orang-orang mulai mendengar serulingnya. Mereka meletakkan senjata, menghapus dendam, menanggalkan seragam kebencian. Mereka kembali menjadi manusia.
Inilah romansa sejati: bukan cinta antara dua insan, tapi cinta seorang calon raja nusantara kepada tanah air dan bangsanya. Cinta yang tak butuh alasan, balasan apalagi pujian.
Cinta yang rela berjalan sendiri di jalan sunyi yang penuh luka nan derita, cinta yang rela menanggung segala hinaan dan cacian demi menyelamatkan bangsa.
Cinta yang lahir dari kesederhanaan dan keikhlasan tapi mampu merobohkan takhta-takhta palsu yang terbungkus rapat kemunafikan.
“Di ujung zaman, saat segalanya tampak gelap, jangan cari pahlawan dengan jubah emas dan wajah alim penuh kepalsuan. Carilah Budak Angon yang sedang duduk di bawah pohon tua, meniup seruling, menunggu kau sadar bahwa negeri ini bisa diselamatkan, bukan oleh kekuasaan dan kekuatan, tapi oleh keikhlasan.”
Epilog:
Di ujung malam yang panjang, gelap dan sunyi – ketika bintang-bintang pun enggan bersinar, dengarlah… seruling Budak Angon mulai menggema ke sudut-sudut kota, pelosok desa dan lembah-lembah pegunungan yang lumpuh tak berdaya.
Ia datang bukan untuk menghakimi zaman, tapi untuk mengingatkan:
“Kau masih punya hati dan nurani. Gunakanlah! Sebelum negeri ini beserta isinya benar-benar jadi abu dan debu.”
Dan di sanalah, cinta sejati pada tanah air, menemukan wujudnya yang paling murni dan nyata.
Budak Angon: raja tanpa mahkota dan singgasana, dipilih waktu, ditetapkan zaman, ditakdirkan langit – Harapan terakhir yang akan menyelamatkan sebuah bangsa yang hampir tenggelam kedalam jurang kebinasaan.













https://shorturl.fm/gVHbT
Bagus
Aku
Okee
bagus sangat
What thel men
waw sangat bagus
wowww kerennn
Yes bagus
oke
goodd jobb
thnkyouu
oke
iya bener
iyaaa
ok
bagus
thank you
HEDONN
Ok
Banguss sangatt
ok
Ok
Ok
Thank you
Yes
Omagaaaa
Good
Yes
Okk
Bagus