Jepang, Antara Impian dan Realita Kehidupan

Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com


ANGGIE DAN KOTA YANG TAK PERNAH MENANGIS 

Keluarga yang Retak

Anggie Cahyaningsih Putriyani bukan perempuan yang sering dipandang dua kali di keramaian. Ia tidak memiliki wajah seperti selebriti, tidak pula senyum yang mempesona seperti tokoh dalam novel romansa.

Tapi ada sesuatu yang tak bisa diabaikan: postur tubuhnya yang tinggi, tegap, namun tetap proporsional, seperti patung yang diciptakan dengan rasa hormat terhadap keseimbangan dan garis simetris kehidupan.

Rambutnya lurus, cokelat gelap, selalu diikat rapi ke belakang. Matanya cokelat kelam dan dalam—seperti sumur tua yang menyimpan banyak kisah yang tak pernah diceritakan tapi tak bisa dilupakan. Ia bukan cantik—tapi menarik.

Menarik karena di matanya, orang bisa melihat bayang-bayang kelelahan, keberanian, dan keinginan untuk tetap berdiri meski dunia terus berusaha menjatuhkannya.

Ia tumbuh di rumah yang retak sejak kecil. Ayahnya pergi saat ia masih duduk di kelas tiga SD, tergoda oleh wanita yang tertarik atas harta tak seberapa—meninggalkan ibu yang terlalu sibuk mencari uang dan terlalu lelah untuk mencintai.

Rumah mereka di salah satu sudut kota Cianjur berukuran kecil, berdinding papan, bocor saat hujan, dan selalu sunyi, meski penuh suara televisi yang dinyalakan keras-keras untuk menutupi rasa sepi.

Tarian: Ekspresi Sebuah Pelarian

Di sekolah, Anggie menemukan pelarian: tari. Bukan tarian yang indah atau elegan, tapi tarian kontemporer yang penuh gejolak—gerakannya keras, patah-patah, seperti teriakan yang tak keluar dari mulut.

Ia menari bukan untuk memukau, tapi untuk bertahan. Setiap gerakan kakinya di atas panggung adalah teriakan kemarahan yang sunyi terhadap dunia yang tak pernah mau mendengar kisah hidupnya.

Kampus dan Cinta: Perjuangan untuk Bertahan 

Setelah lulus SMK, kuliah menjadi satu-satunya harapan. Tapi uang tak pernah cukup. Ia bekerja di apotek kecil dekat pasar, membungkus obat, melayani pelanggan, kadang sampai malam.

Gajinya pas-pasan, tapi ia tak pernah mengeluh. Ia menyisihkan setiap rupiah untuk biaya kuliah di salah satu Universitas di Cianjur. Kuliah jarak jauh—Dia mengambil jurusan Ilmu Pemerintahan. Anggie harus bisa mengatur waktu antara jadwal kuliah dengan kerja.

Ia pulang pergi naik sepeda motor matik kesayangan yang masih belum lunas cicilannya, membawa buku-buku tebal tentang struktur sosial, teori Marx, dan feminisme—bacaan yang membuatnya merasa lebih dekat dengan dunia, meski justru membuatnya semakin jauh dari manusia.

Cinta datang dan pergi seperti musim yang datang tak menentu. Yang pertama, seorang mahasiswa teknik yang berkata bahwa matanya “seperti lukisan yang belum selesai”.

Mereka pacaran selama dua tahun. Tapi ketika Anggie mulai bercita-cita pergi ke Jepang, ia ditinggalkan. “Aku tak bisa menunggumu, Ang. Kau terlalu jauh, bahkan saat kau masih di sini.”

Yang kedua, seorang relawan kemanusiaan yang jatuh cinta padanya saat mereka bekerja di posko bencana. Tapi ia pergi ke Palestine dan tak pernah kembali.

Laki-laki lain yang datang hanya sebatas obrolan-obrolan malam di warung kopi langganan milik temannya, yang berakhir dengan kata-kata: “Kau terlalu kuat. Aku takut padamu.”

Dan di situlah letak luka terdalam: bukan karena dicintai dan ditinggalkan, tapi karena selalu dianggap “terlalu kuat” untuk dicintai sepenuhnya.

Di tengah malam, ketika hujan turun dengan deras dan atap rumah yang bocor, Anggie menangis diam-diam.

Tangisnya tak bersuara, hanya isak yang tercekik di dada. Ia merasa rapuh, lemah dan tak berdaya—tapi dunia hanya melihat betapa kuatnya ia berdiri menjalani kehidupan yang sepi.

Jepang: Impian dan Tanah Harapan

Lulus kuliah, ia tak menunggu pekerjaan datang. Dengan gelar di tangan ia mendaftar ke lembaga pelatihan tenaga kerja untuk program “Technical Intern Training Program” di Jepang.

Tiga bulan belajar bahasa Jepang, budaya dan etika kerja. Ia belajar dengan tekun, seperti sedang membangun jembatan dari kesedihan dan ketidakpastian menuju harapan yang tercerahkan.

Tapi biaya pemberangkatan? Jutaan rupiah. Ia tak punya tabungan. Maka, suatu sore, ia duduk di beranda rumah kakeknya, di bawah pohon mangga tua yang dulu sering jadi tempatnya menangis diam-diam.

“Kek,” suaranya pelan, gemetar, “aku mau pinjam sertifikat tanah dekat kuburan keluarga kita.”

Kakek menatapnya, matanya berkaca-kaca melihat cucu kesayangan yang selalu ia doakan setiap waktu. “Buat apa, Neng?”

“Buat berangkat ke Jepang. Aku dapat kerja di sana. Di perusahaan pemotongan hewan. Gajinya besar. Insyaallah aku bisa bayar kembali, pasti.”

Kakek menghela napas, lama. Angin sore berdesir. “Kau tahu, tanah ini satu-satunya warisan yang bisa kutinggalkan. Tapi kau… kau satu-satunya cucu yang masih peduli sama keluarga.”

Anggie menunduk. “Aku tak mau menggadaikan tanah warisan itu selamanya. Aku janji, Kek. Dua tahun. Tiga tahun paling lama. Aku pulang bawa uang, bawa harga diri, insyaallah.”

Kakek menatap matanya. Lama. Lalu mengangguk pelan. “Kalau kau pergi, jangan lupa pulang. Jepang boleh indah, tapi tanah ini menunggumu.”

Hari keberangkatan tiba. Bandara Soekarno-Hatta. Anggie memakai jaket tebal, tas kecil di punggung, dan hati yang berat. Ia tak punya siapa-siapa yang mengantarnya. Hanya kakek yang berdiri di pinggir pagar, melambaikan tangan dengan senyum getir.

Tanah yang Dijanjikan

Ketika pesawat mendarat di Narita, pagi buta, salju turun tipis. Anggie keluar dari bandara, dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa kecil.

Kota Tokyo berdiri megah, lampu-lampu menyala seperti bintang yang jatuh ke bumi, kereta cepat meluncur tanpa suara, orang-orang berjalan cepat, teratur, tanpa saling menyapa.

Ia menatap gedung-gedung tinggi, langit kelabu, dan salju yang mencair di ujung sepatunya. Ia merasa seperti mimpi. Atau mungkin mimpi buruk yang tak bisa dibedakan dari kenyataan.

Ia dijemput oleh petugas agensi, dibawa ke asrama kecil di luar kota Saitama. Keesokan harinya, ia mulai bekerja di sebuah pabrik pemotongan hewan—tempat yang dingin, berdarah, tanpa hati dan penuh suara mesin yang bising

Hari pertama, ia hampir muntah melihat prosesnya. Tapi ia bertahan. Ia ingat tarian-tariannya dulu: gerakan yang lahir dari rasa sakit, sepi dan putus asa atas dunia.

Kini, setiap potongan, setiap irisan, setiap langkah di lantai licin adalah tarian baru—tarian bertahan hidup dan meraih harapan.

Di kamar asramanya yang sempit, ia sering duduk di depan jendela, menatap langit malam Jepang yang tak pernah hitam pekat—ditemani esse dan berry pop, rokok kesayangan yang tak pernah lelah menemani.

Ia menulis surat untuk kakek, meski tak pernah dikirim. Ia menulis surat cinta yang tak pernah terkirim kepada mantan-mantannya.

Ia menulis puisi tentang tanah, tentang hujan, tentang wanita yang ingin dicintai tapi selalu terlalu kuat untuk dicintai.

Anggie bukan pahlawan. Ia bukan tokoh dalam cerita yang selalu menang. Ia rapuh, sering menangis, sering merasa ingin pulang.

Tapi ia tetap berdiri. Ia tetap bekerja. Ia tetap menatap salju yang turun di musim dingin, dan berkata pada dirinya sendiri:

“Aku di sini bukan karena aku kuat. Aku di sini karena aku masih punya harapan. Dan harapan itu, meski rapuh, lebih tajam dari pisau cutter di tanganku.”

Di tengah kota yang tak pernah menangis, Anggie belajar bahwa keberanian bukanlah tidak takut.

Keberanian memaksanya tetap melangkah, meski hati remuk, meski cinta selalu gagal, meski dunia tak pernah memeluknya erat, meski semesta berusaha selalu menjatuhkan setiap saat.

Dan suatu hari nanti, ia akan pulang. Dengan sertifikat tanah warisan yang telah ditebus, dengan dompet penuh upah

Dengan hati yang masih berdetak pelan dan sunyi—lelah, muak, jenuh dan sepi… Hati yang tak pernah mati dan tak pernah lelah untuk melangkah.

“I’m selfish, impatient and a little insecure. I make mistakes, I am out of control and at times hard to handle. But if you can’t handle me at my worst, then you sure as hell don’t deserve me at my best.”

Marilyn Monroe

Responses (63)

Leave a Reply to Alistair80 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *