Tokyo, Jeritan Di Bawah Langit yang Terbakar – 1

Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com


EPISODE: BUNGA DI TENGAH ABU

Rumah Kecil di Pinggir Tokyo – Musim Semi 1944

Di bawah pohon sakura yang baru berbunga, Aoi duduk di tikar bambu, memeluk anak perempuannya yang berusia empat tahun.

Hana tertawa, tangannya mencoba menangkap kelopak yang jatuh perlahan. Di samping mereka, suaminya, Takumi, duduk berseragam tentara, wajahnya lelah tapi teduh.

“Kau lihat, Hana?” kata Aoi lembut. “Ayah pulang untuk sebentar. Ayah akan bawa bunga sakura untukmu.”

Hana mengangkat wajahnya, matanya bersinar. “Ayah… kapan ayah pulang lagi? Aku mau ayah main petak umpet.”

Takumi tertawa pelan, lalu mengusap kepala putrinya. “Ayah akan kembali secepatnya, sayang. Ayah harus menjaga tanah air kita. Tapi hati ayah selalu di sini, di antara kalian.”

Aoi menatapnya, tangan mereka saling berpaut. Ia ingin menangis, tapi tersenyum. “Kau janji?”

Takumi mengangguk. “Aku janji. Dan ketika aku kembali, kita akan menanam lebih banyak sakura. Di taman, di depan rumah, bahkan di atap kalau kau mau.”

Hana tertawa. “Aku mau ayah bikin ayunan dari sakura!”

Takumi menariknya ke pelukannya. “Baik, putriku. Ayah akan buatkan ayunan yang bisa terbang ke langit.”

Angin berhembus, membawa kelopak sakura melayang seperti doa yang belum selesai.

Panggilan dari Markas Militer – Desember 1944

Pagi itu, surat tiba. Amplop cokelat dengan cap militer. Aoi membukanya dengan tangan gemetar. Isinya singkat, dingin:

“Letnan Takumi Sato, dipanggil segera ke Iwo Jima. Keberangkatan 5 Januari 1945. Bertempat di Pelabuhan Yokosuka.”

Hana sedang tidur lelap. Aoi menatap suaminya, matanya berkaca-kaca. “Iwo Jima? Itu pulau mati, Takumi. Semua yang dikirim ke sana… tidak pernah kembali.”

Takumi menatap keluar jendela. “Aku tahu. Tapi aku harus pergi. Jika tidak, mereka akan mengirim yang lebih muda, yang belum punya istri, belum punya anak. Aku lebih siap menghadapi kematian daripada mereka.”

Ia menatap Aoi. “Jagalah Hana. Ajarkan dia untuk tidak takut. Ajarkan dia untuk mencintai, meski dunia ini penuh kebencian.”

Aoi memeluknya erat, seolah bisa menahan waktu. “Kau janji akan kembali.”

Takumi tidak menjawab. Ia hanya mencium keningnya, lalu mengambil tas tentaranya.

Briefing di Markas Angkatan Darat Jepang – Yokosuka

Di ruang bawah tanah yang pengap, ratusan prajurit berkumpul. Peta Iwo Jima tergantung di dinding. Kolonel Nakamura berdiri di depan, suaranya seperti logam yang dipukul.

“Iwo Jima adalah garis pertahanan terakhir. Jika mereka menguasai pulau itu, mereka bisa menyerang Jepang dari udara tanpa hambatan. Kita tidak boleh membiarkan itu terjadi.”

Para prajurit mendengarkan, wajah mereka tegang.

“Kita tidak punya cukup amunisi. Tidak ada pasokan. Tidak ada harapan evakuasi. Tapi kita punya satu senjata: tekad. Kita akan bertempur hingga napas terakhir. Kita akan memaksa mereka membayar mahal setiap inci tanah.”

Takumi menatap peta. Pulau kecil, tandus, terbakar oleh matahari. Ia tahu—ini bukan pertempuran. Ini akan menjadi sebuah pembantaian dan pengorbanan massal.

Di sampingnya, seorang prajurit muda berbisik, “Aku belum pernah mencium wanita, Letnan. Apakah aku akan mati tanpa pernah merasakan cinta?”

Takumi menatapnya. “Cinta bukan hanya sentuhan. Cinta adalah yang kau tinggalkan. Seperti surat, seperti doa, seperti nama yang diingat. Kau sudah mencintai, karena kau masih takut mati.”

Prajurit itu tersenyum pahit. Takumi menutup mata. Ia membayangkan Hana yang tertawa riang, Aoi yang menyanyi sambil memasak.

“Maafkan aku, Hana. Ayah tidak bisa membuatkan ayunan dari sakura.”

Keberangkatan ke Iwo Jima – 5 Januari 1945

Di pelabuhan Yokosuka, kapal perang berlabuh. Asap hitam mengepul. Prajurit naik dengan wajah kosong. Takumi berdiri di dermaga, menatap Aoi dan Hana dari kejauhan.

Aoi mengangkat tangan, Hana melambai dengan semangat. “Ayah! Ayah! Jangan lupa bunga!”

Takumi melambai, lalu menyentuh kalung kecil di lehernya—potongan kayu sakura yang diukir Aoi, berisi rambut Hana dan secarik doa.

Kapal bergerak perlahan. Aoi berlari ke tepi dermaga, air matanya jatuh ke tanah.

Takumi berdiri di buritan, melihat rumahnya semakin kecil, hingga menghilang di balik kabut laut.

Kehancuran di Iwo Jima – Maret 1945

Iwo Jima menjadi neraka. Hamparan pasir hitam dipenuhi darah, besi, dan mayat. Bom laut dan udara menghujam tanpa henti. Takumi dan pasukannya bertahan di terowongan bawah tanah, makan akar, minum air hujan.

Hari ke-36. Komunikasi mati. Makanan habis. Radio hanya mengirim satu pesan terakhir dari Tokyo:

“Bertahan hingga akhir. Kematian adalah kehormatan.”

Takumi menulis surat terakhir di selembar kertas basah.

“Aoi, jika kau membaca ini, aku sudah pergi. Katakan pada Hana bahwa ayahnya mencintainya lebih dari bintang di langit. Aku tidak bisa membuat ayunan, tapi aku harap ia tahu—angin yang membelai wajahnya adalah pelukanku.”

Ia menyelipkan surat itu ke dalam kalung kayu sakura, lalu melemparkannya ke laut saat kapal penyelamat Jepang yang tak pernah datang.

Hari itu, Takumi gugur di kaki Gunung Suribachi, menembakkan peluru senapan terakhirnya, memandang ke arah timur—ke arah rumahnya.

Kabar Kematian – Maret 1945, Tokyo

Surat tiba. Kali ini, cap hitam.

“Letnan Takumi Sato gugur di medan perang Iwo Jima. Jenazah tidak ditemukan. Ia mati dengan kehormatan.”

Aoi duduk di lantai, surat di tangan, Hana tertidur di pangkuannya. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap pohon sakura di luar jendela. Bunganya sudah rontok.

Hana terbangun. “Ibu, ayah kapan pulang?”

Aoi menarik napas. “Ayah… sudah menjadi bintang, Hana. Dia menjaga kita dari langit.”

Hana mengangkat tangan ke langit. “Aku lihat ayah! Dia tersenyum!”

Aoi memeluknya erat, akhirnya menangis—tangis yang tertahan sejak perang dimulai.

Ketakutan di Tokyo – Maret 1945

Kota Tokyo mulai sepi. Listrik sering padam. Makanan langka. Setiap malam, sirene berbunyi. Orang-orang berlarian ke bunker, membawa foto keluarga, boneka, dan harapan yang semakin tipis.

Aoi mengajari Hana menyanyi—lagu-lagu lama yang dinyanyikan neneknya.

“Bunga sakura mekar sekali, tapi cinta tak pernah layu…”

Tapi setiap malam, suara pesawat makin dekat. Mereka tidak lagi takut pada bom yang jatuh dan meledak. Mereka hanya takut pada hujan api yang tidak memberi ampun dan punya belas kasih.

Pangkalan Udara Amerika – Isley Field, Saipan

Sementara itu, di belahan dunia yang berbeda, di ruang briefing, Jenderal LeMay berdiri, dingin dan datar.

“Operasi Meetinghouse. Kita akan membakar Tokyo. Tidak ada pabrik, tidak ada militer. Kita akan hancurkan tempat tinggal mereka. Kita akan membakar mimpi mereka.”

Mayor Edward Hartman berdiri di barisan. Ia mengangkat tangan.

“Jenderal, ini bukan target militer. Ini kota sipil. Puluhan ribu anak, ibu, orang tua…” Edward tidak sanggup melanjutkan perkataannya.

LeMay menatapnya tajam dan dingin. “Anda pengecut, Hartman? Anda ingin tentara kita mati dalam invasi darat? Ini cara tercepat mengakhiri perang.”

Edward terdiam. Ia melihat foto istrinya di dompet. Ia membayangkan jika itu rumahnya yang dibakar.

Tapi ia tidak bisa melawan. Ia hanya bisa melaksanakan tugas dan perintah serta … terbang.

Keberangkatan – 9 Maret 1945, Pukul 23.30

Ratusan B-29 lepas landas. Suaranya menderu memekakkan telinga. Formasi di antaranya, “Lady Eleanor”, dikemudikan Edward Hartman. Ia menatap peta Tokyo, jari menunjuk area padat penduduk.

“Tuhan,” bisiknya lirih. “Aku tidak tahu apakah aku sedang menyelamatkan dunia… atau menghancurkannya sampai menjadi abu.”

Chaos di Tokyo – 10 Maret 1945, Dini Hari

Api jatuh seperti hujan meteor. Bom napalm meledak di mana-mana, membakar rumah kayu dalam hitungan detik. Udara panas seperti neraka. Orang-orang berlari, terbakar, jatuh. Anak-anak menangis, ibu-ibu berteriak.

Aoi membangunkan Hana. “Cepat, Hana! Kita harus pergi!”

Mereka berlari di tengah jalan yang terbakar. Asap hitam menghalangi pandangan. Langit merah. Tanah panas.

“Air! Kita ke sungai!” teriak Aoi.

Mereka sampai di tepi Sungai Sumida. Orang-orang melompat, berharap air bisa menyelamatkan.

Aoi melompat, memeluk Hana erat. Tapi bom napalm cair jatuh ke sungai.

Api menyala di atas air.

Aoi berteriak, memutar tubuhnya, melindungi Hana dengan seluruh tubuhnya.

“Jangan takut, Hana… Ibu di sini… Ibu mencintaimu…”

Sementara itu, api menyambar dan membakar semuanya tanpa ampun.

Kematian di Bawah Air yang Terbakar

Di dasar sungai yang mulai menghitam, tubuh Aoi masih memeluk Hana yang menghitam. Rambutnya mengambang seperti rumput laut. Matanya tertutup. Tapi pelukannya tidak pernah kendur.

Di saku bajunya, ada potongan kayu sakura—warisan dari Takumi. Terbakar separuh, tapi masih utuh.

Di langit, “Lady Eleanor” terbang pergi dan menjauh. Edward menatap ke bawah, melihat kota yang terbakar hebat dan memusnahkan semua penghuninya.

Panas kota yang terbakar terasa sampai ke dalam pesawat. Bau daging yang terbakar tercium dan menyeruak menusuk hidung semua crew pesawat– mereka terdiam.

Edward menutup mata. Di saku dadanya, foto istri dan anaknya basah oleh keringat yang mengalir deras.

Dan di antara abu Tokyo, tiga jiwa bertemu—Takumi, Aoi, dan Hana—bersatu dalam mimpi yang tak pernah usai.

Epilog

Beberapa bulan kemudian, di sebuah taman di Nebraska, seorang wanita bernama Eleanor Hartman menanam mawar merah sebagai tanda pengingat bagi suaminya.

Di pangkuannya, bayi laki-laki tertawa, tangannya mencengkeram daun mawar.

Angin berhembus, membawa kelopak mawar ke udara.

Di Jepang, di tepi Sungai Sumida, seekor burung hinggap di batu tua. Di bawahnya, tanda kecil tertulis:

“Di sini, Aoi, Hana, dan Takumi bersatu dalam cinta yang tak terbakar oleh api.”

Dan di langit malam kota Tokyo, tiga bintang bersinar lebih terang dari yang lain.

Responses (32)

Leave a Reply to M.Latif Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *