Budak Angon, Sang Geutih Siliwangi yang Dinanti

Di kala mentari senja merunduk malas di balik gunung-gunung yang dulu pernah menyaksikan kejayaan serta kemegahan kerajaan dan kesultanan, angin pun berbisik lirih membawa duka yang tak kunjung usai.

Nusantara tanah yang dulu gemah ripah loh jinawi, kini terluka. Tanahnya retak oleh keserakahan, langitnya kelabu oleh dusta, dan rakyatnya – rakyat yang dulu hidup dalam damai di bawah naungan keadilan kini terpecah belah, terhimpit antara kehinaan, kelaparan dan keputusasaan yang berkepanjangan.

Namun, di tengah gulita yang mengancam menelan segala cahaya, masih ada yang berbisik dalam diam: Uga Wangsit Siliwangi.

Konon, di saat negeri ini nyaris runtuh, di saat keadilan menjadi barang langka dan kemakmuran hanya mimpi dan bualan janji di bibir para penguasa yang penuh dusta, akan muncul seorang Budak Angon – Gembala sederhana yang tak mengenakan mahkota, namun membawa cahaya dan amanat dari leluhur.

Ia adalah Sang Geutih Siliwangi, keturunan langsung dari Prabu Wangi yang telah ngahyang, bukan dalam darah biru yang gemerlap, melainkan dalam jiwa yang tulus, dalam langkah yang teguh, dan dalam hati yang tak pernah lupa pada amanat leluhur – Amanat Siliwangi.

Ia bukan ksatria berbaju zirah, bukan pangeran berkuda berpelana emas. Ia hanyalah seorang penggembala – mungkin kau temui di lereng gunung, di tepi sawah yang mengering, atau di antara derasnya hujan yang tak kunjung reda.

Namun di matanya, bersinar tekad yang tak pernah padam: menegakkan keadilan, membangkitkan kemakmuran dan mengembalikan ibu Pertiwi pada jiwanya yang sejati.

Uga Wangsit Siliwangi tak berbicara tentang kekuasaan, tapi tentang pengabdian: pengabdian tulus pada rakyat.

Uga Wangsit Siliwangi tak bicara tentang kekayaan, tapi tentang rasa hormat pada tanah dan sesama.

Sang Geutih Siliwangi tak datang untuk menguasai, melainkan untuk menghidupkan kembali – menghidupkan semangat gotong royong, menghidupkan kejujuran dalam kepemimpinan, menghidupkan harapan yang nyaris punah.

Dan ketika ia muncul, bukan dengan gemuruh guntur, tapi dengan langkah tenang yang menggetarkan bumi – maka bumi pun akan menjawab.

Padi akan tumbuh subur di sawah yang lama tandus, sungai akan kembali jernih, dan rakyat akan bersatu dalam satu nafas kepastian: nafas keadilan.

Inilah harapan yang tak pernah mati. Inilah legenda yang menunggu waktunya.

Di saat Nusantara hampir hancur binasa, Sang Geutih Siliwangi akan datang.

Bukan sebagai penyelamat yang turun dengan sayap putih menyilaukan dari langit, tapi sebagai anak bumi yang lahir dari doa penderitaan rakyat yang lelah dan letih menjalani kehidupan, dari isak air mata ibu-ibu yang menangis di dapur yang kosong, dari jeritan petani yang kehilangan tanahnya, dari jeritan anak yatim yang kehilangan tumpuan kehidupan – dari bisikan angin dan desah lirih embun pagi yang rindu pada zaman keemasan dan keadilan.

Dan ketika itu terjadi, maka langit pun akan tersenyum. Karena Prabu Siliwangi tak pernah benar-benar pergi, ia hanya menunggu dalam darah, dalam jiwa, dalam semangat dan dalam setiap langkah pewaris yang dipilihnya.

Sang pewaris yang dipaksa dan terpaksa memikul beban berat amanat di pundak – menjadi Budak Angon demi melaksanakan Amanat Siliwangi mewujudkan keadilan sejati.

“Tereh nincak mangsa jeung waktuna, Geutih Siliwangi nyepeung kawasa mingpin bangsa jeung nagara, Nanjeurkeun Kaadilan Mawa Kamakmuran nu Walatra ka sakabeh Rahayatna!”

Maka, tunggu saja. Di balik kabut zaman yang gelap gulita penuh dusta, Sang Geutih Siliwangi sedang berjalan melaksanakan amanat leluhur – Amanat Siliwangi… menuju fajar baru Nusantara yang dijanjikan (the Golden Age of the Promised Archipelago).

Responses (6)

Leave a Reply to Victoria189 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *