Ibnu Battuta, Di Bawah Bayang-Bayang Menara yang Runtuh – 4

Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com


EPISODE: DI BAWAH BAYANG MENARA YANG RUNTUH 

Perjalanan Ibnu Battuta dari Hijaz ke Baghdad melalui Damaskus, Aleppo, dan Mosul (1326 – 1327 M)

Damaskus, Suriah – Musim Gugur 1326 M/Dzulhijjah 726 H

Langit Damaskus sore itu berwarna tembaga, seolah-olah Tuhan menuangkan cahaya dari emas yang meleleh. Di bawahnya, Masjid Umar menjulang dengan kubahnya yang biru, seperti permata yang tertanam di jantung kota.

Di pelataran masjid, seorang pemuda berjubah cokelat, wajahnya terbakar matahari gurun, berdiri memandang sungai Barada yang mengalir tenang di antara taman-taman zaitun.

Ia adalah Muhammad Ibnu Battuta, musafir dari Fez, yang baru saja menyelesaikan haji pertamanya di Mekkah. Kini, ia berdiri di Damaskus, kota yang disebut Nabi sebagai surga dunia.

“Wahai Ibnu Battuta,” kata seorang tua berjanggut putih yang tiba-tiba muncul di sampingnya, “kau datang dari jauh, tapi matamu mencari sesuatu yang lebih jauh dari jarak.”

Ibnu Battuta menoleh. “Aku mencari ilmu, wahai Syekh. Dan mungkin… aku mencari jawaban atas rindu yang tak kunjung usai.”

Tua itu tersenyum. “Aku Syekh Jamal al-Din al-Halabi, guru di Madrasah al-Zahiriyya. Mari, kuantar kau ke tempat di mana hati bisa berbicara.”

Damaskus: Kota Cinta dan Kehilangan

Selama tiga bulan, Ibnu Battuta tinggal di Damaskus, belajar di masjid-masjid, menghadiri majelis ilmu, dan menulis catatan perjalanan di atas gulungan kertas tipis.

Ia tinggal di rumah sederhana milik seorang saudagar, Abu Yusuf, yang memiliki dua anak perempuan – Layla dan Nur.

Layla, yang berusia delapan belas tahun, suka membaca syair Rumi dan sering duduk di teras sambil memukul rebana. Suaranya lembut, seperti angin yang menyentuh daun palem.

Suatu malam, saat bulan purnama menggantung di atas menara, Ibnu Battuta duduk bersama mereka, mendengarkan Layla menyanyikan syair:

“Jika engkau pergi, jangan katakan selamat tinggal. Katakan: aku akan kembali dalam doa, Dalam rindu, dalam nama-Nya.”

Ibnu Battuta menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, hatinya bergetar bukan karena ilmu, tapi karena cinta yang diam-diam tumbuh.

Namun, ia tahu: ia bukan lelaki yang ditakdirkan untuk tinggal. Ia adalah pengembara. Dan pengembara tak boleh jatuh cinta pada tempat.

“Kau mencintainya, ya?” tanya Abu Yusuf suatu hari, saat mereka minum teh di bawah pohon ara.

Ibnu Battuta mengangguk pelan. “Tapi cintaku pada perjalanan lebih besar.”

Abu Yusuf menepuk bahunya. “Maka pergilah. Tapi jangan lupa: cinta yang tak diucapkan tetaplah cinta. Dan mungkin, suatu hari, kau akan menulis tentangnya.”

Jalan Menuju Aleppo: Gurun dan Badai

Pada musim dingin 1326, Ibnu Battuta melanjutkan perjalanan ke Aleppo, kota benteng di utara Suriah. Ia bergabung dengan karavan pedagang sutra yang dipimpin oleh Zayd al-Kurdi, seorang pria tegap dengan mata tajam dan suara seperti guruh.

“Jalan ini berbahaya,” kata Zayd. “Di antara sini dan Mosul, ada jurang yang menelan orang dalam semalam. Dan angin bisa membekukan darahmu.”

Tapi Ibnu Battuta tak mundur. Ia telah belajar: keberanian bukan ketiadaan rasa takut, tapi keputusan untuk melangkah meski jantung berdebar.

Di tengah perjalanan, badai pasir datang tiba-tiba. Angin mengamuk, unta berteriak, dan karavan tersesat selama tiga hari. Mereka kehabisan air. Beberapa orang mulai delirium, berbicara pada hantu yang tak terlihat.

Di malam keempat, saat semua hampir putus asa, Ibnu Battuta memimpin shalat sunnah di atas pasir, sambil membaca doa Nabi Yunus:

“Lā ilāha illā anta, subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn…”

Esok paginya, kabut surut. Dan di kejauhan, terlihat menara Aleppo yang kokoh, seperti penjaga yang tak pernah tidur.

Aleppo dan Mosul: Kota-Kota yang Terluka

Di Aleppo, Ibnu Battuta terpesona oleh Menara Masjid Agung yang dihiasi keramik warna-warni. Ia bertemu Syekh Badr al-Din, seorang sufi yang hidup di gua di lereng gunung, yang berkata:

“Dunia ini seperti kota yang terbakar. Tugas kita bukan menyelamatkan rumah, tapi menyelamatkan jiwa yang di dalamnya.”

Dari Aleppo, ia menuju Mosul (1327 M), kota tua di tepi Sungai Tigris. Di sana, ia menyaksikan reruntuhan istana-istana zaman Abbasiyah, yang hancur oleh invasi Mongol di bawah Hulagu Khan (1258 M). Kota itu masih berdarah, tapi tak menyerah.

Di pasar Mosul, ia bertemu Fatima, janda seorang ulama yang tewas dalam serangan Mongol. Ia membuka toko kecil menjual kopi dan buku kuno.

“Kau ingin tahu tentang Baghdad?” tanyanya. “Aku bisa ceritakan. Aku masih melihat api membakar perpustakaan Bayt al-Hikmah… tinta mengalir ke sungai seperti darah.”

Ibnu Battuta terdiam. “Lalu mengapa kau tetap tinggal?”

“Karena jika kita pergi, mereka menang,” katanya. “Aku tinggal untuk mengingat. Dan untuk berharap.”

Baghdad: Kota yang Bangkit dari Abu

Pada awal 1327 M, Ibnu Battuta tiba di Baghdad, ibu kota dunia Islam yang pernah runtuh, kini perlahan bangkit.

Meski tidak lagi megah seperti masa Harun al-Rashid, Baghdad tetap menjadi pusat ilmu. Ia mengunjungi makam Imam Abu Hanifah, belajar di majelis Syekh Siraj al-Din al-Baghdadi, dan menyaksikan Sultan Mongol Abu Sa’id Bahadur Khan – yang telah memeluk Islam dan mendukung kebangkitan ulama.

Di tepi Tigris, ia duduk bersama seorang penyair tua bernama Abu al-Faraj yang berkata:

“Kota bisa hancur, wahai musafir. Tapi kata-kata tidak pernah mati. Seperti engkau – kau bukan hanya pelancong. Kau adalah pembawa cerita.”

Ibnu Battuta menatap sungai. Ia memikirkan Layla di Damaskus, Fatima di Mosul, Umm Zayd yang tewas di gurun. Mereka semua telah menyentuh jiwanya.

Dan ia tahu: perjalanannya bukan hanya tentang melihat dunia.

Tapi tentang membawa dunia pulang dalam hati.

Epilog

Di bawah langit yang sama, di antara reruntuhan dan taman, di tengah cinta yang tak sempat diucapkan dan bahaya yang tak pernah dihindari, Ibnu Battuta terus melangkah.

Karena baginya, perjalanan adalah bentuk ibadah, rindu adalah doa yang tak terucap. dan keberanian adalah ketika kau tetap berjalan, meski dunia berkata: pulanglah.

“Aku bukan mencari tempat. Aku mencari makna. Dan makna itu kudapatkan di mata seorang perempuan, di doa di tengah badai, di senyum di atas reruntuhan.

Ibnu Battuta, tepi sungai Tigris, 1327 M

Catatan Historis

Tahun: 1326–1327 M (726–727 H). Rute: Mekkah→Damaskus→Aleppo→Mosul→Baghdad.

Konteks sejarah

Baghdad sedang dalam masa pemulihan setelah penyerangan Mongol (1258).

Dinasti Ilkhanate Mongol (keturunan Hulagu) telah memeluk Islam dan mendukung kebangkitan ulama.

Suriah dan Irak dikuasai oleh Dinasti Mamluk (Damaskus) dan penguasa lokal di bawah naungan Mongol (Baghdad).

Rihlah Ibn Battuta, Bab Perjalanan ke Syam, Irak, dan Persia.

Note:

“Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim…”

Ini adalah doa Nabi Yunus (Jonah) ketika berada dalam perut ikan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Surah Al-Anbiya’ ayat 87:

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya:
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru (di dalam kegelapan) dengan berkata: ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)

Doa ini dikenal sebagai Doa Nabi Yunus dan sangat dianjurkan untuk dibaca saat dalam kesulitan atau kesusahan, karena Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Doa Dzun Nun (Yunus) ketika ia berada dalam perut ikan: ‘Lā ilāha illā anta, subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn’, sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah akan mengabulkannya.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani)

Responses (6)

Leave a Reply to Gavin3852 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *