Cinta yang Hilang Di Puing-Puing Stalingrad

Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com


CINTA YANG HILANG DI PUING-PUING STALINGRAD 

Desember 1942. Kota Stalingrad adalah neraka beku. Di antara puing-puing gedung apartemen yang hancur di distrik Krasnooktyabrsky, Sersan Erich Vogel dari Divisi Infanteri ke-71 Wehrmacht bertugas menjaga sekelompok tawanan perang Soviet yang baru ditangkap.

Bau bubuk mesiu, besi hangus, dan kematian menggantung di udara yang menusuk tulang.

Di antara wajah-wajah yang lesu dan ketakutan, matanya terpaku pada seorang wanita.

Rambutnya pirang kusut terikat sembarangan, wajahnya coreng-moreng jelaga dan darah, tapi matanya… mata hijau seperti hutan musim panas di kampung halamannya… memancarkan keteguhan yang aneh.

Seragam perawatnya yang compang-camping masih bisa dikenali. Namanya, Erich tahu dari dokumen yang terburu-buru diperiksa, adalah Anya Ivanova.

Awalnya, interaksi mereka dingin. Erich, meski lelah dan muak dengan perang, tetaplah penjaga. Anya, meski tawanan, adalah singa yang terluka, matanya menyala dengan kebencian setiap kali melihat lambang swastika.

Namun, nasib memaksa mereka bertemu berulang kali. Sebuah serangan artileri Soviet menghantam pos mereka, melukai beberapa tawanan dan seorang prajurit Jerman muda.

Dengan insting yang lebih kuat dari kebencian, Anya segera berlutut di samping prajurit yang mengerang kesakitan, merobek kain untuk membalut luka terbukanya, tangannya bergerak cepat dan terampil meski tanpa alat yang memadai.

Erich, yang menyaksikan adegan itu, terpana. Di tengah kekacauan dan kebencian, masih ada sisa-sisa kemanusiaan.

Dia diam-diam mulai menyisihkan sedikit roti keras atau kaldu hangat yang langka dari jatah ransumnya, menyelipkannya ke Anya saat tak ada yang melihat.

Awalnya, Anya menolak dengan keras, matanya menyala. Tapi kelaparan dan kebutuhan untuk tetap kuat demi merawat sesama tawanan yang sakit akhirnya mengalahkan kebanggaannya.

Sebuah anggukan singkat, hampir tak terlihat, menjadi tanda terima kasih pertama.

Mereka mulai berbicara, pelan-pelan, di ruang bawah tanah yang gelap yang berfungsi sebagai penjara sementara.

Erich, yang sebelum perang adalah guru musik, berbicara tentang Bach dan Beethoven yang dicintainya.

Anya, dengan suara serak namun lembut, bercerita tentang keinginannya menjadi dokter, tentang adik kecilnya di Leningrad yang nasibnya tak dia ketahui, tentang balada dan nyanyian rakyat Rusia yang selalu dinyanyikan ibunya.

Bahasa menjadi penghalang, tapi terkadang Anya menggunakan bahasa Jerman dasar atau Erich mencoba kata-kata Rusia yang kaku.

Lebih sering, mereka berkomunikasi dengan tatapan dan keheningan yang dipahami.

Suatu malam, saat waktu jaga Erich, Anya sedang merawat seorang tawanan tua yang demam tinggi.

Cahaya lilin menerpa wajahnya yang lelah namun penuh perhatian. Erich tidak bisa menahan diri. “Warum?” tanyanya pelan dalam bahasa Jerman, “Mengapa kamu menolong kami juga?”

Anya menatapnya lama, lalu menjawab dalam bahasa Rusia yang patah-patah, diterjemahkan oleh naluri Erich: “Karena sakit… tidak punya bendera. Manusia… tetaplah manusia.”

Sejak saat itu, sesuatu berubah. Kebencian mencair menjadi rasa pengertian yang dalam, lalu kelembutan yang tak terucapkan.

Di tengah kengerian Stalingrad, dentuman artileri yang tak henti, jeritan yang memilukan, dingin yang menggigit tulang, mereka menemukan oasis kedamaian dalam pandangan satu sama lain.

Sentuhan tangan yang sengaja bersinggungan saat Erich menyelipkan selimut tambahan, senyum kecil yang tersembunyi, bisikan nama di kegelapan: “Erich,” “Anya.” Cinta mereka tumbuh seperti bunga langka di tengah padang ranjau… indah, rapuh, dan dilarang oleh segala aturan perang dan kebencian bangsa.

Mereka tahu ini tak mungkin bertahan. Erich berbicara tentang membawanya pergi jika kesempatan muncul, tentang menyembunyikannya.

Anya menggeleng, matanya sedih namun tegas. “Tempatku… di sini. Dengan rakyatku. Dan kamu… harus pulang.” Mereka berdua hidup dalam ketakutan akan perpisahan yang tak terhindarkan.

Akhir Januari 1943. Operasi Uranus Soviet telah mengurung Angkatan Darat ke-6 Jerman. Situasi menjadi semakin putus asa. Serangan artileri Soviet semakin gencar dan akurat, menghantam sisa-sisa kantong perlawanan Jerman.

Erich, yang unitnya tercerai-berai, berlindung di sebuah ruang bawah tanah yang penuh dengan prajurit terluka dan beberapa tawanan, termasuk Anya, yang tak henti merawat siapa pun yang membutuhkan, Jerman atau Rusia.

Suatu pagi, serangan artileri dahsyat menghantam area tersebut. Bumi berguncang, debu dan serpihan beton berhamburan.

Sebuah tembakan yang sangat keras dan dekat mengguncang fondasi bunker. Ada teriakan, lalu keheningan yang mencekam, pecah oleh rintihan yang menyayat hati.

Erich, yang terlempar ke sudut, bangun dengan kepala berdengung. Matanya segera mencari Anya. Dia melihatnya… terkubur sebagian di bawah reruntuhan langit-langit yang ambrol, tak jauh dari tempat dia baru saja membalut luka seorang prajurit muda.

Dengan jeritan putus asa, Erich merangkak ke arahnya, mendorong puing-puing dengan tangan yang berdarah-darah.

Dia meraihnya. Anya masih bernapas, pendek-pendek, darah mengalir deras dari pelipisnya dan dadanya yang tertusuk besi. Matanya setengah terbuka, melihat Erich. Dia mencoba tersenyum, lemah. Tangannya yang dingin meraih tangan Erich.

“Erich…” bisiknya, hampir tak terdengar.

“Nein! Nein! Anya! Tahan! Aku akan membawamu keluar!” teriak Erich, air matanya bercampur debu di pipinya. Tapi dia tahu. Lukanya terlalu parah. Tidak ada dokter, tidak ada obat. Hanya ada kematian yang menunggu di bunker yang runtuh itu.

Anya menggenggam tangannya sedikit lebih kuat. “Spasibo…” (Terima kasih).

Matanya memandang Erich dengan kelembutan yang tak terhingga, cinta yang melampaui kebangsaan dan perang. “Ya lyublyu tebya…” (Aku mencintaimu). Napasnya semakin pendek.

Erich memeluknya erat-erat, menempelkan wajahnya di rambut Anya yang kusut, menangis tersedu-sedu. Dia merasakan napas terakhir Anya menghanguskan kulit lehernya, lalu tubuh di pelukannya menjadi lemas.

Perawat Soviet yang pemberani, wanita yang dicintainya dengan penuh gairah dan duka, telah pergi.

Tewas bukan oleh peluru musuhnya, tetapi oleh serangan artileri dari pasukannya sendiri yang berusaha membebaskan kota itu.

Erich terduduk, hancur, memeluk jasad Anya di tengah reruntuhan Stalingrad. Ironi yang kejam terasa lebih pedih dari dinginnya salju Rusia.

Cinta mereka, yang lahir di neraka perang, dipupus oleh mesin perang yang sama, oleh peluru yang ditembakkan dari tanah yang diperjuangkan Anya dengan segenap jiwa.

Dia tidak mati sebagai tawanan, tapi sebagai korban setia dari amukan perang yang tak pandang bulu.

Di sakunya yang compang-camping, Erich menemukan satu-satunya kenangan dari Anya: sebuah medali kecil “Perawat Terhormat” USSR yang selalu dia sematkan di seragamnya yang compang-camping.

Dia menggenggamnya erat, sementara di luar, dentuman artileri terus bergema, menandai berakhirnya kisah cinta mereka yang singkat dan tragis di medan perang Stalingrad.

Responses (33)

Leave a Reply to Keysha dwi permatasari renmeuw Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *