Caesar Valerianus Agustus, The Fallen Emperor of Rome – 1

EPISODE: PASIR YANG MENELAN SINGGASANA

Anak dari Abad yang Goyah

Di kota Etruria yang sunyi, di bawah bayang-bayang Colosseum yang masih berbisik tentang kemegahan masa lalu, lahir seorang anak bernama Publius Licinius Valerianus.

Ia bukan putra raja, bukan pangeran dari garis darah Caesar, melainkan anak dari senator yang tak pernah menapak singgasana.

Namun, dalam matanya yang kelam seperti batu obsidian – tersimpan cahaya ketenangan yang langka: ketenangan orang yang tahu bahwa dunia ini tidak adil, tetapi tetap memilih untuk berdiri.

Muda, ia belajar filsafat di Athena, membaca Plato di bawah pepohonan zaitun, dan memahami bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan adalah pedang tanpa pegangan.

Ia mengabdi sebagai gubernur, sebagai legatus, sebagai penjaga perbatasan. Ia melihat darah mengalir di Rhine, wabah merayap di Antiochia, dan rakyat Roma yang mulai lupa akan nama dewa-dewanya.

Ia menyaksikan abad ketiga bergetar seperti rumah tua yang dimakan rayap. Namun, Valerian tetap tegak. Ia percaya pada dignitas, pada pietas, pada Roma meski Roma sendiri mulai kehilangan jiwanya.

Singgasana di Tengah Badai

Tahun 253 Masehi. Angin bertiup kencang di Roma. Senat, yang biasanya penuh intrik dan racun, kali ini bersepakat dengan suara bulat: Valerianus Agustus diangkat sebagai Kaisar.

Bukan karena ia paling kuat, bukan karena ia paling kaya tetapi karena ia satu-satunya yang tersisa yang masih percaya pada Republik yang sudah mati.

Upacara penobatan kaisar berlangsung di Forum Romulum. Emas berkilauan, toga purpura terbentang seperti darah kering di marmer, dan ratusan tribun bersorak.

Anak-anak melempar bunga, para prajurit mengangkat pedang, dan Valerian dengan wajah yang terlalu tua untuk mimpi berdiri di atas podium, menatap langit.

“Aku tidak datang untuk menjadi dewa,” katanya, suaranya rendah namun menggema, “aku datang untuk menyelamatkan manusia dan… Roma.”

Tapi tak ada yang mendengar. Mereka hanya ingin kaisar yang megah. Mereka ingin kemewahan. Dan Valerian, meski hatinya berat, mengenakan mahkota emas itu bukan sebagai simbol kekuasaan, tapi sebagai beban yang harus dipikul.

Kekaisaran yang Terluka

Pemerintahannya bukan zaman keemasan. Tidak ada monumen baru, tidak ada kemenangan gemilang di barat.

Sebaliknya, Roma terguncang: wabah Antoninus masih menyapu kota, membunuh satu dari tiga orang. Di utara, suku-suku Alamanni menyerbu Gaul.

Di timur, Shapur I, raja muda Persia Sasania, telah membakar kota-kota Romawi, menangkap gubernur, dan menamai dirinya “Raja Para Raja dan Tuhan di Bumi.”

Valerian duduk di istana Palatine, bukan dengan anggur dan tarian, melainkan dengan gulungan perkamen, laporan militer dan mimpi buruk.

Ia menulis surat kepada putranya, Gallienus, yang memerintah di barat:
“Anakku, dunia ini tidak runtuh dalam sehari. Tapi jika kita tidak bertindak, ia akan berakhir dalam satu generasi.”

Ia membagi kekaisaran bukan karena ingin berkuasa sendiri, tapi karena tahu: satu orang tidak bisa menjaga seluruh dunia yang terluka.

Persiapan Perang: Pedang di Tengah Malam

Tahun 259 M. Di kamp militer di Antiochia, 8 legiun Romawi berkumpul. Prajurit-prajurit dengan wajah letih, baju besi yang sudah berkarat, tapi mata yang masih menyala.

Valerian kini berusia lebih dari 70 tahun – berdiri di depan mereka, tanpa mahkota, hanya dengan jubah sederhana dan pedang leluhurnya.

“Kita bukan datang untuk menaklukkan,” katanya, “kita datang untuk mempertahankan. Bukan tanah, bukan emas tapi martabat.”

Tentara diam. Lalu, satu per satu, mereka mengetuk pedang ke perisai. Suara itu menggema seperti guntur di lembah, bukan sorakan tapi janji.

Di malam hari, Valerian berdoa di kuil Jupiter. Ia tidak meminta kemenangan. Ia meminta keberanian. “Biarkan aku mati berdiri, jika harus mati. Tapi jangan biarkan aku menyerah.”

Keberangkatan: Pawai Menuju Takdir

Fajar menyingsing di Edessa. Pasukan Romawi bergerak dalam formasi sempurna, panji-panji merah berkibar, elang perunggu menghadap timur. Langit berwarna abu-abu, seperti kain kafan yang belum dijahit.

Valerian menunggang kuda putih, baju besinya berkilat tapi tubuhnya membungkuk sedikit bukan karena lelah tapi karena beban.

Ia menoleh ke belakang: Roma yang ditinggalkan, istana yang kosong, dan bayangan masa lalu yang mengikutinya seperti hantu.

Seorang tentara muda mendekat, suaranya gemetar, “Apakah kita akan menang, Caesar?”

Valerian menatapnya, lalu tersenyum, senyum yang jarang dilihat siapa pun.
“Kemenangan bukan selalu diukur dengan pedang. Kadang, kemenangan adalah tetap berdiri saat dunia memintamu berlutut.”

Pasukan bergerak. Langkah mereka mengguncang tanah. Tak seorang pun tahu, ini adalah pawai terakhir sang Kaisar.

Pertempuran di Padang Pasir: Akhir dari Keangkuhan

Tidak ada pertempuran besar yang dicatat dalam buku sejarah. Tidak ada clash of empires yang epik seperti Cannae atau Teutoburg. Yang terjadi adalah perang tipu daya.

Shapur I, dengan pasukan kavaleri berat dan taktik gerilya, mengisolasi pasukan Valerian di dekat Edessa. Hujan deras membasahi tanah, membuat medan perang menjadi lumpur.

Tentara Romawi, yang terbiasa bertempur di dataran terbuka, terjebak.

Valerian mencoba membangun benteng, mengatur strategi, tapi pasukannya kelaparan, sakit, dan kehilangan semangat.

Shapur mengirim utusan: “Berundinglah. Aku tidak ingin membunuhmu. Aku ingin membuatmu terkenang.”

Valerian ragu. Tapi demi menyelamatkan tentaranya, ia setuju.

Keputusasaan di Bawah Matahari Persia

Di padang pasir yang panas, Valerian datang sendirian, hanya dengan pengawal kecil. Ia mengenakan jubah ungu, pedang masih di pinggang, wajahnya tenang seperti patung.

Shapur muncul di atas kuda, dikelilingi oleh pasukan berbaju zirah emas. Ia turun, mendekat lalu tiba-tiba, pasukan Persia menyerbu. Valerian diseret. Pedangnya direbut. Mahkotanya diinjak.

“Kau pikir Roma abadi?” tanya Shapur, suaranya seperti angin gurun.
“Lihatlah. Bahkan kaisarmu bisa ku buat berlutut.”

Valerian tidak berteriak. Ia tidak memohon. Ia hanya menatap langit, seolah mencari jawaban dari Jupiter, dari Roma, dari dirinya sendiri.

Dan ketika ia dipaksa berlutut untuk menjadi pijakan kaki Shapur saat naik kuda, air mata jatuh – bukan karena rasa malu, tapi karena ia tahu: ia telah gagal.

Bukan karena ia lemah, tapi karena zamannya terlalu gelap untuk diselamatkan oleh satu orang.

Ia dibawa ke Ctesiphon, ibu kota Persia, dalam rantai besi, diperlihatkan seperti binatang aneh di pasar. Anak-anak melemparinya dengan tanah. Raja Persia tertawa. Tapi Valerian tetap diam. Dalam hatinya, ia masih Kaisar.

Epilog: Bayang-Bayang yang Tidak Pernah Pudar

Tidak ada yang tahu bagaimana Valerian mati. Beberapa mengatakan ia dibunuh dalam tahanan. Yang lain percaya ia mati karena sakit, dalam penjara batu di Susa. Tapi satu hal yang pasti: ia tidak pernah kembali ke Roma.

Gallienus, putranya, tidak bisa menyelamatkannya. Roma tidak bisa membalas dendam. Dan sejarah mencatat Valerian bukan sebagai pahlawan, bukan sebagai tiran – tapi sebagai satu-satunya Kaisar Romawi yang ditangkap hidup-hidup oleh musuh.

Namun, di antara debu Mesopotamia, di bawah relief batu di Naqsh-e Rustam, gambar Valerian masih ada -kecil, membungkuk, tapi hadir.

Dan dalam bayang-bayang itu, tersembunyi keberanian yang tak terukur: keberanian untuk memimpin di tengah kehancuran, untuk bertarung di tengah ketidakberdayaan, dan untuk tetap menjadi manusia di tengah penghinaan.

Karena kepahlawanan bukan selalu tentang menang.
Kadang, kepahlawanan adalah tentang tidak menyerah – meski dunia telah menyerah padamu.

“Tidak ada yang lebih tragis daripada seorang pria yang mencoba menyelamatkan dunia yang sudah memilih untuk tenggelam.”

Responses (21)

Leave a Reply to RIZAL RIZKI RAMDANI Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *