Ibnu Batutta, Jejak Langkah Pertama Sang Pengembara di Bawah Langit Sahara – 1

Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com


EPISODE: DI BAWAH LANGIT SAHARA, JEJAK PERTAMA SANG PENGEMBARA

Fez, Maroko – 17 Rajab, 725 H / April 1325 M

Langit Fez pagi itu berwarna keemasan, seperti emas yang dilelehkan di atas atap masjid Qarawiyyin. Angin musim semi membawa aroma mint dan tanah basah dari halaman rumah kecil di kawasan Al-Andalus.

Di dalam rumah itu, Muhammad Ibnu Battuta, pemuda berusia dua puluh satu tahun, duduk bersila di atas tikar wol, menatap kitab-kitab fiqih yang telah ia pelajari sejak usia belasan.

Matanya tidak membaca tetapi ia sedang mendengarkan degup jantungnya sendiri.

“Ini saatnya,” bisiknya.

Di luar, ibunya berdiri di ambang pintu, tangannya memeluk selembar kain putih, selendang ayahnya yang telah wafat. Ia tahu apa yang akan terjadi.

Anaknya telah lama bermimpi pergi. Bukan hanya haji ke Mekkah, tapi “rihla”,  perjalanan untuk mencari ilmu, melihat dunia, dan mengenal Allah melalui ciptaan-Nya.

“Ibnu,” kata sang ibu, suaranya parau. “Apakah kau benar-benar harus pergi? Dunia itu kejam. Gurun bisa menelan manusia dalam semalam. Penjahat mengintai di setiap tikungan jalan.”

Ibnu Battuta berdiri, memeluknya erat. “Ibu, aku bukan pergi untuk bermain-main. Aku pergi karena panggilan hati. Aku ingin melihat bagaimana umat Islam hidup di ujung bumi. Aku ingin belajar dari ulama di Kairo, dari guru di Damaskus, dari sufi di Hijaz. Aku ingin tahu, apakah cinta kepada Allah sama di mana pun?”

Ibunya menangis, tapi tidak menghalangi. Ia tahu anaknya bukan lelaki biasa. Sejak kecil, Ibnu Battuta selalu menatap bintang dengan rasa ingin tahu yang tak terpuaskan.

“Bawa ini,” katanya, menyerahkan selendang ayahnya. “Agar kau selalu merasa dilindungi.”

Pagi itu juga, Ibnu Battuta keluar dari rumah dengan tas kecil berisi Al-Qur’an, kitab al-Hidayah, roti kering, dan air dalam kantong kulit.

Ia bergabung dengan karavan pedagang yang menuju Tlemcen (Aljazair), titik pertama dalam perjalanannya ke Mesir.

Di gerbang kota, warga berkumpul, beberapa mengucapkan doa, beberapa hanya terdiam. Mereka tahu tidak semua yang pergi ke Sahara kembali.

Lintasan Gurun Sahara – Musim Panas 1325–Awal 1326 M

Karavan bergerak lambat, seperti nafas yang tertahan. Di depan, unta-unta berjalan dengan kepala tertunduk, kakinya terbenam di pasir yang panas seperti bara.

Di belakang, para pedagang saling berbisik, waspada terhadap serangan suku Badui atau badai pasir yang bisa muncul tanpa peringatan.

Ibnu Battuta, yang belum pernah melihat gurun sebelumnya, merasa seperti berada di dunia lain. Langit biru tanpa awan, bumi kuning tak berujung, dan sunyi yang menggema.

Malam hari, bintang-bintang tumpah seperti debu emas. Ia sering duduk sendiri, menulis di dalam hati, mencatat setiap pemandangan, setiap percakapan.

Suatu malam, saat api unggun menyala redup, seorang pedagang tua bernama Abdul Karim, yang telah tujuh kali menyeberangi Sahara, duduk di sampingnya.

“Kau takut?” tanya sang pedagang.

Ibnu Battuta mengangguk. “Aku takut mati tanpa sempat melihat Mekkah. Aku takut ibuku meninggal tanpa sempat aku memeluknya lagi.”

Abdul Karim tertawa pelan. “Ketakutan adalah teman sejati pengembara. Tapi keberanian bukan saat kau tak merasa takut, keberanian adalah saat kau tetap melangkah meski jantungmu bergetar.”

Di tengah perjalanan, mereka melewati Wadai, sebuah oase kecil di perbatasan Chad, tempat yang disebut Ibnu Battuta dalam catatannya sebagai “tempat air datang dari rahmat langit, dan manusia hidup dengan sedikit, tapi bersyukur banyak.”

Di sana, mereka disambut oleh kepala suku yang ramah, Sheikh Musa, yang memberi mereka kurma, susu onta, dan tempat berteduh. Malam itu, Ibnu Battuta mendengar nyanyian sufi dari seorang penyair buta yang menyanyikan syair Rumi:

“Jalanmu panjang, wahai musafir, Tapi setiap langkah adalah doa. Engkau bukan mencari tempat, Tapi mencari dirimu yang sesungguhnya.”

Ibnu Battuta menutup mata. Untuk pertama kalinya, rasa takutnya berubah menjadi ketenangan.

Menuju Mesir – Awal 1326 M

Setelah hampir delapan bulan menyeberangi gurun, karavan tiba di Cairo, kota yang menjulang di tepi Sungai Nil.

Menara-menara Masjid Ibn Tulun menyambutnya seperti penjaga abadi. Sungai Nil mengalir tenang, dihiasi perahu nelayan dan sawah yang hijau.

Ibnu Battuta berdiri di tepi sungai, menatap air yang berkilauan. Ia merasa seperti lahir kembali. Dari Fez yang kecil, kini ia berdiri di jantung dunia Islam, kota yang disebut para ulama sebagai “Umm al-Dunya” (Ibu Dunia).

Di sana, ia bertemu Syekh Abu al-Fadl, seorang ulama besar di Al-Azhar, yang mendengar kisah perjalanannya dan berkata,

“Engkau bukan hanya haji, wahai Ibnu Battuta. Engkau adalah muhajir ilmu, orang yang berhijrah demi ilmu. Dan ilmu itu tidak hanya di kitab, tapi di jalan, di pasir, di hati orang-orang yang kau temui.”

Ibnu Battuta tersenyum. Ia mengeluarkan selendang ayahnya dari tasnya, menciumnya. Ia tahu, ibunya mungkin tidak akan pernah membaca catatannya. Tapi ia ingin, suatu hari nanti, seseorang membaca kisah ini dan tahu:

Bahwa seorang pemuda dari Fez berangkat sendirian, dengan hanya iman dan rasa rindu, dan berjalan melintasi gurun terbesar di dunia, bukan untuk kekayaan, bukan untuk kekuasaan, tapi untuk mencari makna.

Dan di sanalah, di bawah langit Mesir yang biru, petualangan sejati baru saja dimulai.

Dalam setiap jejak pasir yang terinjak, dalam setiap malam di bawah bintang, Ibnu Battuta tidak hanya mencari Tuhan. Ia mencari jawaban:

“Bagaimana rasanya menjadi manusia yang berani mencintai dunia, tapi tak pernah lupa rumah?”

Dan jawabannya, ia temukan bukan di puncak gunung atau istana raja tapi dalam doa seorang ibu yang menunggu di Fez, di bawah pohon zaitun tua, berharap anaknya pulang.

Catatan Historis:

Ibnu Battuta berangkat dari Fez pada April 1325 (17 Rajab 725 H), sebagaimana dicatat dalam “Rihlah”.

Ia menyeberangi Sahara melalui Tlemcen, Tunis, Tripoli, dan Wadai, sebelum tiba di Kairo pada awal 1326.

Perjalanan lintas Sahara memakan waktu sekitar 6–8 bulan, dengan risiko tinggi karena cuaca ekstrem, kelangkaan air, dan ancaman perampok.

Di Mesir, ia menghabiskan beberapa bulan belajar di Al-Azhar sebelum melanjutkan ke Hijaz untuk haji.

Responses (28)

Leave a Reply to Ikbal Muhammad Yusup Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *