Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Kisah Keteladanan Pemimpin yang Adil dan Bijaksana

Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com


KISAH-KISAH KEPEMIMPINAN UMAR BIN ABDUL AZIZ: PENUH HIKMAH DAN KEBIJAKSANAAN

Umar bin Abdul Aziz, meski hanya memerintah selama 2,5 tahun, meninggalkan banyak kisah kepemimpinan yang menginspirasi.

Berikut beberapa kisah nyata yang menunjukkan keadilan, ketawadhuan dan kebijaksanaannya:

1. Menolak Harta Keluarga Bani Umayyah yang Diambil Secara Tidak Sah

Ketika menjadi khalifah, Umar memerintahkan agar harta kekayaan Bani Umayyah yang diperoleh secara zalim dikembalikan ke baitul mal (kas negara). Keluarganya marah, termasuk istrinya, Fatimah binti Abdul Malik, yang memiliki perhiasan mahal.

Suatu hari, Umar berkata padanya:

“Pilih antara mengembalikan perhiasanmu ke baitul mal atau aku cerai engkau, karena aku tidak mau tidur di kasur yang sama dengan harta haram.”

Fatimah pun menangis, tetapi akhirnya menyerahkan semua perhiasannya.

Pelajarannya: Seorang pemimpin harus tegas terhadap keluarganya sendiri demi keadilan.

2. Memecat Gubernur yang Zalim

Seorang gubernur bernama Yazid bin Al-Muhallab dikenal suka memungut pajak secara sewenang-wenang. Umar segera memecatnya dan menyita kekayaannya yang didapat dari korupsi.

Yazid protes: “Aku dipecat hanya karena membela kepentingan Bani Umayyah?”

Umar menjawab: “Keadilan adalah hak semua orang, bukan hanya keluarga penguasa.”

Pelajarannya: Tidak ada nepotisme dalam kepemimpinan Islam yang benar.

3. Menghapus Jizyah untuk Muslim Baru

Sebelum masa Umar, banyak orang non-Muslim yang masuk Islam tetap dipaksa bayar jizyah (pajak perlindungan). Umar mengubah kebijakan ini dan berkata:

“Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai pemberi petunjuk, bukan pemungut pajak!”

Dia memerintahkan pengembalian pajak yang telah dipungut dari mereka. Akibatnya, banyak orang berbondong-bondong masuk Islam.

Pelajarannya: Kebijakan harus memudahkan rakyat, bukan memberatkan.

4. Hidup Sederhana Meski Menjadi Khalifah

Suatu malam, lampu minyak di istana khalifah masih menyala saat Umar bekerja. Tiba-tiba, ajudannya datang membawa surat resmi. Umar segera memadamkan lampu minyak negara dan menyalakan lampu pribadinya, lalu berkata:

“Yang pertama untuk urusan negara, yang ini untuk urusan pribadiku.”

Ia juga menolak gaji besar sebagai khalifah dan hanya mengambil secukupnya untuk hidup sederhana.

Pelajarannya: Seorang pemimpin tidak boleh memakai fasilitas negara untuk kepentingan pribadi.

5. Membela Rakyat Kecil dari Pejabat Korup

Seorang petani miskin mengadu bahwa tanahnya dirampas oleh seorang pejabat. Umar segera memanggil pejabat itu dan bertanya:

“Apakah kamu punya bukti bahwa tanah itu milikmu?”

Si pejabat tidak bisa membuktikannya, maka Umar memerintahkan:

“Kembalikan tanah itu, atau aku akan memotong tanganmu sebagaimana kau mengambil hak orang lain!”

Pelajarannya: Pemimpin harus menjadi pelindung kaum lemah.

6. Surat Dakwah kepada Raja Romawi

Umar mengirim surat kepada Kaisar Romawi Leo III, mengajaknya masuk Islam dengan bahasa yang santun:

“Jika engkau masuk Islam, kami akan menerimamu. Jika tidak, bayarlah jizyah sebagai tanda perlindungan. Jika engkau menolak, maka rakyatmu akan menanggung akibat perang yang sebenarnya bisa dihindari.”

Surat ini menunjukkan diplomasi yang tegas namun santun.

Pelajarannya: Seorang pemimpin harus bijak dalam hubungan luar negeri.

7. Menolak Hadiah Mewah

Suatu hari, seorang pejabat mengirim hadiah berupa buah-buahan langka kepada Umar. Umar langsung menolak dan berkata:

“Jika ini hadiah, maka itu haram bagi pejabat. Jika ini suap, maka itu lebih haram lagi!”

Pelajarannya: Pemimpin harus anti-suap dan hadiah yang meragukan.

Kesimpulan

Umar bin Abdul Aziz membuktikan bahwa kepemimpinan yang adil dan bersih bisa mengubah negara dalam waktu singkat. Meski hanya 2,5 tahun, kebijakannya:

  • Memberantas korupsi
  • Menyejahterakan rakyat
  • Menegakkan hukum tanpa pandang bulu
  • Hidup sederhana

Ia disebut “Khulafaur Rasyidin yang Kelima” karena meneladani kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Referensi

  1. “Al-Bidayah wa An-Nihayah” – Ibnu Katsir
  2. “Tarikh Al-Khulafa” – As-Suyuthi
  3. “Umar bin Abdul Aziz: The Rightly Guided Caliph” – Dr. Ali Ash-Shallabi

Response (1)

Leave a Reply to Jimmy3674 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *