EPISODE: TIGA BINTANG KECIL DI BAWAH NAUNGAN POHON CINTA
Lima tahun setelah pernikahan mereka, rumah kecil di Bandung Timur telah berubah menjadi sebuah hunian yang penuh suara tawa, langkah kecil yang berlarian dan aroma kuat colenak peuyeum Tagog Apu yang terkenal cakial, pulen dan leugit – plus gula merah cair yang selalu hangat di pagi hari.
Rahadian dan Andini bukan lagi sekadar pasangan muda yang bermimpi – mereka adalah pasangan suami istri yang mapan, bukan karena harta berlimpah, tapi karena ketenangan hati yang mereka bangun bersama.
Rahadian, kini Direktur Infrastruktur Berkelanjutan di sebuah perusahaan teknologi hijau, sering bepergian ke luar kota dan provinsi – Sumatera, Kalimantan, bahkan NTT untuk membangun jembatan ramah lingkungan dan sistem air bersih bagi desa-desa terpencil.
Ketika proyek di dalam kota, ia selalu pulang sebelum matahari terbenam. “Aku tidak ingin melewatkan waktu anak-anak menanyakan ‘Papa, kenapa langit warna oranye?’,” katanya sambil menggendong putra tertuanya, Arman, yang baru berusia dua tahun dan sudah punya kebiasaan mengutip ayat-ayat Al-Qur’an dari buku cerita ibunya.
Andini, setelah bertahun-tahun bekerja sebagai konsultan ekonomi syariah, mendirikan “Rumah Ekonomi Ibu” sebuah lembaga nirlaba yang melatih para ibu rumah tangga di kampung-kampung untuk mengelola usaha mikro berbasis digital.
Ia dikenal sebagai “Bu Dini yang bisa membuat pengusaha kecil gula aren di Sindangbarang dan Cilimus Kuningan jadi pengusaha e-commerce”. Pendapatannya cukup, tapi yang lebih berharga adalah senyum-senyum tulus para peserta pelatihannya yang berkata,
“Dulu saya cuma bisa masak, sekarang saya bisa bayar sekolah anak dengan uang hasil jualan kue online.”
Mereka punya tiga bintang kecil, tiga cahaya yang menyinari setiap sudut rumah mereka.
Arman, anak pertama, lahir pada musim hujan 2027. Anak yang tenang, suka membaca buku ilmu pengetahuan, dan punya kebiasaan aneh: mengumpulkan daun-daun kering dan menyimpannya di dalam toples kaca, lalu memberinya nama. “Ini daun mangga dari taman nenek,” katanya suatu sore, “Dia punya cerita, Mama.”
Zahra, anak kedua, lahir di bulan Ramadhan tahun 2029. Gadis kecil yang berani, penuh semangat, dan suka menyanyi sambil menari di atas meja makan.
Ia ingin jadi dokter hewan, tapi bukan sembarang dokter, ia ingin membantu kucing-kucing jalanan di Bandung agar tidak kelaparan.
Setiap Sabtu, ia dan ayahnya pergi ke shelter hewan, membawa makanan dan mainan. Rahadian selalu bilang, “Zahra itu jiwa besar dalam tubuh kecil. Ia punya hati yang lebih luas daripada kota ini.”
Dan Raya, anak ketiga, lahir saat hujan deras di malam Jumat, 2031. Bayi yang tenang, selalu tersenyum meski belum bisa bicara. Ia punya mata seperti ibunya, satu-satunya yang bisa membuat Rahadian langsung luluh hanya dengan pandangan.
Raya suka menggenggam jari ibunya saat Andini menulis laporan kerja, dan sering kali tertidur di pangkuan ibunya, sambil memegang buku ekonomi yang dibuka di halaman tentang “Kesejahteraan Keluarga”.
Rumah mereka bukanlah rumah mewah. Tapi setiap ruang penuh makna. Di dapur, ada papan tulis kecil tempat Andini menulis daftar belanja, tapi juga catatan harian untuk anak-anak:
“Arman, kamu hebat hari ini karena tidak marah saat mainanmu rusak. – Zahra, terima kasih sudah berbagi camilan dengan kucing Lala – Raya, kamu sudah belajar mengucap Papa… aku menangis sampai tidur.”
Di ruang tamu, tergantung lukisan anak-anak yang dibingkai oleh Rahadian – lukisan keluarga mereka: lima orang, satu pohon besar di tengah, dan matahari yang bersinar di atasnya. Di bawahnya, tertulis: “Keluarga kami bukan tentang jumlah orang. Tapi tentang cinta yang bertambah tiap hari.”
Mereka tetap saling mendukung dalam segala bentuk. Ketika Rahadian harus bepergian selama seminggu ke Sulawesi, Andini tidak pernah memprotes. Ia hanya menyiapkan tasnya dengan cemilan favorit Rahadian, foto anak-anak yang sedang tidur, dan secarik kertas:
“Jangan lupa minum air. Dan ingat… kami semua menunggumu pulang. Bahkan Raya sudah belajar mengatakan Papa tanpa diajak bicara. Dia tahu kamu akan pulang.”
Saat Andini stres karena proyeknya ditolak oleh investor besar, Rahadian tidak memberi nasihat. Ia hanya mengajaknya jalan-jalan ke Lembang di malam hari, duduk diam, menatap bintang, lalu berkata:
“Kau tahu, Dini? Aku dulu pikir infrastruktur itu beton dan baja. Ternyata… yang paling kuat itu adalah cinta yang kau bangun di rumah ini. Kau bukan cuma ibu mereka. Kau adalah fondasi yang tak terlihat… tapi membuat semua orang di sekitarmu merasa aman.”
Dan Andini hanya berbisik, “Kalau begitu, kau adalah angin yang membawaku terbang, Rah.”
Anak-anak mereka tumbuh dalam suasana yang penuh cinta, tapi juga disiplin. Mereka diajarkan bahwa uang bukan tujuan, tapi alat.
Bahwa kesuksesan bukan soal mobil mewah atau rumah besar, tapi soal keberanian untuk peduli, berani gagal, dan berani bangkit bersama.
Suatu sore ketika Arman bertanya kepada ibunya, “Mama, kenapa Papa dan Mama nggak pernah ribut?”
Andini tersenyum, memeluknya erat, “Karena kita belajar bahwa cinta itu bukan tentang menang. Tapi tentang memilih untuk tetap berdiri bersama, meski badai datang.”
Arman mengangguk serius, lalu berkata, “Aku mau jadi seperti Papa. Tapi juga seperti Mama. Aku mau bangun rumah… yang penuh cinta, bukan uang.”
Di luar jendela, Zahra dan Raya sedang menanam bibit pohon mangga – merekalah yang menamainya Pohon Cinta, karena mereka percaya, jika mereka merawatnya dengan baik, pohon itu akan berbuah selamanya.
Dan di atas pohon itu, burung-burung kecil bersarang. Seperti cinta mereka, sederhana, tapi abadi.
Seperti keluarga mereka, tidak sempurna, tapi utuh. Seperti hidup mereka, mapan bukan karena kekayaan, tapi karena kebahagiaan yang dibangun setiap hari, bersama, dengan sepenuh hati.
Epilog: Sebuah Catatan di Buku Harian Andini
“Hari ini, Arman membacakan puisi untukku di depan kelasnya. Ia menulis: ‘Ibuku menghitung uang, tapi yang ia simpan adalah doa. Ayahku membangun jembatan, tapi yang ia rangkai adalah harapan.’ Aku menangis di belakang pintu kelas. Ketiganya berlari kepadaku, mencium pipiku. Zahra berkata, ‘Mama, kamu cantik kayak bintang.’ Raya hanya memelukku, dan menggenggam jari kuat seperti ayahnya. Dan Arman, si pemikir kecil itu, berbisik: ‘Kami tidak butuh dunia yang sempurna, Mama. Kami hanya butuh kamu dan Papa… yang selalu memilih satu sama lain.’ Ya, sayangku. Kita tidak hanya menjalani hidup. Kita membangun surga dengan tangan, hati, dan tiga bintang kecil yang menyinari setiap malam.”
Andini Prameswari, Ibu, Ekonom dan Penjaga Cinta
Cinta tidak meminta izin untuk melukai dan menyakiti mu. Ia datang begitu saja. Dan ketika cinta pergi… Kau baru tahu: Cinta tidak pernah benar-benar pergi – hanya bermetamorfosa menjadi keheningan yang kuat, dalam, gelap, sunyi dan… sepi.











https://shorturl.fm/n0Dib
https://shorturl.fm/YsCEs