Siliwangi, Jalan Sukabumi – Ciranjang yang Bergelimang Darah

Di BAWAH BAYANG GUNUNG GEDE: SILIWANGI DAN JALAN YANG DIPENUHI DARAH 

Fajar di Lembah Cikawalu

Pagi itu, 24 Oktober 1945, udara Sukabumi masih dingin oleh embun pegunungan. Di kaki Gunung Gede, kabut tipis menyelimuti sawah dan jalan raya yang belum selesai aspalnya.

Tapi di balik ketenangan itu, jantung tanah Sunda berdebar kencang.

Di sebuah pos penjagaan sederhana di pinggir jalan raya Sukabumi – Ciranjang, seorang pemuda berseragam loreng hijau tua memandang ke arah timur. Tangannya mencengkeram senapan Sten yang direbut dari Jepang.

Matanya tajam, seperti elang yang mengintai mangsa. Namanya Letnan R. Kosasih, komandan peleton dari Batalyon 13 Divisi Siliwangi.

“Mereka datang,” katanya pelan.

Dan dari kejauhan, terdengar suara mesin berat – bukan truk Republik, bukan motor rakyat. Itu adalah konvoi pasukan Sekutu, bendera Inggris berkibar di depan, tank Sherman mengguncang tanah dan di dalam truk, tentara Gurkha bersenjata lengkap.

Mereka datang atas nama “pemulihan perdamaian”.

Tapi bagi Siliwangi, mereka adalah bayang-bayang kolonial yang kembali dalam nama baru.

Tidak Ada Kata untuk Menyerah

Tiga bulan setelah Proklamasi, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Di banyak kota, pasukan Sekutu (terutama Inggris) datang dengan mandat PBB untuk melucuti tentara Jepang, tapi justru malah membuka jalan bagi kedatangan kembali Belanda.

Di Jawa Barat, Sukabumi menjadi salah satu titik krusial. Jalan raya menuju Bogor, Bandung, dan Cianjur melewati sini. Siapa yang menguasai jalan ini, menguasai nadi perlawanan.

Tapi pasukan Sekutu tidak mengira bahwa di balik hutan pinus dan jurang curam, anak-anak muda Sunda telah bersumpah:

“Tanah ini bukan milik penjajah. Bukan milik Inggris. Bukan milik Belanda. Ini milik rakyat.”

Dan ketika konvoi Sekutu melintas dari arah Bogor menuju Cianjur, Siliwangi sudah menunggu.

Penghadangan di Kilometer 17: Sukabumi

Pada 24 Oktober 1945 pagi, di tikungan tajam dekat desa Cikidang, pasukan Siliwangi melakukan penghadangan pertama.

Siliwangi tidak punya tank. Tidak punya artileri. Hanya ada ranjau bambu runcing, granat buatan tangan dari kaleng minyak, dan senapan hasil rampasan Jepang.

Sekutu, iya tentara sekutu! Kekuatan the allied force yang gagah perkasa sang pemenang perang dunia II yang berlangsung ganas, kejam dan brutal kini harus dihadapi oleh pasukan Siliwangi yang baru berdiri.

Tapi Siliwangi punya satu kekuatan yang tak bisa diukur: keberanian yang lahir dari cinta tanah air.

Ketika konvoi berhenti karena jalan dipasang ranjau, Letnan Kosasih memberi isyarat.

Dari semak-semak, puluhan tentara muncul bagai hantu. Tembakan pertama menghantam truk depan. Granat meledak di samping tank. Seorang tentara Gurkha terjatuh dan panik pun merebak.

Tapi Sekutu cepat bereaksi. Senapan mesin mulai menyapu pepohonan. Peluru berdesing deras di antara daun pinus.

Bom dari moncong tank dan mortar jatuh bagaikan hujan menghantam posisi pasukan Siliwangi.

Dua tentara Siliwangi tewas di tempat termasuk Sersan Mamat, yang terakhir terlihat melempar granat ke dalam truk komando sebelum jatuh dengan dada berlubang.

Namun, penghadangan berhasil. Konvoi terhenti selama enam jam. Cukup waktu bagi komandan Siliwangi lainnya untuk mengatur pertahanan lebih dalam ke arah Ciranjang.

Perang di Tanah Leluhur: Dari Cisaat ke Ciranjang

Dari Sukabumi ke Ciranjang, jaraknya hanya 30 kilometer. Tapi bagi Siliwangi, itu adalah jalan penuh pengorbanan.

Di Cisaat, mereka menghancurkan jembatan kecil dengan bahan peledak rakitan. Saat pasukan Sekutu mencoba memperbaiki, peleton berangkai menyerang dari sisi sungai. Dalam gelap dua truk terbakar.

Di Cibolang, sekelompok petani membantu Siliwangi menimbun jalan dengan batu besar. Ketika tank mencoba melewati, roda nya terjebak.

Dari atas bukit, mortir bambu (peledak dalam pipa bambu) ditembakkan dan ledakan mengguncang malam.

Di Ciranjang, pos terakhir didirikan di lereng Gunung Halimun. Di sinilah Kolonel A.H. Nasution yang kala itu masih berpangkat mayor mengambil alih komando.

“Kita tidak bisa mengalahkan mereka dengan senjata,” katanya dalam rapat darurat.

“Tapi kita bisa mengalahkan mereka dengan waktu. Dengan rasa takut. Dengan bayang-bayang yang tak pernah mati.”

Malam di Tengah Hujan: Serangan Kilat di Ciranjang

Pada 26 Oktober 1945, hujan turun deras. Tanah becek. Visibilitas nol. Tepat saat pasukan Sekutu mulai merasa aman, Siliwangi melancarkan serangan malam.

Dipimpin oleh Kapten Surya Kusumah, 200 tentara menyusup dari tiga arah:

Satu kelompok menyamar sebagai petani, membawa “bantuan” makanan ke pos Sekutu.

Satu kelompok lain memotong kabel telekomunikasi.

Dan yang ketiga, menyerang dari belakang dengan bayonet dan granat.

Dalam 90 menit, tiga truk hancur, satu tank rusak parah, dan 15 tentara Sekutu terluka. Tapi harga yang dibayar mahal: 37 tentara Siliwangi gugur, termasuk Kapten Surya yang ditembak saat mencoba membakar gudang amunisi.

Namun, pesan telah tersampaikan: Republik tidak akan menyerahkan jalan ini begitu saja.

Siliwangi: Diam Tapi Tak Terkalahkan

Pasukan Sekutu akhirnya berhasil melintas ke Cianjur tapi dengan harga yang sangat mahal. Mereka tidak menghadapi tentara konvensional tapi perlawanan rakyat yang menyatu dengan tanah, hutan, dan budaya.

Seorang perwira Inggris, Mayor David Thompson, menulis dalam laporan militer:

We were not fighting an army. We were fighting a spirit. The hills, the trees, the farmers, everyone was the enemy. And the Siliwangi? They were not soldiers. They were shadows with rifles.”

“Kami tidak melawan tentara. Kami melawan sebuah roh. Bukit, pohon, petani, semuanya adalah musuh. Dan Siliwangi? Mereka bukan tentara. Mereka adalah bayang-bayang dengan senapan.”

Pasukan Sekutu terpaksa mengubah rute, meminta dukungan udara, dan akhirnya meminta negosiasi. Tuntutan Siliwangi jelas:

“Tidak ada pasukan asing yang boleh melintas tanpa izin pemerintah RI. Jawa Barat adalah milik Republik.”

Warisan di Atas Tanah yang Basah

Hari ini, di sepanjang jalan raya Sukabumi – Ciranjang, hanya ada beberapa tugu kecil yang memperingati peristiwa itu. Di Cisaat, batu nisan tua bertuliskan:

“Di sini gugur pasukan Siliwangi, 24 Oktober 1945. Mati membela tanah leluhur.”

Di Ciranjang, di sebuah gubuk tua yang dulu jadi markas Siliwangi, seorang kakek mantan kurir Siliwangi pernah bercerita pada cucunya:

“Dulu, kami tidak punya apa – apa. Tapi kami punya satu hal: rasa malu. Malu kalau tanah ini kembali diinjak penjajah. Maka kami berdiri. Meski hanya dengan bambu runcing di tangan.”

Epilog: Siliwangi – Nama yang Tak Pernah Pudar

Penghadangan Sukabumi–Ciranjang bukanlah pertempuran besar seperti Surabaya atau Ambarawa. Tidak ada kapal perang, tidak ada jet tempur.

Tapi di sini, di jalan berlubang antara pegunungan, lahirlah jiwa Siliwangi yang sejati.

Siliwangi bukan pahlawan yang dicetak di uang kertas.

Siliwangi tidak pernah berharap namanya terukir di Taman Makam Pahlawan.

Tapi Siliwangi adalah semangat yang pertama berdiri, yang terakhir mundur dan yang tak pernah menyerah meski dunia melupakan.

Dan selama jalan raya itu masih dilalui,  setiap deru kendaraan adalah doa bagi mereka yang pernah berdiri di sini, dengan senapan reyot, hati teguh dan jiwa merdeka yang tak terjajah.

Referensi

  1. Nasution, A.H. (1964). “Memenuhi Panggilan Tugas”, Jilid I. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
  2. Pusat Sejarah TNI (Pusjarah TNI). “Sejarah Militer Indonesia, Jilid II: Masa Revolusi Nasional 1945–1950”.
  3. Ricklefs, M.C. (2008). “Sejarah Indonesia Modern 1200–2004”. Jakarta: Serambi.
  4. Salim Said (2005). “Revolusi dan Perang Gerilya”. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
  5. Thompson, David (1947). “Report on Operations in West Java, October–November 1945”. British National Archives (Kew, UK).
  6. Arsip Daerah Kabupaten Sukabumi – Dokumen Perjuangan 1945–1949.
  7. Laporan Staf TNI 1946 – “Operasi Penghadangan Pasukan Sekutu di Jalur Sukabumi-Ciranjang”.

Responses (6)

Leave a Reply to Sylvia3258 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *