Tokyo, Jeritan Di Bawah Langit yang Terbakar – Episode Akhir

Kerjasama Pemberitaan/Iklan:
Contact Person: (0878-9163-1225). e-mail: bewarasiliwangi9@gmail.com


EPISODE: BURUNG BESI YANG MEMBAWA API

Barak di Base Udara Isley Field, Saipan – Malam Sebelum Pengeboman

Angin laut Pasifik berdesir pelan melalui jendela barak kayu yang lapuk. Di dalamnya, para pilot B-29 duduk berkelompok, diterangi cahaya redup lampu minyak. Suasana malam itu hangat, meski udara terasa lembap dan berat.

Di sudut ruangan, Edward Hartman duduk di atas peti amunisi yang diubah menjadi bangku, memutar-mutar cincin kawinnya sambil menatap foto yang tersembunyi di dalam dompet kulit.

“Kau masih bawa itu, Ed?” tanya kapten Miller, menghampiri sambil mengunyah permen karet.

“Selalu,” gumam Edward, senyum tipis menghiasi wajahnya yang lelah. “Anakku baru berusia tiga bulan ketika aku berangkat. Belum pernah dengar suaraku.”

Miller duduk di sampingnya. “Dia akan bangga, Ed. Semua anak akan bangga pada ayahnya yang terbang ke langit Jepang.”

“Tapi aku tak tahu apakah aku bangga pada diriku sendiri,” bisik Edward. “Aku bisa membayangkan ibu-ibu di sana, menenangkan bayi mereka saat sirene berbunyi. Sama sepertimu, Miller, sama sepertiku.”

Miller menepuk bahunya. “Perang ini bukan soal siapa yang lebih baik. Ini soal siapa yang bisa bertahan. Dan kita harus menang, agar mereka tak pernah mengalami ini lagi.”

Di luar, langit malam dipenuhi bintang. Seperti anak-anak yang tertawa di taman. Edward menatapnya, lalu kembali ke foto itu – istri dan bayinya, tersenyum di bawah pohon apel di halaman rumah mereka di Nebraska.

Panggilan dari Jenderal LeMay

Pagi buta. Kabut tipis menyelimuti lapangan udara. Edward dipanggil ke markas operasi, sebuah bangunan kayu yang dulunya gudang, kini menjadi pusat komando.

Di depan pintu, dua tentara berjaga. Saat ia masuk, Jenderal Curtis LeMay sedang berdiri di depan peta besar Pasifik, tangan di belakang, wajah dingin seperti baja.

“Mayor Hartman,” ujarnya tanpa menoleh. “Anda salah satu yang akan memimpin formasi utama malam ini.”

Edward tegak. “Siap, Jenderal.”

LeMay berbalik, matanya tajam. “Ini bukan misi biasa. Kita tidak akan membom pabrik atau pelabuhan. Kita akan membakar kota. Tokyo.”

Edward menelan ludah. “Tokyo, Jenderal? Penduduk sipil…”

“Penduduk sipil sudah membantu perang ini sejak hari pertama,” potong LeMay. “Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu. Industri rumahan mereka memproduksi suku cadang pesawat. Mereka bagian dari mesin perang. Dan mesin itu harus dihentikan.”

Ia menatap Edward. “Kita akan menggunakan bom napalm dan minyak bakar. Ratusan ton. Seluruh formasi akan terbang rendah, malam hari. Tidak ada eskor, tidak ada perlindungan. Hanya kita dan api.”

Edward diam. Di benaknya, wajah istrinya muncul. “Jangan jadi monster, Ed. Jangan biarkan perang merenggutmu!”

Tapi ia mengangguk. “Mengerti, Jenderal.”

Briefing di Hanggar Utama

Di dalam hanggar yang bau bensin dan logam, ratusan pilot dan kru berbaris rapi. Peta Tokyo diproyeksikan di dinding. LeMay berdiri di depan, suaranya seperti guntur.

“Tokyo bukan hanya ibu kota. Ini jantung kebanggaan Jepang. Dan malam ini, kita akan membakar jantung itu.”

Para pilot terdiam. Beberapa mencatat. Beberapa menatap lantai.

“Kami akan terbang pada ketinggian seribu kaki. Tidak seperti sebelumnya. Kita akan memastikan bom jatuh tepat di atap rumah mereka. Angin malam akan membantu dan angin timur laut akan menyebarkan api lebih cepat.”

Edward mendengar bisikan di sebelahnya.

“Tuhan… kita akan membakar jutaan orang.”

“Tapi kita juga menyelamatkan ribuan tentara kita yang akan mati kalau invasi ke Jepang benar-benar terjadi,” balas yang lain.

LeMay menatap mereka semua. “Ini bukan soal kekejaman. Ini soal kecepatan. Kita harus mengakhiri perang. Dan kita harus melakukannya dengan api.”

Edward menutup mata. Ia membayangkan anaknya yang belum pernah ia peluk. Ia membayangkan istrinya yang menunggu di rumah dengan lilin menyala di jendela.

Dan ia bertanya: *Apa yang kau lakukan, Ed? Apakah kau membawa damai, atau hanya membawa abu?*

Persiapan di Landasan, Isley Field – Sore Hari

Langit jingga. Ratusan B-29 berbaris seperti raksasa logam yang siap makan angkasa. Mesin dinyalakan satu per satu. Asap hitam mengepul. Kru sibuk memeriksa bahan bakar, bom, dan navigasi.

Edward berdiri di samping pesawatnya, Lady Eleanor – dinamai dari nama istrinya. Ia menyentuh lambang bunga mawar kecil di samping kokpit. Eleanor suka mawar.

“Semua sistem oke, Mayor,” kata navigator, ensign Reed. “Tapi cuaca di atas Jepang… angin kencang. Awas di jalur pulang.”

Edward mengangguk. “Kita akan melewati badai, Reed. Seperti kita melewati semua hal.”

Di sebelahnya, kopilotnya, Letnan Davis, tertawa kecil. “Aku baru saja menulis surat ke pacarku. Bilang, ‘Jika aku mati, jangan menangis. Aku terbang di atas sejarah.'”

Edward tersenyum. “Kalau aku mati, tulis ini: ‘Aku mencintaimu, Eleanor. Dan aku berharap kau tahu, aku berjuang agar anak kita tak pernah mengenal perang.'”

Mereka saling menatap. Tidak ada kata lagi. Hanya angin, raungan mesin, dan ketegangan yang menggantung seperti awan badai.

Keberangkatan – Malam Hari

Ribuan ton logam dan api terangkat dari tanah. Satu per satu, B-29 melesat di landasan, roda terangkat, sayap menari di angkasa.

Di udara, ratusan pesawat bomber yang akan menyebarkan kematian masal mulai membentuk formasi seperti burung-burung logam yang terbang ke timur.

Di dalam Lady Eleanor radio berdesis.

“Formasi Delta, posisi aman. Kita menuju Tokyo. Jarak 1.500 mil. Perkiraan waktu tempuh: enam jam.”

Edward menatap ke luar. Bintang-bintang bersinar dingin. Lautan gelap di bawahnya seperti kain beludru yang tak berujung.

“Kau percaya pada surga, Ed?” tanya Davis tiba-tiba.

“Tidak tahu,” jawab Edward. “Tapi aku percaya pada Eleanor. Aku percaya pada pelukan anakku. Itu yang membuatku terbang, bukan perang.”

Di radio, suara LeMay terdengar.

“Semua formasi, siapkan bom. Kita akan mulai pengeboman dalam dua puluh menit. Tujuan: pusat kota Tokyo. Fokus pada area padat penduduk. Tujuh ratus ton napalm akan jatuh dalam waktu kurang dari satu jam.”

Edward menarik napas dalam. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena beban.

Tokyo – Maret 1945, Dini Hari

Di atas, langit Tokyo menyala. Bom jatuh seperti hujan api. Setiap ledakan membuka bunga api raksasa, membakar rumah, jalan, sekolah, kuil.

Asap hitam membubung ke angkasa, membentuk awan badai yang menyemburkan bara.

Seorang ibu yang berusaha menyelamatkan diri dan bayinya beserta puluhan orang lainnya menceburkan diri ke sungai akibat panas dari ribuan ton bom napalm yang dijatuhkan bomber amerika.

Tapi naas, bom-bom napalm itu menyala hebat di atas air sungai yang menyebabkan air sungai mendidih dan merebus mereka hidup-hidup.

Tidak ada yang sanggup bertahan dari api neraka buatan Amerika yang sedang meluapkan amarah dan kebenciannya – semuanya terbakar, menghitam dan menjadi abu.

Di bawah, seorang ibu memeluk anaknya di ruang bawah tanah. “Jangan takut, sayang,” bisiknya. “Api tidak bisa masuk ke sini.” Tapi mereka bisa mendengar suara atap rumah terbakar, suara jerit kesakitan dan putus asa, suara langit yang runtuh.

Di dalam Lady Eleanor, Edward menatap ke bawah. Ia melihat bayangan ratusan ribu manusia berlari seperti semut yang terbakar. Ia menutup mata sejenak.

Bau daging yang terbakar mulai tercium ke dalam pesawat yang sedang mengudara.

“Tuhan, maafkan aku,” bisiknya lirih.

“Tidak ada yang bisa kau maafkan, Ed,” kata Davis. “Ini perang. Kita bukan pembunuh. Kita adalah alat dari sesuatu yang lebih besar.”

Tapi Edward tahu ia bukan alat. Ia manusia. Dan manusia yang membakar kota bukan bisa begitu saja menghapus dosa dengan kata-kata.

Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya dari Tokyo, jenderal Curtis LeMay sedang duduk di kantornya dikelilingi oleh para staf.

Dengan tatapan mata yang dingin dan keras sambil menghisap cerutunya – Jenderal yang terkenal kejam dan brutal ini terus mendengar laporan terbaru dari para staf nya yang selalu memantau perkembangan operasi meeting house yang sedang berlangsung di kota Tokyo

LeMay tahu, perintahnya telah menyebabkan ratusan ribu penghuni kota Tokyo mati terpanggang hidup-hidup tanpa daya. Jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal.

“Kalian tahu, jika kita kalah dalam perang ini, aku akan didakwa atas kejahatan perang dan pasti dihukum mati,” suaranya terdengar dingin yang membuat hening seluruh ruangan.

Jatuh di Laut Pasifik

Tiba-tiba, ledakan keras mengguncang kokpit. Mesin kanan meledak. Api menjilat sayap.

“Mesin dua rusak! Kita kehilangan ketinggian!” teriak Reed.

“Keluar! Semua keluar!” teriak Edward.

Tapi Davis terjebak. Edward mencoba membukanya, tapi tekanan udara terlalu kuat. Ledakan kedua menghantam ekor pesawat. “Lady Eleanor” berputar di udara dan jatuh seperti daun terbakar.

Di dalam kokpit, Edward terlepas dari sabuk. Ia meraih dompetnya. Foto itu – Eleanor dan bayi mereka masih utuh.

Pesawat menyentuh air dengan dentuman mengerikan. Air laut menyembur masuk. Lampu padam. Hanya suara desis dan retakan logam.

Edward terjebak. Air naik. Ia memeluk foto itu erat-erat di dada.

Ia menutup mata.

“Eleanor… aku melihat taman kita. Bunga mawar mekar. Kau duduk di ayunan, rambutmu tertiup angin. Anak kita tertawa… lucu sekali… tangannya kecil, mencengkeram jari-jariku…”

Air mencapai dagunya.

“Aku mencintaimu… sampai nafas terakhir…”

Dan dalam gelap yang perlahan menyelimuti, Edward tersenyum.

Pesawat tenggelam ke dasar laut Pasifik, membawa seorang pahlawan yang bukan ingin jadi pahlawan, hanya ingin pulang.

Epilog

Beberapa bulan kemudian, Eleanor menerima bingkisan dari Angkatan Udara. Di dalamnya, dompet kulit yang sudah lapuk, dan foto yang masih utuh meski basah, tapi wajah mereka masih tersenyum.

Di bawahnya, selembar kertas:

“Mayor Edward Hartman gugur dalam misi 9 Maret 1945. Pesawat jatuh di Laut Pasifik. Jenazah tidak ditemukan. Ia gugur dengan kehormatan. Ia terbang demi perdamaian.”

Eleanor duduk di ayunan, memeluk bayinya. Angin bertiup, membawa daun mawar jatuh perlahan.

“Kau tahu, Nak,” bisiknya, “ayahmu pernah terbang di atas langit yang terbakar… tapi hatinya selalu di rumah.”

Catatan Historis:

Pada malam 9 atau 10 Maret 1945, Angkatan Udara Amerika Serikat (United States Army Air Forces, USAAF) melakukan serangan bom api di ibu kota Jepang, Tokyo.

Serangan ini diberi nama sandi Operasi Meetinghouse oleh USAAF dan dikenal dengan Serangan Udara Tokyo Raya di Jepang. Bom yang dijatuhkan dari 279 pesawat pengebom berat Boeing B-29 Superfortress membakar sebagian besar wilayah timur Tokyo.

Lebih dari 90 ribu atau boleh jadi lebih dari 100 ribu orang Jepang tewas – kebanyakan di antaranya adalah warga sipil dan sejuta orang kehilangan rumahnya, sehingga pengeboman ini menjadi serangan udara paling brutal dan merusak dalam sejarah manusia.

Sebagian besar pertahanan udara dan sipil Jepang terbukti tidak memadai menghadapi serangan ini, sementara 14 pesawat Amerika Serikat dan 96 penerbang hilang.

Responses (2)

Leave a Reply to Matthew374 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *