Kelahiran Sang Maung dari Tatar Sunda, Asal-Usul Divisi Siliwangi

Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com


DIVISI SILIWANGI: KELAHIRAN SANG MAUNG DARI TATAR SUNDA

Di tengah gemuruh zaman yang dirobek-robek oleh dentuman meriam kolonial dan derap kaki penjajah, ketika tanah Jawa masih berdarah-darah dalam pelukan imperialisme, dari perut tanah Pasundan dengan lembah-lembah yang dikelilingi hutan rimba dan sungai-sungai yang mengalir seperti nadinya bangsa, lahirlah sebuah legenda.

Bukan dari dongeng para leluhur, bukan pula dari mimpi para wali, melainkan dari tekad baja dan darah para pejuang yang tak rela melihat tanah tumpah darahnya diinjak-injak.

Lahirnya Divisi Siliwangi bukan sekadar pembentukan satuan militer; ia adalah kelahiran epik—seperti Ciung Wanara yang bangkit dari amarah bumi, atau Prabu Siliwangi yang menjadi simbol kejayaan masa lalu yang kini dihidupkan kembali dalam bentuk perlawanan terorganisasi melawan penjajahan.

Dari Nama Raja yang Adil dan Bijaksana: Lahirnya Benteng Bangsa dan Negara

Nama “Siliwangi” bukanlah nama sembarangan. Ia merujuk pada Prabu Siliwangi, raja legendaris Kerajaan Pajajaran abad ke-15, simbol keadilan, keberanian, kesetiaan, kejayaan dan kemegahan tanah Sunda yang tak terbantahkan.

Nama ini dipilih bukan hanya karena keagungannya dalam tradisi lisan Sunda, tetapi karena ia menyimpan jiwa nasionalisme yang mendalam—jiwa yang ingin mengembalikan martabat bangsa yang telah lama tertindas.

Ketika pada tahun 1946, Tentara Republik Indonesia (TRI), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI), mulai membentuk divisi-divisi strategis, maka dipilihlah nama “Siliwangi” untuk satuan yang bertugas di Tatar Sunda.

Nama ini menjadi pengingat bahwa pejuang baru ini adalah penerus semangat kerajaan-kerajaan Nusantara yang gagah berani melawan penjajahan.

Latar Belakang Sejarah: Dalam Bayang-Bayang Revolusi

Pada masa revolusi fisik 1945–1949, Indonesia berada dalam keadaan kritis. Belanda, dengan dukungan Inggris dan kekuatan imperialis Barat, berusaha kembali menguasai Hindia Belanda.

Di tengah kekacauan politik dan militer, pemerintah Republik Indonesia yang baru lahir harus membangun angkatan perang dari nol.

Maka, pada tanggal 10 Januari 1946, di Kota Bandung, lahirlah Divisi III yang kemudian dikenal sebagai Divisi Siliwangi yang ikonik dan legendaris.

Pembentukannya diprakarsai oleh Letnan Kolonel A.H. Nasution, seorang perwira militer yang kelak menjadi panglima besar dan bapak TNI modern.

Nasution, yang lahir di Tasikmalaya dan berdarah Sunda, memahami betul bahwa kekuatan militer harus dibangun di atas fondasi nasionalisme, disiplin, dan kemandirian.

Ia memilih wilayah Jawa Barat dengan topografi pegunungan yang sulit, jaringan sosial yang kuat, dan tradisi perlawanan yang mendalam sebagai basis utama Divisi Siliwangi.

Romantisme dan Heroisme di Tengah Hutan dan Hujan Peluru

Bayangkan malam-malam di lereng Gunung Tampomas, di mana para pejuang muda berkumpul di bawah tenda basah, membaca peta dengan cahaya obor, sambil menyanyikan lagu Hymne Tentara yang diciptakan oleh Ismail Marzuki.

Mereka bukan hanya tentara, mereka adalah penyair perjuangan. Mereka menulis surat cinta kepada kekasih di kampung, namun di balik surat itu terdengar desing peluru dan dentuman mortir.

Mereka mencintai tanah air seperti mencintai seorang kekasih, dengan gairah, kesetiaan, dan rela mati.

Di hutan-hutan Cikampek, Subang, Cianjur dan Garut, Divisi Siliwangi menjalani pelatihan keras. Mereka hidup dari nasi aking dan ikan asin, namun semangat mereka sekuat baja.

Mereka belajar gerilya, bukan hanya sebagai taktik militer, tetapi sebagai filsafat perlawanan.

Gerilya adalah puisi perjuangan—tersembunyi, diam, sunyi dan senyap namun nyata dan menghujam ulu hati musuh.

Siliwangi: Heroisme dalam Long March

Puncak dari epik heroisme Siliwangi terjadi pada tahun 1948, setelah Belanda melancarkan Agresi Militer Kedua dan menduduki Yogyakarta, ibu kota Republik saat itu.

Divisi Siliwangi, yang saat itu bermarkas di Jawa Barat, terjepit. Dalam situasi genting, Letnan Kolonel Nasution mengambil keputusan heroik: Long March Siliwangi.

Perjalanan kaki sejauh lebih dari 1.000 kilometer dari Jawa Barat ke Jawa Tengah, menembus hutan, rawa, dan daerah musuh yang berbahaya.

Selama berbulan-bulan, ribuan prajurit Siliwangi bergerak seperti bayangan. Mereka tidak membawa kendaraan berat, tidak ada dukungan udara, hanya senapan karaben, nasi ketan, dan semangat yang tak tergoyahkan oleh keadaan.

Mereka tidur di goa, makan dari hasil bumi, dan tetap menjaga disiplin meski kelaparan. Dalam perjalanan itu, banyak korban yang jatuh—karena penyakit, kelaparan, atau serangan musuh, namun tidak seorang pun menyerah.

“Kami tidak pulang, kami maju. Kami bukan mundur, kami berpindah medan perang,” kata Nasution dalam salah satu pidatonya.

Long March bukan sekadar manuver militer. Ia adalah metafora perjuangan sebuah bangsa yang baru lahir: panjang, melelahkan, penuh penderitaan, tetapi tak terhentikan.

Seperti perjalanan bangsa ini yang terus berjalan meski kakinya berdarah dan penuh luka bernanah.

Warisan Siliwangi: Jiwa dan Bara Semangat yang Tak Pernah Padam 

Setelah kemerdekaan, Divisi Siliwangi tidak berhenti. Ia terus menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan negara.

Siliwangi bergerak dalam operasi pembebasan Irian Barat, penumpasan DI/TII, konfrontasi dengan Malaysia, hingga penugasan dalam misi perdamaian PBB.

Namun yang paling abadi bukanlah kemenangannya dalam pertempuran, melainkan jati dirinya: kesetiaan, profesionalisme, dan cinta tanah air yang tak terbelah dan tak tergoyahkan.

Hingga kini, warna hijau loreng Siliwangi masih berkibar di Cikadut, di markas Kostrad, dan di hati rakyat.

Setiap prajurit yang menyandang nama Siliwangi tahu: ia bukan hanya tentara, ia adalah pewaris dari para raksasa sejarah.

Ia adalah maung yang lahir dari gunung, yang mengaum dalam diam, namun gema aumannya mengguncang zaman.

Epilog: Legenda yang Tetap Hidup

Jika suatu hari engkau berjalan di hutan Tatar Sunda, dengarkanlah bisikan angin di antara daun pinus. Mungkin itu suara langkah Siliwangi yang tak pernah benar-benar pergi.

Mereka tetap ada, dalam doa ibu yang kehilangan anaknya di medan perang, dalam lagu yang dinyanyikan di barak militer, dalam setiap upacara bendera yang diheningkan oleh kenangan.

Divisi Siliwangi bukan hanya satuan militer. Ia adalah puisi yang ditulis dengan darah, roman yang dibangun atas nama cinta tanah air, dan epik heroik yang takkan pernah usai.

Ia adalah bukti bahwa dari tanah yang pernah diinjak dan dihinakan, bisa tumbuh sang maung yang tak terkalahkan.

“Siliwangi bukan hanya nama. Ia adalah janji: bahwa bangsa ini akan terus berdiri sepanjang tanah Pasundan masih bernapas.”

Referensi

  1. Nasution, A.H. (1970). “Fundamentals of Guerilla Warfare”. New York: Praeger.
  2. Salim, A. (2008). “Jejak-Jejak Para Pejuang: Memoar Tentang Divisi Siliwangi”. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
  3. Departemen Pertahanan Republik Indonesia. (2005). “Sejarah Perjuangan TNI: Dari TRI ke TNI”. Jakarta: Pusat Sejarah TNI.
  4. Anderson, Benedict R.O’G. (2009). “Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism”. Verso. (Untuk konteks romantisme nasionalisme)
  5. Ricklefs, M.C. (1993). “A History of Modern Indonesia Since c.1300”. Stanford University Press.
  6. Situs resmi TNI AD – [www.tniad.mil.id](https://www.tniad.mil.id) – Divisi Infanteri I/Kostrad (Siliwangi).

Responses (44)

Leave a Reply to Dede Hermawan Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *